Showing posts with label Pengasuh. Show all posts
Showing posts with label Pengasuh. Show all posts

Ucapan Terima Kasih Pak Mas'ud Adnan Atas Kehadiran Gus SHolah di Acara Pernikahan Putranya.




Ucapan Terimakasih kepada Kiai, Pejabat Negara, Tokoh Masyarakat dan semua Undangan
Kami sekeluarga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada para kiai, pejabat negara, tokoh masyarakat dan semua para undangan yang hadir atau memberi dukungan pada resepsi pernikanan anak kami Revol Afkar dengan Sitaresmi NRP Puteri S.I.P. Wabil khusus kepada yang terhormat:
1. Romo Dr Ir KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang
2. Ibu Nyai Farida Salahuddin Wahid, Dewan Penasehat PP Muslimat NU
3. Bapak KH Kikin Abdul Hakim dan Bu Nyai, Presiden Direktur BBS dan Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng
4. Bapak Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN dan Bos Jawa Pos Group
5. Bapak Laksamana Madya TNI Hari Bowo, SE, M.Sc, Komisaris Utama Pelindo III dan mantan WAKASAL RI
6. Bapak Drs H Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Wakil Gubernur Jawa Timur
7. Bapak Kombespol Dr Syafiin (Gus Syaf), Mabes Polri dan mantan Kepala Biro Umum Sekretariat Militer Presiden
8. Ibu Dra Khofifah Indar Parawansa, M.Si, Menteri Sosial RI
9. Bapak H Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga RI
10. Bapak Prof Dr M Nuh DEA, mantan Menteri Pendikan Nasional, Menteri Komunikasi dan Informatika dan Rektor ITS Surabaya
11. Bapak Prof Dr Warsono, Rektor Unesa Surabaya
12. Bapak Dr dr Soegeng Waluyo, Wakil Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unair Surabaya
13. Ibu Dra Kartika Hidayati, MM, Wakil Bupati Lamongan
14. Bapak Muzammil Syafii, SH, anggota DPRD Jatim
15. Bapak Kompol Mahmud, Kapolsek Benowo Surabaya
16. Bapak Dr Miftahur Rohim, Wakil Rektor Unhasy Jombang
17. Bapak KH Abdul Wahid, Direktur BBS
18. Bapak HM Faizin, Direktur BBS
19. Bapak Amin Mujib, Direktur BBS
20. Bapak Purwanto, Direktur Utama Malang Post
21. Bapak Kompol Sulkan, Kasubag Dalop Bagop Polrestabes Surabaya,
22. Bapak Kompol Jayadi, Kapolsek Bekasi Selatan Jawa Barat
23. Bapak Arum Sabil, Ketua Umum Dewan Pembina APTRI
24. Bapak Rully Anwar, Bos Joss Today
25. Bapak Ali Mudrik, Direktur Biostv
26. Bapak Wahyu A Priambodo, Direktur Biostv
27. Bapak Nursaifuddin, Pemimpin Redaksi HARIAN BANGSA
28. Bapak Ainur Rofik, Ketua Umum IKAPETE
29. Bapak Abdurrahman Ubaidah, Pemimpin Perusahaan HARIAN BANGSA
30. Ibu Elis, Manajer Marketing Biostv
31. Bapak Mochtar Agus, Ketua Tim Off Air Biostv
32. Bapak Maulana, Redaktur Pelaksana HARIAN BANGSA
34. Bapak Dr KH Husnul Huluq, mantan Sekda Pemkab dan Ketua PCNU Gresik
35. Bapak Abdul Wahid Asa, A’wan PWNU Jawa Timur
36. H Ahmad Sujono, mantan wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur
37. Gus Ahid, mantan anggota DPRD Jawa Timur
38. Bapak Fathorrasyid, mantan ketua DPRD Jawa Timur
39. Prof Dr Mas’ud Said, Staf Khusus Mensos RI
40. Bapak Dwi Ariyadi Kusuma, Staf Khusus Mensos RI
41. Bapak Novariyan, Staf Mensos RI
42. Bapak Jairy, Staf Mensos RI
43. Ustadz Amin, Aspri Gus Solah
43. Ibu Yuni, Manajer Iklan HARIAN BANGSA
44. Bapak Halim Faus, Tim Off Air Biostv
45. Bapak Ekky, Tim Off Air Biostv
46. Bapak Fonda August, Kepala Produksi Biostv
47. Bapak Leres Budi Sentosa, Praktisi Media
48. Bapak Mahrus Ali, Redaktur Duta Masyarakat
49. Semua redaktur, wartawan dan karyawan HARIAN BANGSA, Biostv (BBSTV) dan bangsaonline.com
Kami juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga besar Pondok Pesantren Tebuireng, Pondok Pesantren Asshidiqiyah Ploso Jombang, saudara-saudara dan keluarga kami, juga keluarga mempelai puteri dan semua undangan yang hadir atau mendukung yang tak bisa kami sebut satu persatu.
Semoga Allah SWT membalas jenengan semua dengan anugerah kesehatan, kesuksesan dan keberkahan hidup yang melimpah. Amin Ya Mujibassailin……
sumber :
https://www.facebook.com/masud.adnan.1/posts/10210168880404818
Share:

PC PMII Jombang Ucapkan Selamat atas Dilantiknya PCNU Jombang

PC PMII Jombang Ucapkan Selamat atas Dilantiknya PCNU Jombang

PC PMII Jombang Ucapkan Selamat atas Dilantiknya PCNU Jombang





Ketua umum Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang, Aziz Dwi Prasetyo mengucapkan selamat atas dilantiknya kepengurusan baru PCNU Jombang masa khidmad 2017-2022.
“Pengurus cabang PMII Jombang mengucapkan selamat atas dilantiknya PC NU Jombang masa khidmat 2017-2022, semoga kedepannya mampu mengabdi dan berkhidmat di NU,” ujar Aziz pada Ahad (30/7/2017).
Ia berharap dalam 5 tahun ke depan di bawah kepemimpinan Ketua Tanfidziyah baru yaitu KH Salmanudin Yazin bisa membawa NU Jombang lebih tertata apik. “Semoga mampu membawa NU untuk kepentingan umat,” imbuhnya.
Menurut Aziz, hubungan PMII dan NU tidak bisa dipisahkan oleh apapun, keduanya mempunyai hubungan yang erat. “Salah satu gol di PMII juga adalah meneruskan estafet kepemimpinan di tubuh NU di masa yang akan datang,” terangnya.
Lanjut Aziz, terbukti baik dalam ranah pusat maupun daerah, terutama di Jombang, PMII selalu melahirkan kader terbaiknya untuk berkhidmat dan mengabdi di NU.
“Ya walau bagaimanapun, NU adalah orang tua kita, kalau Ulama atau Kiai sudah yang dawuh, kita sebagai anak ya wajib tawadhu,” jelas pria lulusan STKIP PGRI Jombang ini.
Tepat di hari ini juga, segenap kepengurusan KH. Salmanudin Yazid beserta lembaga-lembaga PCNU dilantik di Pondok Pesantren Babussalam Mojoagung Jombang.
Nampak hadir dalam acara pelantikan itu, Sekjen PBNU H. Helmi Faisal Zaini, utusan PWNU Jatim, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko, dan Wakil Bupati Jombang Hj. Mundjidah Wahab.

Share:

Ceramah di Pesantren al Amin Mojokerto, Gus Sholah: Tetap Ikuti Aswaja an-Nahdliyah!

Ceramah di Pesantren al Amin Mojokerto, Gus Sholah: Tetap Ikuti Aswaja an-Nahdliyah!

Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Salahuddin Wahid saat menjadi pembicara dalam Haflah Iktitamid Durus ke-12 Pondok Pesantren al Amin Mojokerto pada Sabtu (29/07/2017). (Foto: M. Masnun).
Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Salahuddin Wahid saat menjadi pembicara dalam Haflah Iktitamid Durus ke-12 Pondok Pesantren al Amin Mojokerto pada Sabtu (29/07/2017). (Foto: M. Masnun).
Mojokerto- Menjadi pembicara dalam Haflah Ikhtitamid Durus ke-12 Pondok Pesantren al Amin Sooko Mojokerto, Pengasuh Pesantren Tebuireng, Dr.(HC). Ir. KH. Salahuddin Wahid menjelaskan tentang “Meneguhkan Islam Ahlussunah wal Jama’ah an Nahdliyah dalam Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara” pada Sabtu (29/07/2017).
Dalam kesempatan itu juga, Gus Sholah, sapaan akrab beliau, dengan dikawal oleh dua anggota Banser yang berdiri di kanan-kiri beliau, berharap agar lulusan Pondok Pesantren al Amin menjadi orang-orang yang tetap mengikuti Ahlussunah wal Jama’ah an-Nahdliyah ketika sudah masuk di dunia perkuliahan nanti atau ketika sudah berkiprah di masyarakat.
“Negara Singapura dan Australia lebih maju dari Indonesia, pendidikannya lebih bagus. Mereka tidak mengajarkan apa-apa bahkan pelajaran agama tidak diajarkan di dalam kelas,” ujar beliau di hadapan pengasuh, pimpinan, asatidz, wisudawan-wisudawati, walisantri dan para santri.
Beliau menjelaskan bahwa di dua negara tersebut tidak perlu mengajarkan keagamaan di dalam kelas sebab berpotensi mengganggu fokus pendidikan di negara tersebut. Untuk itu, menurut beliau, Indonesia harus selalu mengajarkan pendidikan agama yang benar di jenjang pendidikan yang sekarang makin goyah dengan pengaruh lain.
Gus Sholah juga mengaku sangat bersyukur Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dibubarkan. “Alhamdulillah sekarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah dibubarkan, kalau belum maka tidak mungkin lagi. Akan tersebar pengaruh yang lain,” terang Gus Sholah.
Oleh karena itu, beliau menghimbau agar seluruh santri al Amin yang telah dinyatakan lulus, haruslah waspada dengan adanya organisasi-organisasi yang merembak di seluruh universitas di Indonesia.
Selanjutnya, cucu Pendiri NU, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari itu, juga mengatakan, di dalam Al Quran terdapat banyak ayat-ayat toleransi. Beliau mengutip salah satunya, yaitu ayat ke-6 surat al Kafirun yang memiliki arti “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Dari situ, beliau ingin menyampaikan bahwa Islam benar-benar mengajarkan toleransi.
Beliau memberikan salah satu contoh toleransi Islam yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab ra. yang membuat Perjanjian Syiria yang berisi tentang menjaga keselamatan umat Nasrani yang ada di Yerussalem. Begitu pula yang dilakukan Rasulullah SAW dengan membuat Piagam Madinah yang digunakan untuk menjaga toleransi antara agama Islam, Yahudi, Nasrani, maupun yang belum beragama.
Beliau menasehati santri al Amin agar selalu bertanya kepada orang-orang yang tepat, tentang kehidupan nanti di perkuliahan dan di masyarakat, serta organisasi-organisasi yang dianggap tidak membawa pengaruh yang buruk.
“Kalau masuk organisasi, PMII saja, kalau lebih jauh HMI. Selain itu, organisasi-organisasi radikal yang nantinya akan membawa pengaruh yang tidak bersahabat dengan kita,” jelas beliau. Beliau berpesan, agar nantinya di perkuliahan para santri memilih organisasi yang bersahabat dengan pemikiran mereka, seperti PMII dan HMI.
“Kita berkawan dengan orang Kristen itu boleh, yang penting kita tidak belajar dari agamanya, tetapi kita belajar bagaimana mereka bisa lebih tinggi prestasinya daripada kita,” ucap beliau.
“(Hanya) 30% ilmu (yang) didapatkan dari sekolah, sedangkan lainnya anda cari sendiri di kehidupan dengan bertanya dan membaca,” kata beliau memberikan nasehat. Beliau menjelaskan bahwa dengan membaca, santri-santri akan menjadi tahu semua yang terjadi di dunia baik dalam pendidikan, maupun dalam bidang yang lain.
Haflah Ikhtitamid Durus merupakan agenda tahunan Pondok Pesantren al Amin untuk mewisuda para santri yang sudah dinyatakan purna. Pada haflah yang ke-12 itu, hadir pula Ketua Dewan Pengasuh Pondok Pesantren al Amin, KH. Muthoharun Afif, Ketua Perkumpulan Pendidikan dan Sosial al Amin yang juga Walikota Mojokerto, KH. Mas’ud Yunus, KH. Ahmad Jazuli, dan beberapa kiai dan tokoh masyarakat lainnya.
Share:

Tegas dan Keras! Inilah Maklumat Kebangsaan Tebuireng




Bung Hatta. Namanya diletakkan pada baris pertama dan utama dari Maklumat Kebangsaan Tebuireng. Tepat, karena Bung Hatta-lah yang sedari awal  terusik oleh berkembangnya korupsi di Indonesia. Beliau mengkhawatirkan bahwa korupsi akan dapat ‘membudaya’.  Pada saat itu, banyak orang merasa aneh atas kekhawatiran Bung Hatta ini, dan menganggap Bung Hatta berlebih-lebihan. Namun sekarang orang itu boleh menyesal, bahwa ternyata perasaan tajam Bung Hatta 60 tahun yang lalu itu. Benar. Korupsi benar-benar membudaya di negeri ini.
Itulah sebabnya, sejumlah tokoh lintas agama berkumpul di Pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu (29/7/2017) dengan menerbitkan Maklumat Kebangsaan. Naskah ini dibacakan KH Abdul Hakim Hidayat (Pengasuh Pesantren Al-Hikam Malang), diteruskan kepada KH Salahuddin Wahid (Pengasuh Pesantren Tebuireng) lalu diserahkan kepada Ketua KPK Agus Rahardjo.
Berikut isi lengkap Maklumat Kebangsaan Tebuireng:
  1. Bung Hatta menyatakan bahwa jika sistem hukum lemah dan budaya permisif menjangkiti rakyat, penyakit korupsi akan menjelma sebagai kanker ganas yang menghancurkan tujuan nasional. Kekuatiran itu sudah menjadi kenyataan. Masyarakat menganggap korupsi sebagai hal biasa sehingga tidak memberi sanksi sosial terhadap pejabat yang korup.
  2. Hampir semua pejabat negara sudah tidak merasa bersalah untuk korupsi karena sifat rakus dan ingin cepat kaya sudah merata. Mereka tidak malu karena banyak sekali pejabat negara yang korupsi. Mereka tidak takut kepada Tuhan, karena yang mereka takutkan hanyalah dimiskinkan.
  3. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk karena lembaga penegak hukum lain tidak efektif dalam memberantas korupsi. Sebagai anak kandung reformasi, KPK telah melakukan tugasnya dengan cukup baik. Masyarakat menaruh kepercayaan tinggi terhadap KPK dibanding dengan lembaga negara lainya.
  4. Kini berbagai pihak yang terganggu kepentingannya berusaha melemahkan dan membubarkan KPK.
  5. Kami para tokoh lintas agama menyatakan bahwa KPK sangat diperlukan keberadaannya dan menyatakan dukungan moral terhadap KPK dalam melawan upaya pelemahan dan pembubaran.
  6. Kami memahami bahwa KPK bukan tanpa kekurangan atau kesalahan, berbagai kritik harus mendapat perhatian serius. KPK harus bertekad untuk memperbaiki diri supaya dapat menjadi lembaga yang makin dipercaya dan makin bertanggung jawab.
  7. Kami mengajak masyarakat untuk aktif memerangi korupsi dengan memberi sanksi sosial kepeda pejabat dan pihak terkait lainnya, yang diduga kuat melakukan korupsi.
  8. Kita merasakan terkoyaknya merah putih akibat hilangnya rasa saling percaya dan tumbuhnya rasa saling curiga. Diperlukan kerja keras untuk merajut kembali merah putih yang terkoyak, sehingga saling percaya, saling menghormati, dan saling membantu tumbuh kembali diantara semua warga bangsa tanpa memandang Agama, Etnis, Status Sosial dan Latar belakang politik. (*)
Share:

Dua Harapan Dr. H. Sahid HM untuk Ikapete ke Depan

Dua Harapan Dr. H. Sahid HM untuk Ikapete ke Depan

Ketua Umum Ikapete demisioner Dr. H. Sahid, HM., M.Ag., menyampaikan sambutan dalam Temu Alumni XII di Pesantren Tebuireng pada Sabtu (22/07/2017). (Foto: Kopi Ireng).
Ketua Umum Ikapete demisioner Dr. H. Sahid, HM., M.Ag., menyampaikan sambutan dalam Temu Alumni XII di Pesantren Tebuireng pada Sabtu (22/07/2017). (Foto: Kopi Ireng).
Ketua Umum Ikapete demisioner Dr. H. Sahid, HM., M.Ag., menyampaikan sambutan dalam Temu Alumni XII di Pesantren Tebuireng pada Sabtu (22/07/2017). (Foto: Kopi Ireng).
Tebuireng.online— Ketua Umum Ikapete (Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng), Dr. H. Sahid HM. M.Ag., menyampaikan sambutannya dalam acara Tahlil Akbar, Temu Alumni XII, dan Munas V Ikapete (Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng) di halaman utama Pesantren Tebuireng pada Sabtu (22/07/2017).
Beliau kini sudah berumur 50 tahun dan 26 tahunnya digunakan untuk mengabdi terhadap Pesantren Tebuireng. Belau sejak tahun 1991 sudah ditunjuk menjadi ketua Ikapete Jawa Timur dan kemudian menjadi ketua Ikapete pusat. Pada saat itu kondisi yang ada sangat dinamis. “Kemudian saya ditunjuk 2 periode lagi menjadi IKAPETE pusat,” jelas Dr. Sahid.
“Dan 2 tahun terakhir merasa agak lemah. Dan ternyata saya mengakui kebangkitan Ikapete mengalami kemerosotan,” tambah dosen UIN Sunan Ampel Surabaya itu.
Menurut beliau, secara organisatoris Ikapete sudah terbentuk, meskipun tidak menyeluruh se-Indonesia. “Mungkin ada kelemahan ada cabang yang sudah terbentuk tetapi tidak mau dilantik dengan alasan keuangan.  Padahal kita ini bersama-sama membangkitkan Ikapete,” ajak beliau.
Dr. Sahid berharap ke depan Ikapete yang sudah terbentuk dan terstruktur di dalam Surat Keputusan bisa menyeluruh di seluruh Indonesia dan dapat melaksanakan kegiatan secara baik dan konsisten.
Beliau mengakui, berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Ikapete memang sifatnya adalah act out, di antaranya adalah pelantikan pengurus di Tuban yang dilakukan oleh Ketua Ikapete Jawa Timur yang baru serta melakukan kegiatan yang berbasis ekonomi, yakni melaksanakan pameran ekonomi, baik yang berbasis pertanian maupun industri lokal.
“Dan ternyata direspon baik oleh Bupati yang faktanya banyak pondok pesantren yang tidak melaksanakan kegiatan yang semacam itu,” ungkap Dr. Sahid.
Beliau mengatakan, basis kekuatan Ikapete ke depan bukan hanya mengumpulkan kiai alumni Tebuireng, tetapi bagaimana dapat memberdayakan ekonomi masyarakat sebagaimana yang dicita-citakan oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, Dr. Ir. KH. Salahuddin Wahid.
“Oleh karena itu harapan ke depan adalah terjadi titik temu antara kemampuan intelektual dan pengusaha. Kalau saya hanya bisa mikir, tetapi tidak untuk melaksanakan,” pungkas beliau.
Share:

Gus Sholah Ajak Alumni Sebarluaskan Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari

Gus Sholah Ajak Alumni Sebarluaskan Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari

Dr. (HC). Ir. KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara tahil akbar, temu alumni XII, dan Munas V Ikapete, di Pesantren Tebuireng Jombang, Sabtu (22/07/17). (Foto: Kopi Ireng))
Tebuireng.online- Setelah dibentuk  Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari pada bulan Februari lalu, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, Dr. (HC). Ir. KH. Salahuddin Wahid mengatakan akan menggelar seminar tentang KH. Hasyim Asy’ari pada bulan Oktober mendatang, selain seminar, pihaknya juga akan menerbitkan buku tentang KH. Hasyim Asy’ari.
Hal itu Ia sampaikan pada Orasi Ilmiah dalam acara Tahlil Akbar, Temu Alumni XII, dan Munas V IKAPETE (Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng) yang digelar di Halaman Pesantren Tebuireng Jombang, Sabtu (22/07/17).
Gus Sholah menyayangkan, era ini hanya sedikit orang yang gandrung akan pemikiran Mbah Hasyim yang juga merupakan pendiri organisasi masyarakat terbesar Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).
“Ini dilakukan karena orang sudah tidak banyak lagi melihat pemikiran Mbah Hasyim termasuk juga orang NU, ada juga orang yang membawa nama Mbah Hasyim namun tidak menghargai Mbah Hasyim bahkan ada juga yang berniat untuk merubahnya,” ujar anggota Dewan Etik Mahkamah Konstitusi itu.
Oleh karena itu, Gus Sholah juga mengajak masyarakat khususnya alumni Tebuireng untuk menulis dan mencari naskah yang hendak dibukukan oleh Penerbitan Tebuireng.  “Saya mengajak kawan-kawan untuk menulis buku tentang Mbah Hasyim, menulis naskah yang bisa diterbitkan, oleh karena itu saya meminta kepedulian untuk menulis dan mencari naskah tentang pemikiran Mbah Hasyim,” tegas Gus Sholah di hadapan ratusan alumni Tebuireng.
Selain itu, sebagai bentuk konsennya Pesantren Tebuireng terhadap dunia literasi, Gus Sholah juga menyampaikan bahwa Pesantren Tebuireng sudah memulai kerja sama dengan penerbitan buku di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang berada dalam naungan pondok pesantren seperti Sidogiri. Hal itu dimulai dengan penukaran buku antara Penerbit Tebuireng dengan Sidogiri.
Terakhir, dalam Orasi Ilmiahnya, Gus Sholah berharap Munas V IKAPETE bisa berjalan dengan baik, “Program IKAPETE yang sederhana saja, program kerja itu bukan daftar keinginan, selamat bermunas, selamat bernostalgia,” pungkasnya.
Share:

Ikapete Gelar Tahlil Akbar, Temu Alumni XII, dan Musyawarah Nasional V

Ikapete Gelar Tahlil Akbar, Temu Alumni XII, dan Musyawarah Nasional V

KH. Abdurrahman Bajuri dan KH. Salahuddin Wahid menerima musafahah para alumni usai acara seremonial Temu Alumni XII Ikapete, siang tadi (22/07/2017). (Foto: Masnun).
KH. Abdurrahman Bajuri dan KH. Salahuddin Wahid menerima musafahah para alumni usai acara seremonial Temu Alumni XII Ikapete, siang tadi (22/07/2017). (Foto: Masnun).


Tebuireng.online— Sabtu (22/07/17), Pesantren Tebuireng menjadi ramai meriah. Pasalnya para alumni berbondong-bondong mendatangi saksi sejarah mereka mencari ilmu dulu. Selain bernostalgia, mereka juga menghadiri acara Tahlil Akbar, Temu Alumni XII, dan Munas V Ikapete (Ikatan Alumni Pesantren Tebuireng).
Lebih dari 700 alumni dari berbagai daerah, mulai dari kota sampai pelosok desa hadir dalam acara ini. Ngalap barakah pada KH. Hasyim Asy’ari dan dzurriyah Pesantren Tebuireng menjadi tujuan utama. Napak tilas dan bertemu teman lama semakin membuat mereka semangat untuk hadir.
Acara ini diawali dengan lantunan shalawat oleh Kumpulan Banjari dan Hadrah Tebuireng (Kubah Ireng) yang dipimpin oleh Ustadz Hilmy Muhammad. Berbagai lirik shalawat dan doa dilantunkan. Lebih meriah lagi Kubah Ireng berkolaborasi dengan Qari Internasional alumni Tebuireng dari Gresik, KH. Saiful Munir.
“Alumni Pesantren Tebuireng baik yang di kota maupun di pelosok desa, banyak yang menjadi tokoh nasional, ulama besar, pengusaha sukses dan berbagai profesi lain. Kita yakin bahwa semua ini adalah kekuatan barakah dari Mbah Hasyim, kekuatan doa para kiai dan guru,” ungkap Ketua Panitia, Drs. Ainur Rofiq.
“Ikapete mulai melaksanakan berbagai kegiatan yang berbasis ekonomi, baik yang berbasis pertanian maupun industri lokal. Mudah-mudahan pengasuh memberikan solusi kepada calon ketua Ikapete yang akan datang. Saya berharap kepada pengurus yang akan datang melakukan lompatan-lompatan pemikiran supaya mengejar ketertinggalan di masa lalu,” ungkap Dr. H. Sahid HM., M.Ag., Ketua Umum Ikapete.
Masih dalam rangkaian acara, Nyai Faridah Salahuddin sebagai Ketua Dewan Penasehat LSPT, berkesempatan meresmikan gerakan Rp.10.000,- sebulan peralumni untuk pesantren yang didirikan alumni Tebuireng. Nota kesepakatan ini ditandatangani oleh Ketua Umum Ikapete dan Ketua Dewan Penasehat LSPT disaksikan oleh seluruh alumni yang hadir.
Pengasuh Pesantren Tebuireng, Dr.(HC). Ir. KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah menyampaikan terima kasih kepada panita atas terselenggaranya acara ini. Beliau meminta kepada Ikapete yang ber-Munas, untuk bersungguh membuat program yang dapat direalisasikan. “Buatlah daftar program, bukan daftar keinginan,” kata Gus Sholah.
Istemawanya, pada gelaran temu alumni kali ini, berkesempatan hadir santri Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang masih hidup, KH. Abdurrahman Bajuri. Beliau menjadi salah satu saksi sejarah hidup Mbah Hasyim yang penuh dengan perjuangan, terutama dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Kiai 96 tahun itu menyampaikan wejangan kepada para alumni  agar mengembalikan citra dan kehormatan Tebuireng seperti pada zaman Kiai Hasyim. Beliau juga menyampaikan pesan Hadratussyaikh agar menyukuri nikmat Allah dan memasrahkan segara urusan kepada-Nya.
Acara dilanjutkan dengan berbagai sidang dalam Musyawarah Nasional dan pemilihan ketua panitia. Sore nanti juga akan digelar Tahlil Akbar di Maqbarah Masyayikh Tebuireng yang diikuti oleh seluruh santri dan segenap alumni yang hadir.
Share:

Kabar Gembira, Pahala bagi Para Pecinta Nabi Muhammad SAW

Kabar Gembira, Pahala bagi Para Pecinta Nabi Muhammad SAW

Oleh: Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari
Oleh: Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

Anas bin Malik ra. telah menceritakan bahwa, ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW lalu mengatakan :
مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَا أَعْدَدْتَ لَهَا ؟  قَالَ : مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ. قَالَ : أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
Kapankah datangnya hari kiamat, wahai Rasulullah ?”. Sabda Nabi SAW : ”Apakah yang sudah kamu siapkan untuk hari kiamat?”. Jawabnya: “Saya tidak menyiapkan apa-apa untuk hari kiamat, tidak banyak shalat, tidak banyak puasa, juga tidak banyak shadaqah, akan tetapi saya mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Sabda Nabi SAW: “Kamu akan bersama orang yang kamu cintai”.[1]
(Lelaki di dalam  hadis ini, ada yang mengatakan dia adalah Umar bin Khaththab ra., ada yang mengatakan dia adalah Abu Musa Al Asy’ari ra., ada yang mengatakan dia adalah Abu Dzar ra., dan ada yang mengatakan lainnya).
Diriwayatkan dari Shafwan bin Qudamah ra. berkata: ”Saya telah berhijrah kepada Nabi SAW, saya datang kepada beliau, lalu saya katakan:
يَا رَسُوْلَ اللهِ إنِّيْ أُحِبُّكَ.  قَالَ : اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mencintaimu”. Sabda Nabi SAW: “Seseorang akan bersama orang yang dia cintai”. [2]
Diriwayatkan, bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW lalu berkata :
يَا رَسُوْلَ اللهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَهْلِيْ وَمَالِيْ وَإِنِّيْ لَأَذْكُرُكَ فَمَا أَصْبِرُ حَتَّى أَجِيْءَ فَأَنْظُرُ إِلَيْكَ فَعَـرَفْتُ أَنَّكَ إِذَا دَخَلْتَ اْلجَنَّةَ رُفِعْـتَ مَعَ النَّبِيِّـيْنَ وَإِنْ دَخَلْتُهَا لاَ أَرَاكَ. فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى : وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا. فَقَرَأَهَا عَلَيْهِ
 “Wahai Rasulullah, sungguh engkau adalah orang yang lebih saya cintai dari pada keluarga saya dan harta saya, dan sesungguhnya saya mengingatmu, maka saya tidak sabar sehingga saya datang untuk melihatmu. Lalu saya tahu bahwa engkau, jika masuk surga kelak akan diangkat (di surga atas) bersama para Nabi, dan jika saya masuk surga, saya tidak bisa melihatmu”. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat :“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.[3] Lalu Nabi SAW membacakan ayat ini kepadanya.[4] (Lelaki di dalam hadis ini, dikatakan dia itu adalah Tsauban ra. maula (budak yang dimerdekakan) Rasulullah SAW Ada yang mengatakan, dia itu adalah Abdullah bin Zaid Al Anshari ra. )
Diriwayatkan dalam hadisnya Anas bin Malik ra. juga, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ أَحَبَّنِيْ كَانَ مَعِيْ فِي اْلجَنَّةِ
Barangsiapa mencintai saya, maka dia akan bersama saya di surga”.[5]
Di dalam hadisnya Abdullah bin Mas’ud ra. menyebutkan: “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata:
يَا رَسُـولَ اللَّهِ كَيْفَ تَقُـولُ فِى رَجُـلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seorang lelaki yang mencintai suatu kaum padahal dia belum pernah bertemu mereka ?”. Maka  Rasulullah saw bersabda :“Seseorang akan bersama orang yang dia cintai”.[6]
Maksud hadis diatas adalah bahwa orang yang kurang keshalehannya tapi dia mencintai orang-orang yang lebih lebih sempurna kesalehannya, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka. Sebagaimana dikatakan oleh syair :
أُحِبُّ الصَّالِـحِيْنْ وَلَسْـتُ مِنْـهُمْ  *  لَعَـلِّيْ أَنْ أَنَـالَ بِـهِمْ شَــفَاعَةً
وَ أَكْرَهُ مَنْ بِضَاعَتُهُ اْلمَعَاصِيْ  *  وَ إِنْ كُنَّا سَوَاءً فِى اْلبِضَاعَةِ
Saya mencintai orang-orang shaleh, meskipun saya bukan termasuk golongan mereka, karena saya berharap semoga saya memperoleh syafaat lantaran mereka”.
Dan saya tidak suka orang yang suka bermaksiat, meskipun kami sama-sama suka berbuat maksiat”.
Demikian juga para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin yang mereka itu merupakan pewaris para Nabi, shalawatullahi alaihim ajma’in, maka barangsiapa mencintai mereka, dia akan memperoleh syafaat mereka dan akan dikumpulkan bersama mereka kelak di akhirat dengan idzin Allah.

*Diterjemahkan oleh Ustadz Zainur Ridlo, M.Pd.I. dari kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari 

[1] Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.
[2] Hadis riwayat Imam Thabrani.
[3] An Nisa’ ayat 69.
[4] Hadis riwayat Imam Thabrani.
[5] Hadis diceritakan oleh Al Ashbihani dalam kitab “At Targhib” bersumber dari Anas ra. Lihat buku “Subulul Huda wa Ar Rasyad fi Sirati Khairil Ibad, jilid 11, halaman 430.
[6] Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Share:

Unhasy Resmikan Program Posdaya Berbasis Masjid

Unhasy Resmikan Program Posdaya Berbasis Masjid


posdayaGus Sholah : Unhasy Resmikan Program Posdaya Berbasis Masjid

Gus Sholah : Unhasy Resmikan Program Posdaya Berbasis Masjid

Kamis (26/05/2016), Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng meresmikan program Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) berbasis masjid di Masjid Ulul Albab Tebuireng. Acara ini dihairi oleh  Rektor Unhasy dan Pengasuh Pesantren Tebuireng Dr. Ir. KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) segenap dosen Unhasy, dzuriyah Tebuireng, dan Ketua Posdaya wilayah Jawa Timur, DR. Hj. Mufidah, MA.
“Harapannya, disamping kita kembangkan secara domestik, kita juga akan mengarahkan perkembangan ke Asia,” DR. Miftahur Rachim Syarkun dalam sambutannya mewakili Unhasy. Masjid Ulul Albab didirikan pada tahun 1999 dalam rangka satu abad Pesantren Tebuireng.
Gus Sholah sangat mengapresiasi langkah strategis ini. “Langkah yang sederhana ini mempunyai makna yang besar untuk ke depannya. Saya mendorong kawan-kawan mahasiswa untuk aktif dalam Posdaya. Karena ini merupakan tempat untuk kita belajar. Supaya ketika supaya jangan menjadi barisan pencari kerja. Tapi jadilah barisan yang aktif dalam kegiatan pengabdian di masyarakat,” jelas Gus Sholah.
Beliau juga mengatakan bahwasudah terlalu banyak politisi di Indonesia, bahkan jumlahnya bisa dikatakan mengalami inflasi. Menurut beliau yang masih kurang adalah pengembangan wirausaha di kalangan mahasiswa. Beliau meminta agar para dosen membimbing mahasiswa yang mempunyai kemampuan dan kemauan di dalam kegiatan Posdaya.
Ketua Posdaya Jatim mengatakan, di dalam posdaya ini mahasiswa dilatih untuk berkomunikasi dan berorganisasi, karena kedepannya pemimpin yang dibutuhkan Indonesia adalah pemimpin yang bisa bekerja, bukan pemimpin yang hanya bisa berpidato. Modal yang dibutuhkan dalam Posdaya adalah modal sosial, gotong royong, keikhlasan, kejujuran, dan kedisiplinan.
“Kami tidak berangkat dari masalah sosial, tapi dari kemampuan yang dimiliki di dalam masyarakat,” DR. Hj. Mufidah, MA. Posdaya didirikan pada tahun 2010, dan mulai menggandeng mahasiswa sejak tahun 2011 yang dicetuskan oleh Bapak Haryono, mantan Menteri Kesra dan Ketua BKKBN. “Semoga kita semua mampu memakmurkan masjid dan memberdayakan umat”, harap Hj. Mufidah.
Share:

Dukung KPK Lawan Pansus Angket, Tokoh Lintas Agama Akan Kumpul di Tebuireng

Dukung KPK Lawan Pansus Angket, Tokoh Lintas Agama Akan Kumpul di Tebuireng

GUs Sholah dan sejumlah tokoh lintas agama memberikan dukungan moral ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Kamis (6/7/2017). (Sumber foto: kompas.com)
Tebuireng.online—Jakarta- Dukungan moral untuk KPK yang tengah berhadapan dengan Pansus Angket DPR terus berdatangan. Pada Kamis, (06/07/2017) Sejumlah tokoh lintas agama mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta. Bahkan rencananya akan diadakan pertemuan pada bulan ini di Pesantren Tebuireng menindaklanjuti dukungan itu.
Seperti yang disampaikan KH. Salahuddin Wahid bahwa beliau dan tokoh lintas agama lainnya memberikan dukungan moral untuk lembaga pemberantasan korupsi yang dibentuk era presiden SBY itu.
“Jadi, kami ingin menyatakan dukungan terhadap KPK yang terakhir-terakhir ini mendapatkan tekanan dari berbagai pihak untuk bisa terus maju melawan praktik korupsi dan secara umum penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan di negara kita ini,” kata Gus Sholah di laman kompas.com.
Pengasuh Pesantren Tebuireng ini mengungkapkan, bahwa beliau dan para tokoh lintas agama merencanakan menggelar kegiatan bersama sebagai bentuk ungkapan dukungan terhadap KPK.
Gus Sholah menegaskan, pemberantasan korupsi dan pembentukan KPK merupakan salah satu tuntutan reformasi. Namun, beliau bersama tokoh lintas agama prihatin dengan kondisi saat ini. Korupsi tidak berkurang dan justru makin bertambah banyak. “Yang ditangkap banyak, tapi korupsinya juga makin banyak,” imbuh mantan Aktivis HAM itu.
Di sisi lain, Gus Sholah juga prihatin dengan gejala-gejala perpecahan bangsa. Menurut dia, sudah seharusnya seluruh komponen bangsa bersama-sama memerangi korupsi. Beliau berharap, dukungan dari para tokoh lintas agama dapat menguatkan KPK dalam melawan korupsi.
Sementara itu, Agus Susanto menambahkan, kemungkinan pertemuannya akan dilangsungkan pada bulan ini di Pesantren Tebuireng, Jawa Timur. “Yang akan diundang bukan hanya tokoh lintas agama, tapi juga putra-putri pendiri bangsa ini dari berbagai kalangan,” kata Agus.
Wakil Ketua KPK, La Ode Muhammad Syarif menyatakan, KPK menyambut baik dukungan moral yang diberikan oleh para tokoh lintas agama. “Mereka melihat ketidakharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kemudian masih banyaknya korupsi, dan beliau-beliau juga prihatin kok serangan makin banyak ditujukan kepada komisi yang memberantas korupsi, bukan pada koruptornya,” kata La Ode.
  Novelis Nomor 1 Indonesia, Berbagi Rahasia Menulis Pada Ribuan Santri
Pansus Angket KPK tetap berjalan meski dikritik berbagai pihak. Pansus ini muncul pascapenyidikan kasus korupsi e-KTP oleh KPK yang menyeret sejumlah anggota DPR. Para pakar yang tergabung dalam Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN) menilai, pembentukan Pansus Hak Angket KPK oleh DPR RI cacat hukum.
APHTN-HAN bersama Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas mengkaji soal pembentukan Pansus hak angket. Kajian yang ditandatangani 132 pakar hukum tata negara seluruh Indonesia tersebut kemudian akan diserahkan ke KPK.
Share:

Viral Foto Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Ini Tanggapan Cucu Beliau

Viral Foto Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Ini Tanggapan Cucu Beliau

Foto asli Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang sekarang sedang viral di media sosial
Foto Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang viral sepekan terakhir di media sosial instagram dan facebook mendapat tanggapan beragam dari nitizen. Sebagian nitizen ada yang mempercayai kebenaran foto tersebut, dan tidak sedikit pula yang mempertanyakan sumber dari foto hitam putih Mbah Hasyim yang diketahui dibagikan pertama kali oleh Muhammad al-Mubasyir  dari Sumenep, Madura, melalui akun instagram @al_mubas itu.
Akun Instagram @al_mubas milik Muhammad al-Mubasyir yang membagikan pertama kali foto itu.
Hal itu kemudian dibenarkan oleh akun facebook Muhammad al-Faiz yang merupakan kakak Muhammad al-Mubasyir. Muhammad al-Faiz menerangkan bahwa foto yang Ramai diperbicangkan itu didapat oleh adiknya pada tanggal 2 Syawal 1438 H lalu, saat bongkar-bongkar arsip peninggalan Kakeknya, KH. Moh. Amir Ilyas, salah seorang pengasuh Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura, murid langsung Hadratussyaikh dan kakak kandung KH. Ashiem Ilyas, pencipta lambang Pesantren Tebuireng.
“Adik saya bilang, ‘Kak, saya bagikan di medsos, ya?’ Saya jawab, ‘Ah, ndak usah, sudah banyak yang punya kok’. Dia maksa. Eh, ternyata memang masih banyak yang belum pernah lihat foto serupa sebelumnya. Untuk itu, saya bantu scan-kan, plus tulisan tangan di balik foto yang menerangkan bahwa sosok itu adalah Hadratussyaikh. Demikian asal-usulnya, semoga manfaat dan menambah kecintaan kita,” tulis Muhammad al-Faiz di laman facebook-nya tanggal 03 Juli 2017.
Namun, akun instagram @indonesiabertauhid sempat mem-posting ulang, tetapi dengan foto yang salah dan tetap menyandarkan sumbernya dari Muhammad al-Mubasyir. Dalam foto yang diunggah @indonesiabertauhid itu, terlihat seorang berjubah dan ber-imamah difoto dari arah samping kiri, yang diasumsikan sebagai Kiai Hasyim. Merasa nama adiknya dicatut, Muhammad al-Faiz memberikan klarifikasi kebenaran foto yang sebenarnya dimaksud.
Salah repost oleh @indonesiabertauhid yang sudah diklarifikasi kesalahannya oleh Muhammad al-Faiz kakak Muhammad al-Mubasyir.
“Alhamdulillah, foto Hadratussyaikh yang saya bagikan tersebar luas. Banyak yang membagikan ulang. Namun, sayang sekali, rupanya tidak semua (dari) mereka teliti, atau mungkin, jujur dalam me-repost. Perlu saya sampaikan kembali bahwa foto beliau yang saya punya dan saya bagikan hanya satu, yaitu foto nomor 1 di bawah (merujuk pada foto Kiai Hasyim menghadap ke depan) ini yang saya beri keterangan, atau yang saya posting di status sebelumnya, atau yang memperlihatkan Hadratussyaikh memegang tongkat (?),” tulisnya di akun facebook-nya pada pagi tadi (05/07/2017).
Selain foto itu, ia merasa tidak menyebarkan dan tidak tahu sumbernya, termasuk foto yang diunggah oleh akun IG @indonesiabertauhid . “Saya rasa ini penting untuk disampaikan agar tidak sembarang menisbatkan kepada yang bukan sumbernya, terlebih jika sesuatu yang dinisbatkan (itu) tidak benar, juga khawatir ada orang yang datang ke saya untuk melihat langsung fisik foto beliau dalam beraneka pose itu, padahal yang saya punya cuma satu. Trims,” lanjutnya setelah itu.
Kepala Unit Penerbitan Pesantren Tebuireng, Ahmad Faozan, berangkat dari permintaan sejumlah alumni, mengklarifikasi kebenaran foto tersebut kepada salah satu cucu Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Irfan Yusuf, putra KH. M. Yusuf Hasyim. Gus Irfan, sapaan akrab beliau, meyakini bahwa benar foto itu adalah Hadratussyaikh. “Gambar paling sesuai dengan aslinya menjelang beliau wafat,” kata Gus Irfan.
Terkait hal tersebut, Tebuireng Online juga menghubungi cucu Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang lain, KH. Agus M Zaki yang juga mengamini kebenaran foto tersebut. Dalam laman akun facebook-nya, Gus Zaki, sapaan akrab beliau, menulis keterangan yang membenarkan adanya foto Mbah Hasyim yang sedang viral itu. Beliau menerangkan bahwa foto yang sedang viral saat ini sama persis seperti yang ditunjukkan oleh almarhum KH Yusuf Hasyim sebelas tahun yang lalu.
“Sedang ramai foto ini, 11 tahun yang lalu, sebelum KH. Yusuf Hasyim wafat, beliau mengajak saya ke Dalem Ijo yang tepat berada di utara rumah orang tua saya. Di Dalem Ijo itu, beliau menunjukkan sebuah foto ukuran besar dan beliau berkata ‘Ini foto Kiai Hasyim’. Kebetulan yang ditunjukkan tidak seutuh seperti dalam foto yang baru saja muncul di medsos. Beliau juga berkata bahwa foto inilah yang paling beliau suka,” terang Gus Zaki pada Senin (02/07/2017) di laman facebook-nya.
Gus Zaki juga menceritakan beberapa bulan sebelum wafat, Kiai Khotib Umar Jember, berkesempatan mampir ke rumah beliau dan memberikan foto yang sama dengan milik KH. Yusuf Hasyim. “Akhirnya, muncul pula yang utuh dan syukran (terima kasih) kepada yang meng-upload-nya,” lanjut Gus Zaki.
Konon, foto tersebut diambil diam-diam, karena Kiai Hasyim, infonya, tidak suka berfoto. Sama dengan menantu beliau, Kiai Maksum Aly, pengarang al-Amtsilat at-Tasrifiyah, yang membakar semua foto beliau sebelum wafat.
Tentang lokasi foto itu diambil, Gus Zaki tidak mengetahui secara pasti. Namun,  jika kembali ke Tebuireng tempo dulu, Gus Zaki menerangkan, komplek F, G, H, I dan lainnya yang berada di selatan Masjid Tebuireng, mempunyai bentuk pintu model kupu tarung yang persis seperti yang ada di foto itu. “Sekarang yang tersisa hanya komplek Y dan K yang pintunya masih seperti itu,” tambah Pengasuh Pesantren al-Masruriyah Tebuireng itu.
“Pertanyaannya, apakah komplek-komplek itu sudah ada sejak zaman kiai Hasyim? Jika tidak, pikiran saya melayang ke  Pesantren Salafiyah di Kapu Kediri tempat mertua beliau Kiai Hasan Muhyi  tinggal.  Di utara Masjid Pondok Kapu, ada bangunan yang sangat mirip dengan yang ada dalam foto ini. Bangunan itu sekarang masih ada dan menjadi madrasah diniyah, Wallahu a’lam bisshowab,” pungkas beliau dalam status itu.
Tentang foto yang diunggah oleh akun IG @indonesiabertauhid, Gus Zaki merasa tidak yakin kalau itu adalah Mbah Hasyim. “Foto yang sebelah kanan, saya kok ragu kalau itu kiai Hasyim Asy’ari,” tulis beliau di kolom komentar status Muhammad al-Faiz sebagai klarifikasi atas kesalahan posting oleh @indonesiabertauhid.
Hingga sekarang foto yang sudah dibenarkan oleh dua cucu Hadratussyaikh itu, masih menjadi perbincangan hangat di kalangan santri dan alumni Pesantren Tebuireng, serta Nahdliyin dan umat Islam. Beberapa akun facebook juga membagikannya seperti Ala_NU, MusliModerat, Masjid Tebuireng, Fiqh Menjawab, dan beberapa akun lainnya. Viralnya foto ini juga terjadi di media sosial WhatsApp dan Instagram.
Share:

Gus Sholah Sebut Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Sudah Banyak Dilupakan

Gus Sholah
Gus Sholah

Masih dalam suasana Hari Raya Idul Fitri 1438 H., Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) berkesempatan memberikan nasihat dalam acara Halal bi Halal dan Haul Masyayikh Pesantren Tebuireng yang diadakan oleh IKAPETE (Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng) DKI Jakarta dan sekitarnya.
Acara yang berjalan khidmat ini mengusung tema “Melalui Halal bi Halal Kita Jalin Semangat Silaturahim yang Lebih Erat lagi antar Alumni Pesantren Tebuireng”. Hadir dalam acara tersebut para alumni, ulama, kiai, dan pengurus pondok putra/putri di Masjid an-Nur Cipete Jakarta Selatan pada Ahad (02/07/17).
Dalam kesempatan ini, Gus Sholah menyampaikan beberapa hal, termasuk mengenai informasi capaian, dan perkembangan Pesantren Tebuireng. Menurut beliau, Pesantren Tebuireng saat ini sedang meningkatkan kualitas maupun kuantitas. Salah satu caranya dengan membuka cabang pesantren di luar pulau Jawa. “Yang memprihatinkan itu yang di luar pulau Jawa,” tutur beliau.
Mantan aktivis HAM tersebut, bercerita tentang keadaan IAIN Ambon yan hanya mempunyai 20 persen mahasiswa yang mampu membaca Al-Quran dengan baik dan benar. “Jika yang di IAIN saja segitu, apalagi yang bukan,” ungkap Gus Sholah. Karena alasan itulah, cucu Hadratussyikh KH. Hasyim Asy’ari ini membuka cabang Pesantren Tebuireng di Ambon beberapa waktu lalu.
Pada kesempatan ini pula Gus Sholah menyampaikan kepada para hadirin beberapa pemikiran KH. Hasyim Asy’ari yang mulai dilupakan oleh para pengikut beliau, khususnya pada jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Beliau menjelaskan secara rinci bagaimana peran KH. Hasyim Asy’ari dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan Indonesia.
Gus Sholah menjelaskan, secara tidak langsung peran KH. Hasyim Asy’ari dilakukan oleh keturunan dan santri beliau. “Pemikiran KH. Hasyim tersampaikan melalui KH. Wahid Hasyim saat jadi menteri agama, adapula melalui KH. Ahmad Shiddiq saat menerima Pancasila sebagai dasar negara yang mana beliau adalah santri mbah Hasyim,” ungkap suami Nyai Hj. Farida Salahuddin Wahid itu.
Rektor Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng Jombang ini juga menyampaikan keprihatinan beliau terhadap kondisi Indonesia saat ini. Menurutnya, ada beberapa pihak yang sekarang seolah-olah ingin membenturkan antara Indonesia dengan Islam.
“Mana yang benar? Saya warga negara Indonesia yang beragama Islam atau bukan? Kalau saya, lebih baik, saya warga negara Indonesia yang beragama Islam dan sebaliknya,” tegas beliau pada para hadirin halal bi halal.
Acara  ini diakhiri doa dan musafahah bersama pengasuh, masyayikh, serta para anggota IKAPETE DKI Jakarta dan sekitarnya. Seusai acar,  para hadirin dipersilakan untuk menikmati hidangan dan jajanan khas Jakarta yang disediakan oleh panitia.
Share:

Keindonesiaan dan Keislaman

gus sholah
KH. Salahuddin Wahid saat menyampaikan sambutan dalam Pembukaan Seminar Pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Gedung MPR RI Jakarta, pada Sabtu (06/05/2017). (Foto: Dokumentasi panitia)
Di dalam BPUPKI (Mei-Juni 1945), muncullah pertentangan antara keindonesiaan dan keislaman, yakni ketika kalangan ”nasionalis Islam” mengusulkan dasar negara Islam dan kalangan ”nasionalis Pancasila” mengusulkan dasar negara Pancasila. Komprominya ialah ”Piagam Jakarta”, yang di dalamnya terkandung dasar negara Pancasila dengan sila pertama ”Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”.
Ternyata kompromi itu masih ditolak kalangan ”non-Islam” pada 17 Agustus 1945. Maka, para tokoh Islam dengan lapang dada menyetujui dicoretnya anak kalimat ”dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dan menyetujui rumusan: ”Ketuhanan Yang Maha Esa”. Itulah keberhasilan awal dari upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman.
Keberhasilan kedua upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman ialah ketika para ulama di bawah pimpinan KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad (22 Oktober 1945), yang mengilhami dan mendorong para pemuda Muslim untuk bertempur melawan tentara Sekutu pada 10 November 1945. Jihad, sebuah istilah agama, digunakan untuk perjuangan bersifat kebangsaan.
Para tokoh Islam berhasil dalam perjuangan mendirikan Departemen Agama pada Januari 1946. Itu adalah keberhasilan ketiga upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman. Pada 1951, Menteri Agama KH. A Wahid Hasyim dan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Bahder Johan (keduanya dari Partai Masyumi) membuat nota kesepahaman tentang pendirian madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, dan madrasah aliyah. Ini adalah keberhasilan keempat dalam memadukan keindonesiaan dan keislaman, yang memberi tempat bagi pendidikan Islam di dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan Islam dalam bentuk pesantren sebenarnya sudah aktif 500 tahun sebelum Belanda mendirikan sekolah di Hindia Belanda pada 1840, yang menjadi cikal bakal pendidikan nasional Indonesia.
Menerima asas Pancasila
Pertentangan antara keindonesiaan dan keislaman muncul kembali ketika partai-partai Islam (Masyumi, Partai NU, PSII, Perti, AKUI) memperjuangkan dasar negara Islam dalam Konstituante pada 1956-1959. Perjuangan itu gagal, karena kalah dalam pemungutan suara.
Pertentangan antara keindonesiaan dan keislaman berlanjut dalam Pemilu 1971, ketika partai-partai Islam (Partai NU, Parmusi, PSII, dan Perti) berkampanye untuk memperjuangkan dasar negara Islam. ABRI dan aparat pemerintah Orde Baru berjuang untuk mengalahkan partai-partai Islam dengan segala cara. Kursi yang diperoleh partai-partai Islam jauh di bawah jumlah kursi pada Pemilu 1955. Berarti kedudukan partai-partai Islam di dalam DPR amat lemah.
Pada 1973 dilakukan pembahasan terhadap RUU Perkawinan, yang beberapa pasal di dalamnya dianggap oleh para ulama bertentangan dengan hukum Islam. Yang paling penting ialah Pasal 2, yang rumusan awalnya ialah ”perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut UU ini”. Syuriah PBNU yang dipimpin Rais Aam KH. Bisri Syansuri (murid KH. Hasyim Asy’ari) menolak rumusan tersebut dan mengusulkan supaya diganti menjadi ”perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya”. Kalangan non-Islam tentu saja menolak usul tersebut karena hal itu berarti menerima syariat Islam yang partikular ke dalam sistem perundang-undangan kita. Presiden Soeharto menyetujui usulan para ulama itu. Ini adalah keberhasilan kelima dalam upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman.
Pemerintah pada awal 1980-an berusaha supaya Pancasila menjadi satu-satunya asas bagi parpol dan ormas yang ada di Indonesia. Menghadapi situasi seperti di atas, Syuriah PBNU membentuk sebuah tim untuk mengkaji ”hubungan antara Islam dan Pancasila”. Tim terdiri atas sejumlah ulama mumpuni yang dipimpin KH. Ahmad Siddiq, alumnus Pesantren Tebuireng yang pernah mengaji langsung kepada KH. Hasyim Asy’ari. Berdasar dokumen ”Hubungan Islam Pancasila” yang disusun tim di atas, Muktamar NU 1984 di Situbondo memutuskan untuk menerima secara resmi Pancasila sebagai dasar negara. Langkah itu lalu diikuti oleh PPP dan semua ormas Islam, kecuali beberapa ormas yang jumlahnya amat sedikit. Ini adalah keberhasilan keenam dari upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman.
Pada 1989, DPR membahas RUU Peradilan Agama sebagai lanjutan dari UU No 14/1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Kembali muncul konflik antara keindonesiaan dan keislaman sehingga terjadi perdebatan panas antara yang menyetujui dan menolak RUU tersebut. Pada 29 Desember 1989, RUU tersebut disetujui menjadi UU No 7/1989. Muktamar NU 1989 di Pesantren Krapyak DI Yogyakarta menghargai pengesahan UU tersebut. Ini adalah keberhasilan ketujuh dari upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman.
Setelah itu, masih terdapat banyak lagi keberhasilan dalam memadukan keindonesiaan dan keislaman, seperti UU Perbankan Syariah, UU Haji, dan UU Wakaf. Selain itu, UU Sistem Pendidikan Nasional (2003) memasukkan pesantren ke dalam nomenklatur pendidikan Indonesia sehingga memberikan peluang lebih luas bagi pesantren untuk mengembangkan diri. Di dalam masyarakat kini tampak peningkatan minat masyarakat untuk mengirim siswa ke pesantren dan juga minat untuk mendirikan pesantren. Jumlah pesantren yang pada 1999 hampir 10.000 kini mendekati angka 30.000, yang keseluruhannya adalah milik swasta.
Kondisi mutakhir
Saat ini ada gejala munculnya kembali konflik antara keindonesiaan dan keislaman. Gejala itu terjadi dalam kaitan pemilihan gubernur DKI Jakarta. Ada kelompok yang menganggap bahwa merekalah yang ”paling Islam” dan sebaliknya juga ada kelompok yang menganggap bahwa merekalah yang ”paling Indonesia”. Yang memilih Ahok-Djarot dianggap anti-Islam dan munafik, sedangkan yang memilih Anies-Sandi dianggap anti-Indonesia, intoleran, dan anti-kebhinekaan. Kedua anggapan itu keliru.
Kalau kita pelajari kembali proses penyusunan UUD pada 1945, ada keinginan tokoh-tokoh Islam supaya presiden RI adalah orang Indonesia asli dan beragama Islam. Setelah melalui musyawarah, tokoh-tokoh Islam yang menyusun UUD menyetujui bahwa syarat ”harus beragama Islam” itu dibatalkan. Kesediaan tokoh dan umat Islam menghapus syarat harus beragama Islam bagi presiden sebenarnya sudah menunjukkan toleransi mereka.
Akan tetapi, mereka yang tidak memilih non-Muslim karena alasan keagamaan tidak bisa dianggap sebagai orang yang tidak toleran atau melanggar UUD atau merusak kebhinekaan. Itu didasarkan pada Pasal 29 Ayat 2 UUD 1945. Yang perlu dijaga ialah cara menyampaikan pendapat itu, jangan sampai memakai bahasa yang menyinggung atau mengandung nada kebencian. Juga perlu diperhatikan tempat dan waktu dalam menyampaikan pendapat tersebut.
Sebenarnya konflik dalam kaitan pemilihan gubernur DKI Jakarta bukanlah antara umat Islam dan umat non-Islam. Akan tetapi, justru terjadi antara kelompok dalam umat Islam: antara yang menyetujui calon non-Muslim dan yang menolak calon non-Muslim. Perbedaan pandangan itu terjadi karena perbedaan penafsiran terhadap Surat Al-Maidah Ayat 51 dan sejumlah surat lain.
Di dalam kalangan Islam sejak abad pertama Hijriah sudah terdapat dua aliran besar dalam menafsirkan ayat-ayat suci. Aliran pertama berpendapat bahwa syariat Islam bersifat dogmatis dengan berpegang pada teks nash murni tanpa menggunakan potensi akal. Tokoh utama aliran ini adalah Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas, dan Amr bin Ash. Aliran kedua berpendapat bahwa syariat itu bersifat rasional, maka dalam menafsirkan teks suci, kita perlu mengoptimalkan penggunaan potensi akal. Tokoh-tokohnya ialah Abdullah bin Mas’ud, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib. Menyikapi adanya dua kelompok seperti di atas, kedua pihak harus saling menghormati pilihan masing-masing. Tidak perlu saling menyalahkan, saling menyerang, atau saling mengejek.
Konflik keindonesiaan dan keislaman itu mungkin meluas pada Pilkada 2018. Kalau pada Pilpres 2019 konflik semacam itu masih terjadi, hal itu berpotensi mengancam persatuan Indonesia. Perlu ada upaya untuk meredamnya. Perlu dilakukan dialog antarkelompok di dalam Islam maupun dengan kalangan agama lain untuk meredamnya. Dalam dialog itu perlu dibahas dengan rinci apa yang dimaksud dengan ”politisasi agama”, apa yang dimaksud dengan ”isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)”. Dialog itu harus dilakukan dengan hati dan kepala dingin supaya dapat menghasilkan kesepakatan yang bisa diikuti dalam praksis sehari-hari. Memang perlu waktu yang cukup untuk bisa mendinginkan suasana.
Pertanyaannya: siapa pihak yang akan memprakarsai dialog itu dan siapa tokoh yang akan mewakili kedua pihak? Berapa jumlahnya? Kapan saat yang tepat untuk memulai dialog? Di mana dialog itu diadakan? Pihak yang memprakarsai dialog ialah pihak yang dapat diterima oleh kedua kelompok. Ramadhan dan Syawal adalah saat yang tepat untuk mengadakan dialog. Tempatnya harus mendapat persetujuan kedua kelompok. Gedung MPR dan rumah di Jalan Imam Bonjol tempat para pendiri merumuskan naskah proklamasi pada Agustus 1945 dapat dijadikan alternatif tempat dialog diadakan.
Dalam dialog itu harus disampaikan secara jelas dan terbuka apa saja keinginan kedua kelompok dan apa saja yang tidak diinginkan oleh kedua kelompok. Sejumlah keberhasilan memadukan keindonesiaan dan keislaman yang telah menjadi modal berharga bangsa Indonesia harus menjadi acuan di dalam dialog tersebut. Kelompok yang seusai putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara terhadap Ahok mengeluarkan seruan untuk menjaga keindonesiaan perlu memahami bahwa yang juga perlu dijaga adalah keterpaduan keindonesiaan dan keislaman karena itu adalah faktor utama persatuan Indonesia.

*Tulisan ini disampaikan KH. Salahuddin Wahid dalam Pembukaan Seminar Pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Gedung Nusantara V Komplek MPR RI Jakarta pada 06 Mei 2017, dimuat Harian Kompas pada 16 Mei 2017, dan dimuat ulang di media tebuireng.online untuk kepentingan pendidikan.
Share:

Kewajiban Iman kepada Nabi Muhammad SAW

Oleh: Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari
k.h hasyim asy'ari
k.h hasyim asy'ari

 
Setelah mengenal Allah SWT dan beriman kepada-Nya, setiap mukallaf wajib beriman kepada Rasulullah SAW dan mempercayai apa yang dibawa dari Tuhannya. (Karena beriman kepada Rasulullah SAW dan kepada semua Rasul merupakan salah satu rukun iman yang enam. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Rasulullah SAW. ketika menjawab pertanyaan Jibril as. dalam sebuah hadis yang panjang, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahihnya).
Allah Ta’ala berfirman :
فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.[1]
Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang”[2].
Allah Ta’ala berfirman :
فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُون.
“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”.[3]
Allah Ta’ala berfirman :
وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَعِيرًا.
“Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala”. [4]
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra. beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda :
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَيُؤْمِنُوا بِى وَبِمَا جِئْتُ بِهِ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
“Saya diperintahkan oleh Allah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa, tidak ada tuhan yang wajib disembah selain Allah dan beriman kepada-Ku dan beriman kepada apa yang saya bawa. Jika mereka melakukan itu, maka terlindungilah darah mereka dariku, dan hisab mereka diserahkan kepada Allah”.[5]
Maka beriman kepada Nabi Muhammad SAW adalah fardlu ain (wajib bagi setiap muslim), dan tidak sempurna iman (seorang muslim) secara syar’i kecuali dengan beriman kepada Nabi SAW dan tidak sah Islamnya kecuali dengan beriman kepadanya SAW
Adapun makna beriman kepada Nabi Muhammad SAW adalah dengan mempercayai kenabiannya dan kerasulannya, dan mempercayai semua yang dibawa dari Allah, serta mempercayai apa saja yang disabdakannya. Adapun persaksian lisan yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah adalah merupakan ungkapan yang sesuai dengan keyakinan hati yang mempercayai kerasulan itu. Maka jika keyakinan hati yang mempercayai kerasulan itu bersatu dengan ucapan persaksian lisan, maka sempurnalah iman dan keyakinannya.
Diceritakan dalam sebuah hadisnya Jibril as. ketika berkata kepada Nabi SAW:
أَخْبِرْنِى عَنِ الإِسْلاَمِ ! أَنَّهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ …  
”Ceritakanlah kepada saya tentang Islam!”. Lalu Nabi SAW bersabda : ”Hendaklah kamu bersaksi bahwa, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah….”. [6]
Kemudian Jibril as. menanyakan tentang “iman”. Jawab beliau SAW :
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِه ….
“Hendaklah kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para Rasul-Nya … “. [7]
Dalam hadis di atas, Nabi SAW telah menetapkan bahwa, iman kepada Nabi SAW membutuhkan keyakinan dalam hati. Demikian juga Islam membutuhkan pengucapan dengan lisan. Maka persaksian dengan lisan tanpa keyakinan dalam hati adalah kemunafikan yang nyata, wal ‘iyadzu billah. Allah Ta’ala berfirman :
إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آَمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ
“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui, bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti”.[8]

[1] At Taghabun ayat 8.
[2] Al Fath ayat 8 – 9
[3] Al A’raf ayat 158.
[4] Al Fath ayat 13.
[5] Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.
[6] Hadis riwayat Imam Muslim.
[7] Idem
[8] Al Munafiqun ayat 1 -3.

*Diterjemahkan oleh Ustadz Zainur Ridlo, M.Pd.I. dari kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari
Share:

Gus Sholah Ajak Jaga Spirit Ramadhan

gus sholah
Gus Sholah


Kaum muslimin telah rampung menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Namun spirit puasa hendaknya tetap dilanjutkan pada bulan berikutnya.
Ajakan ini disampaikan KH. Salahuddin Wahid selaku Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, Sabtu (01/07/2017) pagi. Hal itu disampaikan Gus Sholah, sapaan akrabnya pada acara silaturahim dan halal bihalal bersama pengasuh dengan seluruh dewan guru dan karyawan pesantren setempat.
“Kita lanjutkan dengan puasa yang lain,” kata adik kandung KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut.
Puasa yang dimaksud adalah puasa batin dan pikiran yang tidak semata kegiatan fisik berupa menahan makan dan minum. “Itulah yang dapat kita petik dari puasa sebulan lalu,” kata cucu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tersebut.
Bagi putra pahlawan nasional KH. Wahid Hasyim ini, melanjutkan puasa seperti itu tidaklah mudah. “Akan tetapi, itulah makna puasa yang sesungguhnya,” ujarnya.
Gus Sholah tidak bisa menyembunyikan keresahannya lantaran justru kalau Ramadhan, ada saja pejabat yang melakukan perbuatan menyimpang. “Bulan Ramadhan kok malah tertangkap KPK,” sergahnya.
Mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini menandaskan bahwa para pejabat dan wakil rakyat yang tertangkap mungkin saja tengah menjalankan puasa. “Tapi yang puasa hanya mulutnya,” tukasnya.
Oleh sebab itu, umat Islam harus terus menjaga spirit puasa usai Ramadhan. “Agar mampu meraih derajat sebagai hamba yang bertakwa,” pungkasnya.
Share:

Gus Sholah Puasa dan Ibadah Sosial


gus sholah
Gus Sholah




Oleh: KH. Dr. Ir. Salahuddin Wahid

Alkisah, suatu ketika Nabi Musa berjalan menuju Bukit Sinai tempat di mana ia menerima perintah-perintah Tuhan.
Dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang abid (ahli ibadah) yang sedang uzlah (menjauh dari keramaian). Sang abid yang tahu bahwa Nabi Musa akan menghadap Allah SWT memohon supaya ditanyakan di surga tingkat berapa ia nanti akan ditempatkan di akhirat. Nabi Musa bertanya bagaimana sang abid itu begitu yakin akan masuk surga. Sang abid menjawab, ia sudah 40 tahun mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia. Ia tidak pernah berbuat dosa, hanya berzikir dan beribadah kepada Allah.
Nabi Musa melapor kepada Allah bahwa di tengah perjalanan ia bertemu abid yang mohon jawaban di surga tingkat berapakah ia akan ditempatkan. Jawab Allah: sampaikan kepadanya bahwa tempatnya di neraka.
Nabi Musa pulang dan menemui sang abid yang dengan semangat dan penuh optimisme lalu bertanya, di lantai berapa tempatnya di surga. Nabi Musa lama berdiam diri karena sulit menjawab. Lalu Nabi Musa menjawab bahwa abid itu harus sabar karena akan ditempatkan di neraka.
Sang abid tak percaya dirinya yang sudah beribadah selama 40 tahun harus masuk neraka. Ia lalu berkata, mungkin Nabi Musa salah dengar dan mengusulkan  Nabi Musa menghadap Allah lagi dan memastikan di surga tingkat berapa abid itu akan ditempatkan. Nabi Musa, yang berpikir mungkin dirinya salah dengar, menghadap Allah lagi.
Nabi Musa matur bahwa ia ingin kejelasan apa benar sang abid akan dimasukkan ke neraka? Jawab Allah, katakan bahwa tempatnya nanti di surga. Tadinya Aku mau menempatkannya di neraka karena Aku menciptakan manusia bukan untuk bersikap egoistis, termasuk karena alasan spiritual. Aku menciptakan manusia untuk membantu manusia lain. Abid itu bukan mendekatkan dirinya pada-Ku, tetapi melarikan diri dari kehidupan yang nyata.
Ya Allah, secepat itukah keputusan-Mu berubah? Jawab Allah, pada saat engkau menuju ke sini lagi, Abid itu tersungkur dan menangis tersedu-sedu. Ia memohon kepada-Ku kalau ia ditempatkan di neraka, supaya tubuhnya dijadikan sebesar neraka, supaya tidak ada orang lain yang masuk ke dalam neraka kecuali dirinya. Ketika memohon seperti itu, ia tidak egoistis lagi, tetapi telah mementingkan orang lain.
Ibadah sosial
Pesan dari kisah di atas ialah bahwa  ibadah mahda (ritual) dan ibadah sosial tak dapat dipisahkan, keduanya harus dijalankan. Kita tak boleh hanya menjalankan salah satunya. Banyak kita lihat orang yang rajin dan tekun menjalankan ibadah mahda, tetapi melalaikan ibadah sosial. Sebaliknya ada orang yang melalaikan ibadah mahda, seperti shalat, puasa, zakat, haji, tetapi aktif dalam ibadah sosial, seperti membantu kaum lemah atau ibadah sosial lain.
Ibadah mahda yang bersifat hubungan pribadi antara manusia dan Allah  adalah ibadah yang pahalanya untuk diri sendiri. Sementara ibadah sosial itu sifatnya memang hubungan antarmanusia, tetapi juga mengandung hubungan dengan Allah.
Menarik untuk diperhatikan, Islam mengatur bahwa ibadah mahda bisa diganti dengan amal sosial, sebagai contoh bahwa orang yang tidak kuat untuk berpuasa karena alasan yang benar bisa mengganti puasa itu dengan membayar fidyah, tetapi orang yang tidak membayar zakat tidak bisa menggantinya dengan shalat atau puasa.
Puasa Ramadhan sebagai ibadah mahda diharapkan memberi dampak berupa ibadah sosial bagi yang berpuasa. Dalam berpuasa, kita merasakan lapar yang bersifat sementara karena setelah tiba waktu maghrib kita bisa makan dan minum. Dengan merasakan lapar bersifat sementara itu, diharapkan kita bisa merasakan beratnya rasa lapar permanen yang dirasakan oleh orang yang tidak punya cukup uang untuk membeli makanan. Dampak yang diharapkan ialah kita mau membantu orang yang kekurangan. Namun, tidak semua orang berpuasa Ramadhan bisa memperoleh dampak positif itu.
Dalam surah Al-Ma’un ditentukan orang yang mendustakan agama ialah orang mengusir anak yatim dan tak menganjurkan (tentu juga melakukan) memberi makan orang miskin. Dan juga ditentukan bahwa celakalah orang yang shalat, tetapi melalaikan shalatnya, yaitu orang yang riya (yang ingin dipuji) dan enggan bersedekah. Surah ini seyogianya menggarisbawahi dampak positif puasa yang berbentuk kepedulian terhadap orang yang sulit memperoleh makanan.
Kondisi terkini
Berdasarkan data yang ada, di Indonesia masih banyak rakyat bergizi buruk atau kekurangan gizi, belasan persen dari jumlah penduduk. Dan, tampaknya banyak umat Islam yang mampu secara ekonomi belum membantu kaum fakir sebagaimana mestinya. Mungkin juga tidak banyak yang bertanya kepada dirinya sendiri apakah dia termasuk orang yang bisa disebut sebagai pendusta agama karena tidak memberi makan orang kekurangan gizi yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.
Saya ingin mengemukakan dua fakta sebagai gambaran kondisi kita. Menurut penelitian Bank Pembangunan Islam (IDB), potensi ZIS (zakat, infak, sedekah) di Indonesia di atas Rp 200 triliun). Pada 2016, dana ZIS yang terkumpul melalui LAZ/BAZ berjumlah sekitar Rp 5 triliun. Mungkin yang menyalurkan ZIS tak melalui LAZ/BAZ juga sebesar Rp 5 triliun. Keseluruhannya sekitar Rp 10 triliun. Dibandingkan dengan Rp 200 triliun, jumlah itu hanya mencapai 5 persen.
Jumlah yang pergi umrah setiap tahun mencapai satu juta orang. Kalau satu orang membayar 2.000 dollar AS, dana untuk pergi umrah per tahun mencapai 2 miliar dollar AS atau sekitar 27 triliun rupiah. Ibadah umrah yang, menurut saya, prioritasnya ada di bawah ZIS ternyata mampu menarik dana dari rekening Muslimin Indonesia hampir tiga kali lipat jumlah dana ZIS  per tahun. Sekali lagi,  ibadah mahda lebih menarik, lebih nikmat dan dianggap lebih utama dibandingkan dengan ibadah sosial.
Saya menduga banyak umat Islam yang belum atau tidak sepenuhnya menyadari arti penting dari apa yang dikemukakan di atas. Kalau mereka sering diingatkan, insyaallah mereka akan tergerak untuk mau membantu saudara seagama atau saudara sebangsa yang mengalami kekurangan gizi dan kekurangan lain. Mungkin diperlukan suatu sistem yang membantu memudahkan Muslimin untuk bisa membantu orang yang kekurangan gizi di sekitar lingkungan di mana dia tinggal.

Tulisan ini pernah dimuat di harian Kompas, pada 9 Juni 2017, dimuat ulang untuk keperluan pendidikan.
Share:

Pelantikan Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng dan Pembukaan Pelatihan Kader Tebuireng

Di Pesantren Tebuireng 2 yang terletak di Desa Jombok Ngoro Jombang, sebelah selatan Ponpes Utama Pesantren Tebuireng kira2 10 KM. telah berlangsung peresmian Gedung baru untuk Pelatihan Kader Tebuireng, bersama itu juga sedang berlangsung pelantikan para Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng, diantaranya :

Pelantikan:

1. Wakil Pengasuh : H. Abdul Khakim Mahfudz
2. Sekretaris Utama : Ir. H. Abdul Ghofar
3. Mudir Pengembangan Pondok Baru : H. Abdul Halim Mahfudz
4. Mudir Pembinaan Bidang Pendidikan : H. Kusnadi Said
5. Mudir Pembinaan Bidang Pondok : H. Lukman Hakim
6. Mudir Bidang Investasi & Optimalisasi Aset : H. A. Baidlowi
7. Wakil Pengasuh Pondok Putri : Hj. Aisyah Muhammad

Semoga beliau - beliau semua diberikan kekuatan untuk menjalankan amanat yang diberikan. Amin Y Rabbal Alamin....
Pelantikan langsung disampaikan oleh K.H. Salahuddin Wahid.
Wakil Pengasuh Tebuireng Baru
Wakil Pengasuh Tebuireng Baru

Wakil Pengasuh Tebuireng Baru
Wakil Pengasuh Tebuireng Baru


Share:

Pelantikan Wakil Pengasuh di Pesantren Tebuireng, serta Peresmian Gedung Pelatihan Kader Tebuireng

Di Pesantren Tebuireng 2 yang terletak di Desa Jombok Ngoro Jombang, sebelah selatan Ponpes Utama Pesantren Tebuireng kira2 10 KM. sedang berlangsung peresmian Gedung baru untuk Pelatihan Kader Tebuireng, bersama itu juga sedang berlangsung pelantikan para Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng, diantaranya :

Pelantikan:

1. Wakil Pengasuh : H. Abdul Khakim Mahfudz
2. Sekretaris Utama : Ir. H. Abdul Ghofar
3. Mudir Pengembangan Pondok Baru : H. Abdul Halim Mahfudz
4. Mudir Pembinaan Bidang Pendidikan : H. Kusnadi Said
5. Mudir Pembinaan Bidang Pondok : H. Lukman Hakim
6. Mudir Bidang Investasi & Optimalisasi Aset : H. A. Baidlowi
7. Wakil Pengasuh Pondok Putri : Hj. Aisyah Muhammad

Semoga beliau - beliau semua diberikan kekuatan untuk menjalankan amanat yang diberikan. Amin Y Rabbal Alamin....
Pelantikan langsung disampaikan oleh K.H. Salahuddin Wahid.




 

Share:

Postingan Populer

Blog Archive

Arsip Blog