Haloo adek adek yang masih duduk di SMP/MTs-sederajat.
Ada Event terbaru nihh di NCC 2017 yaitu OLIMPIADE. disini kalian bisa mengasah
bakat serta sebarapa luas pengetahuan kalian di "NATIONAL CREATIVITY
COMPETITION 2017"
Apa sih NATIONAL CREATIVITY COMPETITION itu?
NATIONAL CREATIVITY COMPETITION atau biasa disingkat NCC ini adalah suatu event
tahunan yg diselenggarakan oleh SMA DARUL 'ULUM 1 BPPT JOMBANG yg
bertujuan untuk mencari bibit-bibit unggul generasi penerus bangsa sekaligus
sebagai wadah untuk pengapresiasian bakat yg kalian miliki, baik di bidang
keilmuan, kebahasaan,keterampilan dan agama tentunya.
Event ini sudah dilaksanakan ke-empat kalinya loh..
Dan untuk tahun ini NCC mengusung tema " Inovasi Berbasis Teknologi untuk
Meningkatkan Nilai Religius dan Daya Saing Pemuda Indonesia" yang
insyaallah akan diselenggarakan pada tanggal 7 - 9 September 2017.
TANGGAL PELAKSANAAN :
Pendaftaran : 20 Juli 2017 – 07 Agustus 2017
Penyisihan (Tahap I) : 12 Agustus 2017
Pengumuman Tahap I : 19 Agustus
2017
Semi Final :
7 September 2017
Final :
8 September 2017
Keterangan :
-Penyisihan dilakukan secara online disekolah masing-masing
-Semi Final dan Final (bagi yang lolos seleksi online 10% dari peserta tes
online) dilakukan di SMA DU 1 UNGGULAN BPPT JOMBANG
Nb : Bagi Sekolah yang mengirimkan 2 delegasi Peserta Olimpiade gratis
Pembayaran 3 Peserta Olimpiade. Jadi, 5 Peserta Olimpiade cukup membayar Rp.
100.000,- untuk CP : Wisenu RP : 081231171290
Pembayaran dilakukan ke No. Rek. BRI Syariah 1019637065
a.n. PUTRI SETYANINGATI NURVIANSARI
Biaya Pendaftaran:
>> Olimpiade : Rp. 50.000,- (hanya saat Penyisihan atau Seleksi Tahap I)
Hadiah:
>> Juara 1: Trophy Tetap Kemendikbud RI Trophy NCC 2017 Uang Pembinaan
Rp. 3.000.000
>> Juara 2: Trophy Gubernur Jawa Timur & Trophy NCC 2017 Uang
Pembinaan Rp. 2,000,000
>> Juara 3: Trophy Diknas Kabupaten Jombang & Trophy NCC 2017 Rp.
1,500,000
>> Juara 4: Trophy Tetap Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum
Jombang & Trophy NCC 2017 uang pembinaan Rp. 1,000,000
Bagi orangtua mungkin akan bingung
memikirkan tempat pendidikan yang cocok untuk anaknya. Banyak lembaga
yang bagus, berprestasi, dan unggulan, namun masih saja ragu. Kini
saatnya membuang keraguan itu. Pesantren bisa menjadi solusi terbaik.
Karena banyak hal yang ternyata hanya ada di pondok pesantren. Berikut
lima di antaranya:
Kasih Sayang Kiai
Jika di rumah seorang anak hanya
mendapat kasih sayang orangtua saja maka di pesantren para santri akan
mendapatkan kasih sayang dan didikan dari para guru dan kiai. Betapa
tidak, sejak subuh mereka sudah dibangunkan untuk beraktivitas. Mulai
bersih-bersih diri, Shalat Subuh berjamaah, berdoa, dan berolahraga.
Jika seorang santri melanggar aturan,
mereka akan diganjar oleh kiai dengan takzir atau hukuman. Ganjaran itu
biasanya akan membentuk mental dan karakter lebih baik. Terkadang
disuruh membaca 1 juz Al Quran dengan berdiri, disuruh menyapu halaman
seluruh pondok, menguras kamar mandi, shalat di shaff awal selama sebulan penuh, dan lain-lain.
Tak sampai di situ, kasih sayang kiai
juga terlontarkan kepada para santri ketika terlelap tidur. Saat malam
sunyi menyelimuti, kiai bangun untuk Shalat Tahajjud dan mendoakan
seluruh santrinya. Bahkan, sampai si santri menjadi alumni pun doa
beliau tak akan putus.
Sahabat Sepanjang Masa
Orang yang pernah menempuh pendidikan di
pesantren pasti ia akan punya banyak sahabat. Berbeda dengan yang hanya
menempuh pendidikan di dunia formal, mereka hanya saling kenal sebatas
wilayahnya saja dan sekadar teman bukan sahabat erat.
Bagaimana tidak, para santri akan
berinteraksi satu sama lain selama 24 jam full. Mereka akan makan
bersama, mencuci bersama, berolahraga bersama, belajar bersama, sampai
tidur pun bersama.
Di samping itu, para santri berasal dari
berbagai wilayah di Indonesia. Mereka memiliki budaya, bahasa, serta
bentuk fisik yang heterogen sehingga rasa ingin berkenalan dan
bersahabat erat akan semakin terjalin. Maka tak heran, ketika mereka
sudah keluar pesantren hubungan persahabatan terus berlanjut.
Berpotensi Jadi Multitalenta
KH Abdul Wahid Hasyim pernah berkata,
“Alumnus pesantren tak harus menjadi ahli agama”. Artinya, para santri
mampu menjadi apa saja dan berkiprah di mana saja. Hal ini tak lain
karena di dalam pesantren mereka digembleng banyak disiplin keilmuan,
baik teori maupun praktik.
bagi
yang menyukai ilmu eksakta mereka akan bertemu dengan komunitasnya,
begitu juga mereka yang menyukai dunia seni, sastra, beladiri, dst. Tak
perlu ditanya tentang kemampuan mereka membaca Al Quran, memahami kitab
kuning, berdialog bahasa Arab, dan berpidato, itu adalah lauk-pauk
sehari-hari mereka.
Tak heran, di tingkat nasional di
berbagai bidang maupun institusi negeri atau swasta banyak tokoh yang
lahir dari bilik pesantren.
Insan Berakhlak Mulia
Pernah mendengar pesantren terlibat aksi
tawuran? Atau para santri terjerat kriminal? Pasti tidak. Jika iya, hal
itu sangat jarang bahkan langka dari jumlah pesantren dan santri yang
ratusan ribu.
Ya, di pesantren para santri ditekankan
adab, akhlak atau sopan santun. Baik untuk dirinya sendiri, maupun
kepada orang lain terlebih kepada yang usianya lebih tua.
Bahkan, di pesantren mereka juga
dikenalkan dengan ilmu tasawuf yakni adab atau tatakrama seorang hamba
kepada Tuhannya dalam beribadah dan kehidupan sehari-hari.
Genealogi Keilmuan yang Jelas
Ini adalah satu hal yang menjadi pembeda
antara pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang lainnya. Yaitu
adanya sanad atau mata rantai guru dan murid sebagai satu kesatuan
genealogi keilmuan yang jelas.
Seorang santri akan menerima ijazah
sanad tersebut setelah mereka berhasil mengkhatamkan sebuah kitab yang
dikaji. Semisal mempelajari Kitab Shahih Bukhari, mereka akan menerima
keterangan bahwa sang guru belajar dari gurunya dari guru selanjutnya
hingga sampai sang pengarang kitab bahkan Rasulullah SAW.
Jadi tak perlu khawatir, santri-santri
pesantren tak akan menyebarkan faham sesat, atau terlarang. Mereka
memiliki banyak bekal, salah satunya mata rantai tersebut. Kalaupun ada
yang sedikit menyimpang, mereka akan segera sadar dan kembali ke
khitahnya.
So, tidak ragu lagi kan menyelam di lautan pondok pesantren untuk mengarungi mutiara-mutiaranya?
*Alumnus Ponpes Sawahan Rembang dan Pesantren Tebuireng Jombang.
Hakikat bertemu adalah untuk berpisah.
Berpisah tak selamanya menjadi simbol akhir sebuah hubungan. Berpisah
tak selamanya lara. Kadang kala berpisah menjadi satu kepastian yang
dapat mengubah sifat seseorang agar lebih dewasa dalam menyikapi
keadaan. Seperti perpisahan yang dialami oleh seorang anak dengan orang
tuanya. Gadis kecil nan lugu ini gemar bercerita pada buku harian. Tiap
sendu dan peluh, Ia wujudkan dengan tulisan. Keseluruhan tulisannya
penuh dengan perasaan. Namanya Ziyadatul Ilmi, yang biasa dipanggil
Ziya. Sudah tiga hari Ia tinggal di pesantren yang jauh dari kota
kelahirannya.
Di bawah terik matahari yang menjulurkan
cahaya hangatnya masuk ke dalam pesantren, wajah Ziya yang berhias
jilbab kuning kepodang terlihat gelisah. Ia tidak sedang menggerutu,
tidak juga membisu. Bertahun-tahun Ia hidup bersama Ayah dan Ibunya
tanpa kekurangan apapun. Tak ayal jika beberapa hari ini Ia menangis
sendu.
Setelah lulus Sekolah Dasar, orang tua
Ziya memutuskan untuk mengirim putri sulungnya ini ke pesantren salaf di
kota Gresik, sebab sudah saatnya Ziya belajar memaknai hidup secara
mandiri. Selain itu, orang tua Ziya juga ingin agar kelak Ziya terbekali
oleh ilmu-ilmu agama. Dengan demikian Ia tak akan terjerumus dalam
kemaksiatan yang kian merajalela. Ziya tak bisa mengelak keputusan orang
tuanya. Ia sadar bahwa ini demi kebaikannya sendiri. Bersandang ridho, maka berangkatlah Ziya ke pesantren ditemani orang tuanya.
“Nak, cepat keluarkan bajumu dari dalam
tas. Ini lemarimu,” pinta Ibu Ziya. Ziya bergegas melaksanakan perintah
Ibunya sembari memandang sebuah kotak berbentuk persegi yang ukurannya
hanya dapat memuat buku dan empat potong baju. Inilah lemari kecil
seadanya untuk para santri baru seperti Ziya. Beberapa menit kemudian
sang Ibu keluar menghampiri suaminya yang sedari tadi menunggu di ruang
tunggu khusus pengunjung lelaki. Sementara Ziya merapikan barang-barang
keperluannya di kamar.
“Bu, apa Ziya sudah selesai
beres-beresnya? Kalau sudah, ayo pulang, Bu! Kasihan anak-anak yang
menunggu kita di rumah,” pinta Ayah Ziya dengan nada merajuk.
“Iyah, Pak. Sebentar lagi kusuruh Ziya keluar untuk segera menemui kita,” Sahut ibu Ziya.
Dari kejauhan terlihat Ziya berjalan
lambat menghampiri orang tuanya. Hati kecil Ziya tak ingin berpisah,
namun Ia juga tak ingin mengecewakan orang tua yang selama dua belas
tahun ini merawat dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Ziya pun
berusaha membiaskan perasaan sedih di raut wajahnya agar tak terlihat
merah merona. Ziya mencium lembut tangan orang tuanya sebagai petanda
mereka akan segera meninggalkan Ziya. Sebelum itu Ibu Ziya mengeluarkan
selembar uang dari dompet lalu memberikannya pada Ziya. Ziya tertegun
dan terdiam. Ia ingin menangis saja. Hebatnya Ziya, Ia tak sampai hati
meneteskan air mata di depan orang tuanya. Demikian agar mereka tak
merasa iba dan haru pada Ziya. Sesungguhnya, setiap tetes air mata yang
Ziya tahan bukan karena nominal uang yang diperoleh dari Ibunya. Hanya
saja Ziya tak ingin perpisahan yang sudah pasti meninggalkan rindu pada
orang tuanya ini ditukar dengan uang.
***
Langit semakin gelap. Perlahan bintang
yang bersanding dengan rembulan tak kuasa memancarkan cahaya. Awan hitam
menggumpal. Cuaca mendung. Hujan pun turun mengguyur lapangan
pesantren. Meski begitu, derasnya hujan tak dapat menandingi riuh suara
santri bersenandung imrithi. Warna-warni jilbab berbaris rapi memenuhi
mushala pesantren malam itu. Tak disangka, di sudut mushala paling
depan, Ziya nampak khusyu’ dengan imrithi yang dipegangnya. Sebelum
mengawali hafalan, bibirnya selalu berkecamuk lirih membaca Al-Fatihah
yang dikhususkan pada Nabi SAW, Syaikh Syarifuddin Yahya Al-Imrithi yang
merupakan pengarang nadzmul imrithi, guru, dan juga orang tuanya. Meski
Ziya tak pernah unggul di kelas, hanya satu yang Ia harapkan, Ilman nafi’ah.
Semenjak rasa rindu pada orang tuanya
mengalir deras, Ziya mulai berpikir tegas dan bertekad keras untuk
membahagiakan orang tuanya. Sekalipun setelah beberapa bulan tinggal di
pesantren, Ziya merasa belum ada perkembangan signifikan dalam dirinya.
Terbukti bahwa selama ini belum ada satu pun pelajaran pesantren yang
dapat Ia pahami. Terlebih dalam ilmu nahwu yang merupakan salah satu
ilmu tata bahasa arab sebagai dasar membaca kitab kuning bagi santri
pemula. Di pesantren para santri dituntut menghafal dan memahami 254
nadzam imrithi yang di dalamnya terkandung materi dasar membaca kitab
kuning.
Sejak dulu, Ziya jago dalam menghafal.
Ingatannya sangat kuat. Di tengah padatnya kegiatan pesantren, hanya
dengan waktu enam bulan Ia dapat mengkhatamkan hafalan dari seluruh
nadzam tersebut dengan lancar. Sayang, kelebihan itu terlampau kurang di
hadapan asatidz jika Ziya tetap saja tak mampu memahami nadzam yang
telah dihafalkannya. Hingga pernah sekali, seorang teman sengaja
mencelanya.
“Kalaupun hafal seluruh nadzam sampai ke
akar-akarnya tanpa paham apa maksud yang terkandung, seperti halnya
menanam tumbuhan dan memberi pupuk, tapi jika tak pernah menyiramnya
sama saja bohong. Jika begini terus, kukira kau tak akan dapat memetik
bunga ataupun buahnya, Ziya,” sindir Nisak, teman sekelas sekaligus
teman karib Ziya yang berhasil meraih peringkat tertinggi saat itu.
Bagai belati penghujam ulu hati, ucapan
itu nyaris merentas seluruh harapan dan menyisakan kenistaan. Ziya sudah
tak kepalang tanggung sakit hatinya pada Nisak yang sudah dianggap
seperti saudara sendiri. Bukan motivasi yang Ia dapat dari temannya.
Ziya berusaha lapang dada menerima segala apa yang ada dalam dirinya
sebab Ia tak ingin menaruh dendam dan benci terhadap teman karibnya itu.
Ziya hanya melempar senyum pada Nisak. Demi kenyamanan pesantren, Ia
tak ingin beradu mulut membantah ucapan yang kiranya tak patut
disampaikan.
***
Hari demi hari semangat Ziya semakin
membara seiring dengan terpilihnya Ia menjadi kandidat peserta seleksi
membaca kitab se Kabupaten Gresik. Ziya tak menyangka bahwa pihak
asatidz mempercayakan amanah padanya yang tidak semua santri dapat
mengemban.
“Ziya, kemari!” Ustadz Rosyad selaku wali kelas Ziya memanggilnya di ruang guru.
“Ada apa njenengan memanggil saya, Ustadz?” Tanya Ziya setelah mengetuk pintu dan memasuki ruang guru.
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, duduklah!”
“Iya, Ustadz,”
“Begini, akhir-akhir ini kuperhatikan
kemampuanmu memahami nahwu semakin meningkat. Kalau kau tidak keberatan,
apa kau mau membimbing teman-temanmu yang nilainya masih dibawa
standard?”
“Iya, insya Allah saya akan berusaha membimbing mereka semampu saya, Ustadz,”
“Satu hal yang harus kau tahu. Kurang
lebih dua bulan lagi akan ada seleksi membaca kitab se Kabupaten Gresik.
Peserta yang lolos akan dikirim untuk musabaqoh tingkat provinsi nanti.
Berdasarkan hasil rapat dengan kepala madrasah, kau dan Nisak ditunjuk
untuk menjadi peserta mewakili pesantren ini,” Ustadz Rosyad menambahi.
Keresahan yang dulu pernah Ia
khawatirkan merupakan kesempatan Ziya untuk mencari pengalaman setelah
sekian lama Ia berusaha, belajar, dan bersabar. Tanpa berpikir panjang,
Ziya bersedia menerima keputusan ustadz. Ia tak ingin menolak dengan
alasan apapun meski Ia harus bersaing dengan Nisak yang lebih unggul dan
pandai di kelas. Sebab baginya, menolak sama saja mengecewakan.
Mengecewakan guru juga termasuk mengecewakan orang tuanya. Lantas Ziya
berencana untuk tidak memberitahukan hal ini pada orang tuanya. Ia takut
jikalau nanti keberuntungan tak berpihak padanya dan sudah pasti tak
akan membuat bahagia orang tuanya.
***
Di waktu yang berbeda, Ziya memancarkan
wajah berseri di balik kerudung putih sembari menyongsong hari penuh
percaya diri dan mengutarakan segenap isi hati pada Ilahi. Ia duduk di
hadapan para juri setelah master of ceremony menyebut nama
indahnya dengan tegas dan hati-hati. Dengan mudah, Ziya dapat menjawab
seluruh pertanyaan juri. Sama halnya Nisak. Nilai mereka sebanding,
lebih tinggi dari peserta yang lain. Sehingga keduanya terpilih menjadi
peserta yang akan dikirim untuk musabaqoh tingkat provinsi mewakili
Kabupaten Gresik.
Jantung berdetak lebih kencang
mengiringi harapan yang menyeruak dalam pikiran. Ziya berharap usahanya
membuahkan hasil. Sebab ini merupakan salah satu cara membahagiakan
orang tuanya. Meski tak sebanding dengan apa yang telah Ia dapat dari
orang tuanya, setidaknya ada segelintir bahagia memukau di ujung
harapan.
Satu
minggu lagi Ziya dan Nisak diberangkatkan oleh pihak Departemen Agama
Kabupaten Gresik menuju kota Probolinggo, di mana musabaqah tingkat
provinsi diselenggarakan. Berdasarkan informasi dari panitia, seluruh
peserta akan difasilitasi tempat tinggal di asrama Pesantren Nurul
Qodim. Begitu pula dengan ustadz atau ustadzah pendamping.
Satu minggu ini juga Ziya mempersiapkan
diri dengan mengajak Nisak berdiskusi tentang seluruh materi yang akan
dilombakan. Ia juga menghubungi orang tuanya agar tak berkunjung ke
pesantren untuk menjenguk Ziya sementara ini. Sesuai rencana, tetap saja
Ziya tak menceritakan alasan logis pada orang tuanya agar menjadi
kejutan istimewa untuk mereka. Namun satu hal yang tak pernah lupa Ia
sampaikan pada orang tuanya melalui telpon.
“Bu, Ziya baik-baik saja. Doakan Ziya ya, bu. Doa terbaik Ziya harapkan dari ibu dan ayah,”
***
Musabaqah dimulai. Ziya menjawab dan
menjelaskan beberapa pertanyaan juri secara detail dan sistematis. Semua
juri menyimak penjelasan Ziya dengan seksama. Tak ada satu pun jawaban
Ziya yang diragukan oleh juri. Tentunya hal ini menjadi nilai plus yang dapat dipertimbangkan untuk memasuki final.
Lima belas menit setelah menjelaskan,
Ziya menemui Ustadz Rosyad yang sedari tadi berdiri menyaksikan
penampilan Ziya di sudut ruangan.
“Ustadz, maaf jika penampilan saya dalam menjelaskan pertanyaan juri tadi kurang sempurna,”
“Tidak apa-apa. Sudah bagus, kok. Semoga
hasilnya nanti memuaskan. Kita tunggu saja nanti malam saat pengumuman
peserta masuk final dibacakan,” tutur Ustadz Rosyad.
“Iya, Ustadz,”
Malam yang diidamkan oleh seluruh
peserta datang seperti cerahnya surya yang tak tertutup oleh tabir
mendung. Dengan rasa penasaran, Ziya memperhatikan gulungan kertas yang
sedikit demi sedikit dibuka oleh panitia dan mendengarkan pengumuman
yang dibacakan oleh mereka.
Tiba-tiba tangan Ziya bergetar, terlebih
saat panitia menyebut namanya yang tertera dalam daftar peserta masuk
final. Dari enam peserta yang lolos final, Ziya berada di urutan ketiga.
Ia sangat bahagia. Ia tersenyum tipis namun tetap saja ada senja di
pelupuk mata. Tanpa sengaja, air mata bahagia mengalir mengikuti garis
lengkung pipinya. Dari belakang, Nisak menepuk pundak Ziya dan
mengucapkan selamat.
“Selamat dan semoga berhasil, Ziya.
Maafkan aku yang selalu angkuh dan sering meremehkan kemampuanmu. Aku
sadar, roda kehidupan pasti berputar. Tak selamanya unggul adalah juara.
Begitu pun tak selamanya biasa-biasa saja adalah tak bias,”
“Iya, Nisak. Terima kasih banyak. Tak apa, wajar semua manusia pernah mengalami kekhilafan,”
Tiba-tiba mereka berdua dikagetkan oleh kedatangan Ustadz Rosyad.
“Ziya, bersiap-siaplah! Besok pagi final berlangsung,”
Terlepas dari persiapan final, seperti
biasa Ziya menuliskan hari-harinya. Ia merangkai huruf demi huruf hingga
menjadi kata dan untaian kalimat indah. Tidak cukup itu, Ziya juga
membayangkan jika nanti Allah menakdirkannya menjadi juara musabaqah
ini, hal pertama yang akan Ia lakukan saat bersua dengan orang tuanya
adalah memanjakan mereka, meluapkan rindu dalam dada, dan berterima
kasih atas kasih sayang yang telah diberikan sehingga detik ini Ziya
dapat mempersembahkan piala sang juara untuk orang tuanya. Semua yang
dibayangkannya, Ia tulis dalam catatan harian. Kegiatan ini terus
berlangsung setiap hari sesaat menjelang tidur malam.
Tiada hari yang dirasa menjemukan bila
ikhlas bersanding dengan ketulusan. Pada pagi yang tak biasa, Ziya
beranjak menuju gedung musabaqah. Final segera dimulai. Peserta akan
dipanggil satu per satu sesuai urutan abjad nama masing-masing. Yang
pasti Ziya berada di urutan terakhir. Sekali lagi, Ziya menambatkan niat
dalam hati bahwa semua ini untuk sedikit membahagiakan orang tuanya.
Betapapun Ziya sangat bahagia untuk
kesekian kalinya. Usahanya membuahkan hasil. Piala sang juara telah
digenggamnya setelah panitia menyebut satu nama dalam penutupan
musabaqah yang tak lain adalah nama Ziya.
Malam semakin tenteram seiring bulan dan
bintang bersinar terang. Memadu kasih di sekitar langit yang kelam.
Dingin pun mulai mencengkeram. Ziya memutuskan segera berwudu dan
memasuki kamar. Tak seperti malam-malam sebelumnya, tiba-tiba Ziya
merasakan kantuk yang dahsyat setelah menulis semua peristiwa hari ini
dalam catatan hariannya. Ia lalu menarik selimut seraya berdoa.
“Bismikallahumma ahyaa wa bismika amuut,”
Lima belas menit kemudian Nisak menyusul
Ziya, memasuki kamar. Pandangan Nisak tertuju pada catatan harian milik
Ziya yang sedang dalam keadaan terbuka. Dalam hati Nisak, ada rasa
ingin membacanya.
Probolinggo, 29 Juni 2016
Ribuan mimpi kuukir dengan kata.
Bagiku, meski tak begitu indah dibaca, yang terpenting usahaku penuh
makna. Tiada waktu yang kurasa indah bila ku tak bisa membahagiakan
mereka, Ayah dan Ibuku. Aku pernah terjerembab dalam diam. Hingga suatu
ketika diamku berbuah lamunan. Lamunan yang mengantarkanku meraih asa
yang terpendam dalam dada. Sejak saat itu, aku mulai membuka mata,
mengumpulkan kembali semangat yang dulu mereda, dan mantap dalam hati
bahwa aku bisa. Hari ini piala sang juara telah kubawa. Aku sudah tak
sabar menunggu hari esok, di mana aku akan meninggalkan kota ini dan
kembali ke pondok. Besok pagi aku harus menelpon Ibu agar lusa segera
sambang ke pondok. Lalu kan kuceritakan semua peristiwa yang
kurahasiakan dari Ayah dan Ibu. Dan kupersembahkan pula piala dan hadiah
uang ini untuk mereka. Meski nominalnya tak seberapa dibanding dengan
apa yang sudah mereka berikan padaku, setidaknya dengan uang ini aku
bisa sedikit meringankan beban mereka. Dan dengan piala ini, kuharap
akan ada bahagia yang terlintas di raut wajah mereka. Hari ini adalah
hari yang melelahkan. Aku sudah tak kuasa menahan kantuk. Aku harus
istirahat sebab dinginnya malam membuat tubuhku seperti tersayat.
***
Sebelum subuh, Nisak bergegas mengemasi
pakaian dan barang bawaannya. Agaknya Ia keheranan melihat Ziya yang
masih tidur dengan pulas. Padahal, biasanya Ziya bangun lebih dulu
daripada Nisak. Anehnya lagi, Ziya tidur dengan posisi yang sama seperti
pada saat Nisak membaca catatan hariannya malam itu.
“Ziya, ayo bangun! Setelah shalat Subuh,
kita harus berkumpul di halaman. Secepatnya pagi ini kita kembali ke
pondok,” seru Nisak sembari menggoyang-goyangkan kaki Ziya agar segera
bangun.
Berkali-kali Nisak mencoba membangunkan
Ziya, namun tetap tak ada respon dari Ziya. Nisak mulai panik. Ia
khawatir sesuatu terjadi pada Ziya. Sesegera mungkin Nisak menemui
Ustadz Rosyad dan menceritakan keadaan Ziya pagi ini. Tanpa basa-basi,
Ustadz Rosyad meminta Nisak untuk mengantarkannya melihat keadaan Ziya.
Ustadz Rosyad mencoba memeriksa denyut
nadi tangan Ziya. Tiada reaksi. Nisak terkejut dan menangis seketika.
Ustadz Rosyad langsung menghubungi panitia, pihak asatidz yang lain dan
terutama orang tua Ziya.
“Mengapa teman sebaik Ziya begitu cepat
meninggalkanku yang baru saja menyadari akan ketulusannya?” ucap Nisak
dengan nada lirih sambil terisak.
“Sebab Allah sangat menyayanginya, Nisak,” sahut Ustadz Rosyad yang tanpa sengaja mendengar ucapan Nisak.
***
Sehari setelah pemakaman Ziya, Nisak
meminta izin pada pihak keamanan pesantren untuk berkunjung ke rumah
orang tua Ziya. Nisak menjelaskan maksud dan tujuannya. Dan pada
akhirnya pihak keamanan dapat memahami penjelasan Nisak. Ia pun
diizinkan.
Sesampai di rumah orang tua Ziya, Nisak
menceritakan semua peristiwa yang dirahasiakan Ziya pada orang tuanya.
Mulai dari terpilihnya Ziya dalam lomba membaca kitab se Kabupaten
Gresik hingga perjuangan Ziya untuk mendapatkan piala dan uang ini demi
membahagiakan orang tuanya. Tak lupa, Nisak juga menyerahkan sebuah
catatan harian pada orang tua Ziya. Catatan harian yang mengungkap
seluruh mimpi dan asa Ziya yang sekian lama terukir dengan kata dan
terpendam dalam dada.
Penulis adalah Mahasiswa Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya
Di bulan Syawal ini, banyak sekali
pasangan kekasih yang melangsungkan pernikahan. Bukannya tanpa alasan,
menikah di bulan Syawal merupakan salah satu anjuran yang didasarkan
pada hadis riwayat ‘Aisyah ra. yang berbunyi:
“Rasulullah SAW menikahiku di bulan
Syawal, dan membangun rumah tangga denganku di bulan Syawal pula. Maka
istri-istri Rasulullah manakah yang lebih beruntung dariku?”
Pernikahan Rasulullah di bulan Syawal
menepis tradisi Arab Jahiliyah yang meyakini bahwa pernikahan di bulan
Syawal akan berujung kesialan. Karena Syawal sendiri berasal dari Syaulanun Nuuq,
habisnya susu unta-unta betina. Unta betina mengangkat ekornya yang
bertanda bahwa ia tidak mau untuk menikah dan enggan dengan unta jantan.
Akibat dari anjuran menikah di bulan
Syawal ini, banyak undangan berdatangan dari kerabat, teman, dan
kenalan. Saking banyaknya, mungkin kita diundang oleh orang yang tidak
terlalu akrab, sekedar tahu namanya saja, atau bahkan banyak tanggal
yang bertabrakan yang membuat kita malas untuk hadir.
Tidak ada khilaf bahwa menyelenggarakan walimatul urs (pesta pernikahan) hukumnya sunnah. Nabi SAW pernah bersabda:
Sedangkan menghadiri walimatul ‘urs
hukumnya sunnah menurut Hanafiyyah. Sementara menurut Syafiiyyah dan
Hanabilah, hukumnya wajib selama tidak ada kemungkaran.
Ketika menghadiri pernikahan, disunnahkan setelah makan mendoakan shohibut tho’am
atau tuan rumah. Karena Nabi pernah berbuka di rumah Sa’d bin Mu’adz,
lalu Rasul berdoa, “Orang-orang puasa berbuka di rumahmu, para malaikat
mendoakanmu, dan orang-orang baik memakan makananmu.”
Kemungkaran di Walimatul ‘Urs
Apabila yang diundang sudah mengetahui
bahwa di dalam walimatul ‘urs yang akan dihadirinya ada kemungkaran,
maka ia tidak perlu menghadirinya. Rasulullah pernah bersabda, “Akan ada
dari umatku kaum-kaum yang menghalalkan minuman keras, babi, sutera,
dan mi’zaf (jenis alat musik yang bersenar banyak).”
Namun
apabila ia tidak tahu, dan saat tiba ia baru sadar kalau ada khamr di
tempat hidangan, maka ia tidak boleh duduk. “Rasulullah melarang kita
duduk di tempat yang digunakan minum khamrnya, dan makan sambil
telungkup.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Hakim)
Apabila kemungkaran terdapat di rumah
(tempat tinggal), bukan di tempat hidangan, maka ia harus mencegah
semampunya. Karena tempat hidangan biasanya terletak di luar rumah.
Namun, bila tidak mampu dan ia seorang panutan, maka lebih baik keluar
meninggalkan tempat. Karena itu akan mencela agama dan pintu maksiat
bagi muslimin. Jika ia bukan panutan, maka duduk saja, bersabar,
menikmati makanan dan minuman, dan tidak perlu keluar. Karena menghadiri
undangan hukumnya sunnah.
Dalam kegiatan Pesantren Ramadhan Bahagia 1438 H. di Islamic Center Masjid
Baitul Mu’minin Jombang pada Sabtu-Ahad (17-18/06/2017), Pimpinan
Cabang (PC) Iikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU
(IPPNU) Jombang membekali kader-kadernya dengan ilmu jurnalistik.
Untuk materi ini, panitia mengundang dua
pemateri, yaitu Mantan Redaktur Jawa Pos, H. Nur Hidayat dan Kepala
Unit Penerbitan Pesantren Tebuireng, Ahmad Faozan.
Di depan kader-kader muda IPNU-IPPNU, H.
Nur Hidayat atau yang biasa disapa Gus Dayat menjelaskan bahwa
jurnalistik adalah kegiatan penyiapan, peliputan, penulisan dan
penyajian berita.
“Kalau mau menggeluti dunia jurnalistik,
harus mau keluar untuk mencari berita. Jika mencari berita, jangan
mencari berita karena suka atau tidak suka,” ungkap mantan ketua PW IPNU
Jawa Timur tahun 2003-2005 itu.
“Kalau pemuda IPNU IPPNU ditanya
bagaimana menjadi jurnalis? Jurnalis itu harus jujur, dan setia pada
fakta. Penting atau tidak menjadi seorang jurnalis? Jawabannya sangat
penting menjadi seorang jurnalis,” tambah pria yang kini dipercaya
mengurus bidang kehumasan di Pesantren Tebuireng itu.
“Dalam menyampaikan berita itu harus
menarik, dan berita itu harus menceritakan sesuatu yang baru. Misalnya
ada anjing menggigit orang, itu bukan berita. Tetapi jika ada orang
menggigit anjing itu bisa dinamakan berita,” jelas pria asal Mojokerto
itu.
Sementara itu, pada Ahad (18/06/2017),
Ahmad Faozan menyampaikan bahwa jurnalis yang baik adalah yang mengerti
kaidah-kaidah jurnalistik secara baik dan benar. Jika Gus Dayat fokus
pada news (berita), maka Ahmad Faozan fokus pada views seperti opini esai dan resensi.
Ia juga mengungkapkan manfaat menjadi
penulis, di antaranya karyanya akan abadi, dapat menyampaikan pemikiran
kepada banyak orang, dan dapat fleksibel dengan berbagai profesi. Jika
seseorang hanya ngomong saja, maka profesinya terbatas,” tambahnya.
Selain itu, menurutnya, kemampuan
menulis harus diasah, tidak terlalu fokus pada teori, dan memperbanyak
membaca. Namun, lanjutnya, modal yang paling penting untuk menulis,
yaitu memiliki kemauan terlebih dahulu.
“Empat kesusahan dalam menulis, tidak
memiliki kemauan, tidak memiliki tema, tidak memiliki waktu yang cukup,
dan tidak suka membaca,” ungkapnya.
Ia memaparkan pula tentang jenis-jenis artikel, seperti artikel
prediktif (prediksi masa depan), prestkriptif (penyuluhan terhadap
masalah), eksploratif (mengungkapkan fakta berdasarkan kajian),
deskriptif (menggambarkan masalah dengan tambahan opini), dan eksplantif
(memberi jawaban atas persoalan).
Ia mengatakan bahwa menulis itu mudah
jika memiliki kesungguhan. “Menulis itu jalan dakwah potensial. Tebarkan
kata-kata positif dalam ruang medsosmu, mulai sekarang tulis status
yang positif,” pesannya.
Untuk itu ia berpesan agar para kader
IPNU-IPPNU, dalam meningkatkan motivasi menulis, harus banyak membaca
buku, diskusi, ikut kegiatan intelektual, dan sharing dengan penulis yang lebih mahir. “Setelah mendapat ide, maka tulislah. Yang penting dicatat,” pungkasnya.
Layar monitor elektrokardiograf di ruang
ICU terus bergerak. Grafiknya yang bergerak naik turun masih menandakan
aktivitas jantung normal. Namun tubuhnya yang lemah tidak mampu ia
kendalikan, bahkan untuk membuka kedua matanya ia tak mampu. Sudah
hampir satu bulan ia tergeletak tak berdaya dalam keadaan koma dan
kritis. Lelaki gagah yang selalu kuidolakan, sekarang sedang mengalami
masa sulitnya, dan aku benar-benar tak mampu menolong karena faktor
ekonomi keluargaku yang pas-pasan.
Kehidupan abah tergolong sederhana, Di
era dimana semua guru seangkatannya telah diangkat menjadi pegawai
negeri dan mendapat tunjangan dana pensiunan. Beliau tetap menjadi guru
honorer yang bahkan untuk menghidupi kehidupannya sehari-hari beliau tak
mampu. Belakangan ini beliau melawan penyakit yang dideritanya. Tubuh
tegapnya sedikit demi sedikit diusik oleh penyakitnya. Namun pribadinya
yang kuat tak pernah terkalahkan.
Aku menatap wajahnya yang sendu, siang
malam hanya do’a yang bisa ku lantunkan, meminta belas kasih Tuhan dan
keajaiban yang datang menghampiri sang guru sejati, setidaknya bagiku,
dan bagi orang-orang terdekatnya. Dalam kesunyian malam aku terbuai pada
kharismanya yang membawaku mengarungi alam bawah sadar untuk merekamnya
kembali dalam ingatan.
Matahari menyapa pagi, kutemui sosok
pahlawanku sudah siap dengan pakaian dinas kebanggaannya. Ia tersenyum
menyapaku dan ibu yang telah duduk manis di meja makan. Tempat inilah
menjadi saksi bisu, bahwa sosok didepanku selalu mengajariku makna
penting dari komunikasi, disinilah keluargaku selalu bercerita semua
aktivitasnya seharian.
“Abah, Cici ikut berangkat bareng abah ya,” gumamku.
“Kalo kau berangkat sama abah, bagaimana
dengan teman-temanmu, berjalanlah bersama, gandenglah tangan
teman-temanmu ci,” nasehatnya lembut. Aku termangu dengan ucapannya.
Lantas ia bangkit dan menyalamiku.
Dari kejauhan aku melihat punggungnya
yang makin lama menghilang dari pandanganku bersama biola dan onthel
kesayangannya. Dia telah menghilang dari pelataran rumah sebelum
matahari tersenyum sempurna.
Aku dan abah berada di sekolah yang
sama, aku sebagai murid dan abah seorang tenaga pengajar. sekolah kami
termasuk elit pada akhir abad ke 19-an, yang dikelola langsung oleh
pemerintah daerah setempat. Abah termasuk guru tetua di sekolah ini, Ia
mulai mengajar sejak genap berkepala dua. Hampir semua penduduk desa
mengenal abah sebagai sosok guru yang menyenangkan. Selain pintar
membawa suasana abah selalu menganalogikan pelajarannya dengan alunan
nada dari biola.
Namun aku tak pernah diajar olehnya,
abah selalu menghindari kelasku. Ia memberi alasan kepadaku agar tetap
profesional dan terhindar dari pandangan subjektif dari yang lain. Aku
selalu mencuri dengar abah mengajar, namun abah menegurku agar kembali
ke kelas, dan sesampainya di rumah aku dinasihatinya agar tidak
mengulangi lagi. Abah selalu mengingatkanku, “Jika mengabaikan kalimat
guru walau hanya satu detik bagaikan kehilangan mata rantai gelang
emas.”
Sepulang sekolah kutemui umi sedang
memangkas daun-daun yang rusak dimakan ulat. Rumah keluargaku tidak
besar namun terlihat asri, dipenuhi dengan bunga-bunga melati yang
tumbuh subur. Di salah satu sudut ruangan terdapat sebuah piano tua yang
selalu dimainkan abah sepulangnya dari sekolah. Piano tersebut ia
dapatkan setelah memenangkan sayembara cipta lagu.
Kegemarannya bermusik terus ia tekuni,
aku selalu berlari ke arahnya dan duduk disampingnya ketika tuts piano
mulai dimainkan oleh jari jemarinya yang gemulai, terkadang tanpa sadar
aku hanyut dan ikut bernyanyi dengan alunannya.
“Hidup itu seperti alunan musik, yang
harus kita dengar, rasakan, dan kita nikmati,” ungkapnya disela-sela
permainan. Aku pun hanya mengangguk dan melemparkan senyum manisku
padanya.
****
Aku tersentak dan terbangun dari
lamunanku, seketika aku melihat layar monitor elektrodiograf yang tidak
stabil, dengan semua rasa panik aku berlari mencari dokter. Tim medis
memasuki ruangan ICU, mereka melarangku untuk memasuki ruangan, dengan
berat hati aku dan suamiku menunggu di luar ruangan sambil berdo’a dan
terus memohon.
Logikaku tak utuh, rasa khawatir dan
takut menyusup ke sanubariku. Aku merasa duniaku akan berhenti, isak
tangis menyesakan jiwa, beruntung suamiku setia menemaniku dan
menenangkanku.
Tim medis satu persatu keluar dari
ruangan, segera mungkin aku menemuinya, dengan tenang aku bertanya pada
dokter dengan memaksa, “Bagaimana dokter, bagaimana keadaan abah saya?”
Namun sang dokter hanya menggelengkan kepala dan bergumam lirih. “Maaf
Tuhan telah berkehendak lain, yang sabar bu,” ucapnya sambil berbela
sungkawa.
Seketika aku berlari memasuki ruangan,
segera aku peluk abah yang kini telah terbujur kaku, ruangan itu kini
pecah dengan suara isakan tangisku. Suamiku segera menyadarkanku, aku
lihat wajah abah, ia memberikan senyuman terakhirnya padaku. Aku bangga
menjadi bagian dari sejarahnya.
Beliau adalah sosok yang selalu
mengajarkan makna keikhlasan dan pengabdian sejati. Bahwa mengabdi
adalah memberi tanpa mengharap jasa. Dan perjalanan hidup abah
menyiratkan makna kehidupan.
Jasad abah kini siap dikebumikan, aku
dan keluarga tak pernah menyangka banyak pelayat yang datang
berbondong-bondong mengucapkan bela sungkawa. Satu lagi kejutan yang
datang menjadi bagian dari hadiah untuk abah. Semua murid abah datang
dari semua penjuru kota. Mereka berjajar rapi sambil memainkan biola,
dawai-dawai itu menyatu, menghasilkan aliran irama merdu nan syahdu.
“Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasiku, tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan,
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan,
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa.”
Lagu yang beliau ciptakan pada sayembara
“Hari Pendidikan Nasional” tahun 1980, “Hymne Guru Pahlawan Tanpa Tanda
Jasa”, telah mewakili perjuangan dan pengabdiannya selama 24 tahun.
*tulisan ini hanya fiktif belaka, namun terinspirasi dari kehidupan Pak Sartono pencipta lagu “Hymne guru” asal Madiun. Penulis adalah Mahasantri Putri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng semester 5 dan aktif di Komunitas Penulis Muda Tebuireng, Sanggar Kepoedang.
“Banyak alumni lulusan dari sini sukses. Bukan karena mereka pandai atau cerdas, tapi semua itu karena barokah Yai,” kata Ustadz Utsman sambil melipat sebuah halaman kitab untuk menandai.
Pondok ini mendadak ramai ketika seorang kiai kenamaannya dipanggil Sang Pencipta. Hari itu, langit siang terlihat mendung seperti mau menurunkan butir-butir air hujan. Para santri kebanyakan asik bersantai karena pengajian libur, hanya beberapa yang muthala’ah kitab. Tiba-tiba juga seorang tukang sapu bekerja membersihkan semua halaman pondok yang mestinya masih bersih.
Tepat pukul empat sore, speaker masjid berkoar keras. “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.” Seluruh santri kaget, mengucapkan lafal yang sama. Mereka kemudian bangun mengambil pakaian dan peci mereka yang menggantung. Menyambut jenazah Yai yang pulang dari rumah sakit.
Sebelum berangkat ke masjid, Wabil mencatat kata-kata Kang Utsman dan mengingatnya dalam hati dan pikiran. Sore ini hujan turun begitu deras. Rupanya, air-air itu sedari tadi menunggu di atas sana, menyambut pula kedatangan Yai dari rumah sakit. Pakaian dan peci pun kini basah kuyup.
Salah seoang santri ahli hikmah mengadahkan tangannya ke langit, lalu ia gerak-gerakkan tangannya ke arah Timur. Seolah ia menyuruh air-air itu pindah ke lain tempat. Mulutnya berbisik, “Allahumma hawalaina wa la alaina,” Sebuah doa yang berarti: Tuhan, kami sudah berkecukupan air.
Jenazah Yai dikeluarkan dari ambulans dalam keadaan sudah kaku. Seember air kembang di pemandian sudah menunggunya. Pemandian yang hanya ditutup dengan bilik kain putih. Orang-orang yang sejak tadi menunggu di masjid tidak kebasahan air hujan, seperti Pak Takmir. Tapi, speaker masjid kemasukan air dan sekarang imam shalat jenazah harus mengeraskan suaranya.
Setelah hujan reda, menangis seorang abdi dalem di teras rumah Yai. Wabil memperhatikannya sejenak, lalu melenggang. Kenapa ia menangis, padahal Yai dimakamkan dengan cepat. Tidak ada air yang menggenangi liang lahatnya walaupun hujan turun begitu lama. Orang-orang berbisik kalau itu bagian dari karomah Yai. Mungkin saja Yai adalah wali.
Sebelum matahari tenggelam, makam telah sepi oleh pelayat. Kecuali seorang abdi dalem yang menangis di situ. Wabil tak menghiraukannya lagi. Sampai adzan maghrib berkumandang, abdi dalem itu tetap duduk di samping makam Yai.
***
Setelah tujuh hari kematian Yai kegiatan pondok kembali berjalan normal. Yang berubah hanyalah isi dari ucapan wasilah yang bertambah satu orang. Wabil kembali mengaji, dan Ustadz Utsman kembali mengajar. Speaker masjid pun sudah dibetulkan.
“Apa itu barokah?”, Wabil melempar pertanyaan kepada Ustadz Utsman.
Dengan keilmuannya yang lumayan, Ustadz Utsman langsung menjawab, “Barokah hiya ziyadatul khoir. Barokah adalah peningkatan kebaikan.”
“Seperti apa, Ustadz?”
“Jika hari ini kau sedekah lima ratus rupiah, lalu besok kau sedekah seribu rupiah, berarti itu barokah. Jika hari ini kau membaca shalawat seratus kali, lalu besoknya dua ratus kali, berarti itu barokah. Tapi jika hari ini kau ghasab sandal sekali, lalu besoknya dua kali, itu bukan barokah.”
“O, begitu. Lalu apa artinya barokah Yai?”
“Barokah Yai maksudnya, bila kita mendapat barokah dari Yai, maka kita seolah mendapat tambahan kebaikan dari beliau.”
“Kenapa itu bisa terjadi?”
“Ya… karena Yai sayang kepada para santrinya.”
“Apa semuanya?”
“Ya, semuanya. Tak terkecuali.”
“Andai saja ada santri yang nakal, sering melanggar aturan pondok, gak pernah ngaji, apakah dia akan mendapat barokah Yai?”
“Tentu. Yai tetap memberikan barokahnya kepada seluruh santrinya, walaupun santri itu nakal”, Dari bau mulutnya, Ustadz Utsman seperti habis makan bakso.
Wabil mengangguk seolah paham, walaupun sebenarnya ia masih punya pertanyaan panjang yang akan ia lempar lain waktu.
Di hari berikutnya, seperti biasa, Wabil telah menunggu Ustadz Utsman di lantai dua masjid usai maghrib. Mudzakaroh baru akan dimulai ketika Ustadz Utsman datang dan membuka kitab kuningnya. Pelajaran baru sampai di bab shalat witir.
“Ustadz, sebenarnya, barokah Yai itu diberikan oleh Yai atau oleh Allah? Apakah Yai bisa mengatur barokah itu sendiri?”
Ustadz Utsman tidak menjawab. “Seharusnya barokah itu bukan untuk semua santri, tapi sebagian,” lanjut Wabil.
Akhirnya Ustadz Utsman menjawab, “Barokah itu tidak dapat dilihat. Tapi sebagai santri pondok, kita harus percaya itu. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata benar juga pendapatmu. Barokah itu mungkin buat sebagian santri saja.”
“Lalu, jika Ustadz sudah setuju, bagaimana caranya menjadi orang yang mendapat jatah barokah itu?”
Ustadz Utsman terdiam lagi. Sepertinya ia hanya paham soal definisi barokah, tapi tidak memahami artinya secara mendalam. “Saya belum bisa menjawab. Maaf, kita lanjutkan saja baca kitabnya.”
Di pertengahan bacaan kitab, Wabil melihat seorang santri yang ribut di halaqoh lain. Ia tidak memperhatikan ustadznya yang sedang menerangkan. Wabil memotong, “Akankah barokah diperuntukkan buat santri seperti itu, Ustadz?”
Ustadz Utsman yang sedari kemarin Wabil tanyai tentang barokah sepertinya sudah geregetan. “Wabil, aku pikir kau masih punya banyak pertanyaan tentang barokah. Aku tak bisa menjawab semuanya. Sebaiknya kau tujukan saja kepada Ustadz Umar.”
Satu jam sebelum tengah malam, Wabil bertemu dengan Ustadz Umar di persimpangan jalan. Sepertinya beliau sedang buru-buru, gumam Wabil. “Ustadz, barokah itu diberikan oleh Yai atau Allah?”. Dia tetap berjalan cepat. Wabil hampir meraih tangannya.
Nampaknya Ustadz Umar tidak kebingungan dengan pertanyaan yang tiba-tibamelucut dari mulut Wabil itu. Ia pun akhirnya memelankan langkah. “Barokah itu seperti jodoh. Sama halnya dengan hidayah. Dan jodoh pasti bertemu.”
“Lalu, bagaimana caranya menemukan jodohku, Ustadz?”
“Jodoh itu kan takdir.”
Wabil dan Ustadz Umar akhirnya duduk di serambi masjid paling Selatan. Di sana agak gelap, dekat dengan tempat wudhu dan jemuran-jemuran santri.
“Takdir kan juga bisa diusahakan?”, wabil belum puas.
“Ya, kau harus rajin belajar, rajin mengaji, tidak usah melanggar aturan pondok. Itulah yang akan mendekatkanmu dengan barokah.”
“Semudah itu?”
Ustadz Umar mengangguk yakin. “Lalu kenapa banyak alumni yang tidak pintar dan dulunya nakal, kemudian menjadi sukses? Bukankah itu karena barokah?”
Ustadz Umar mengangguk kedua kalinya. “Ada yang perlu kau ketahui. Banyak jalan menuju barokah. Yang aku sebutkan tadi hanyalah salah satunya. dan itu cara paling gampang. Mungkin saja alumni yang waktu mondoknya bodoh, nakal, suka ngelanggar itu sangat ta’dhim kepada Yai. Saking ta’dhim-nya, ia mendapat pancaran barokah dari Yai.”
Kini giliran Wabil yang mengangguk. “Umm… kalo begitu, barokah itu dari Yai atau dari Allah?”
“Hakikatnya yang mengatur semuanya adalah Allah. Yai tidak menentukan kau yang akan dapat barokah atau aku. Namun, kebaikan Yai yang seperti samudera itulah yang membuat santrinya mendapat tambahan kebaikan. Seperti gelas yang berlebihan air, lalu airnya tumpah ke tempat yang tidak pernah ditentukan gelas itu.”
Ustadz Umar mengangkat pinggulnya dari tempat duduk. Sebelum ia berdiri penuh, Wabil menahannya dengan sebuah pertanyaan, “Terakhir, Ustadz! Kalau Yai sudah meninggal, apakah beliau masih bisa barokahi?”
“Tentu,” jawab Ustadz Umar singkat.
“Sampai kapan?”
“Sampai kapan pun. Kita takkan pernah tahu.”
“Iya, kita tak mungkin tahu. Maksudku, apakah barokah Yai akan habis pada suatu waktu?”
Ustadz Umar berhenti sejenak. Berpikir. Lalu melanjutkan, “Bagiku, barokah itu tidak akan pernah habis. Ia akan terus memancar. Walaupun Nabi Muhammad sudah meninggal ribuan tahun yang lalu, mungkin saja kau bisa menerima barokahnya. Coba, bila kamu punya api, dan seribu orang datang membawa lilin, menempelkan ujung lilin mereka ke apimu. Apakah apimu akan berkurang? Tidak. Dua ribu lilin? Tidak. Sejuta lilin? Tetap saja. Apimu tetap saja segitu.”
“O, begitu. Jadi sampai hari kiamat pun akan tetap ada orang sukses lulusan pondok ini?”
“Belum tentu. Pada suatu waktu barokah akan berhenti.”
Dahi Wabil mengernyit. “Lho katanya tadi?”
“Aku bilang barokah akan berhenti, bukan habis.”
“Kapan itu?”
“Ketika tidak ada orang yang pantas diberi barokah.”
***
Wabil bangun dari bantal yang amat keras. Ia temui sebuah pancaran cahaya dari makam Yai yang selalu harum bunga. Pundaknya kini telah kosong dari beban. Semua pertanyaannya tentang barokah telah dijawab Ustadz Umar semalam.
“Barokah itu bukan untuk santri ahli hikmah yang bisa mengalihkan hujan. Bukan untuk si tukang sapu yang bersih-bersih saat halaman pondok masih bersih. Bukan untuk abdi dalem yang menangisi Yai sampai di pusara kuburnya. Apalagi untuk santri malas yang ribut saat halaqoh.”
“Lalu buat siapa?”
“Buat orang-orang yang pantas.”
*Mahasiswa Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, aktif di Komunitas Penulis Muda Tebuireng, Sanggar Kepoedang, dan cerpenis muda Tebuireng
Itu cuma warung makan di depan masjid. Warung makan kecil yang tak berpintu. Hanya bermodal meja dan kursi panjang. Lebih mirip dengan kios di pasar. Tapi kau tahu, jika penjualnya bicara, semua pembelinya akan terdiam menghayati kata-kata yang mengalir dari mulutnya. Bisa dibilang itu adalah warung favorit para santri Pondok Jagalan. Penjualnya adalah wanita yang umurnya melebihi lima puluh, namun tubuhnya sangat energik. Santri-santri menyebutnya Mak Tami. Warung ini juga dekat dengan Kali Gelis yang membelah antara Jombang Barat dan Jombang Timur. Menu-menu yang disajikan beragam, dan keseluruhannya tradisional. Nasi pecel, nasi lodeh, nasi campur, mendoan, rujak, pisang goreng, dan sejenisnya. Kenapa bisa menjadi langganan para santri? “Kenyang dan murah,” kata Kang Arip yang telah mondok lima tahun. Memang mendoan di manapun berada berharga lima ratus perak. Tetapi, mendoan Mak Tami adalah mendoan jumbo yang lebih besar dari umumnya. Aku juga sering ke warung itu, bersama dengan teman-teman santri akrab berjalan sekitar tiga ratus meter dari Pondok Jagalan. Tak ada yang istimewa selain porsi yang melebihi warung lain. Harganya pun sama.Hanya saja, dalam menyajikan minuman, Mak Tami tidak terlalu ahli. Setiap kali ia menuangkan teh panas ke dalam gelas, selalu saja ada yang jatuh ke meja, membuat meja tampak becek. Gula-gula yang beralih dari toplesnya pun banyak tercecer seolah ia bukan penyaji minuman yang ahli. Mak Tami hanya menyerahkan senyumnya pada anak kecil, bisa dibilang cuek, dan mudah marah. Orangnya pendek, lumayan kurus, dan rambutnya yang perlahan memutih terikat dengan gelang karet yang biasanya digunakan sebagai pengikat bungkus nasi. Lebih tepatnya warung ini berada di depan masjid Kaujon, setelah menyeberang jalan kecil, jalan desa. Mak Tami berjualan hanya pada siang hari. Ia menata dagangannya sekitar jam satu usai dhuhur dan mungkin akan habis sebelum matahari tertelan ufuk barat. Tidak ada warung lain di dekat warung Mak Tami. Kalaupun ada, itu sudah berjarak lebih dari lima puluh meter. Yang ada cuma jasa pemarutan kelapa yang kadang buka, kadang tutup. Dan di sampingnya lagi sebuah bengkel yang terlalu sering sepi karena letaknya yang tidak strategis. Di samping masjid, berjajar pula kios-kios penjual barang mentah, minyak tanah, beras, dan juga bahan-bahan konveksi. Karena terletak di pinggiran kota, pepohonan tumbuh sangat jarang. Hanya tanaman-tanaman dan bunga-bunga dalam pot. Selebihnya rumput yang tumbuh secara liar dan ganas. Di belakang masjid, tumbuh pohon matoa yang lumayan banyak. Namun aku hanya bisa memandangnya ketika pohon itu berbuah dan buahnya masak. Jika ditanya pondok mana yang paling dekat dengan masjid Kaujon, jawabannya adalah Pondok Jagalan. Pondok di mana aku berada, mengisi waktu dan hari dengan mengaji dan menuntut ilmu agama. Pondok ini ramai. Walaupun jumlah santrinya hanya berkisar 300-an, tetapi tidak sebanding dengan luas pondok yang ada. Suatu hari, sekolahku mengadakan seminar motivasi dengan menghadirkan motivator nasional dari Jakarta. Seminar itu dihadiri oleh ribuan peserta dari Jombang maupun luar Jombang. Aku sangat tercengang sekali. Seumur hidup aku di pondok hanya berkelut dengan selimut kotor, kitab-kitab kuno, dan wajah kusam sahabat karibku. Tak pernah aku merasakan duduk di kursi seminar yang dibelongsong dengan kain mewah. Saat hendak duduk, aku harus berhati-hati jangan sampai kain itu kusut dan terlipat. Acara ini digelar atas kerja sama antara sekolahku sebagai panitia penyelenggara dan sebuah lembaga di Jakarta sebagai penyokong dana. “Menurut Winston Chuchill, keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat,” tutur Sang Motivator. Aku manggut-manggut. Aku pikir semua temanku yang datang juga terkejut. “Oh, ternyata selama ini kita tak tahu apa-apa. Kita hidup di pondok pesantren dan tidak melihat kenyataan hidup yang terang benderang seperti ini.” Sang Motivator itu pun melanjutkan dengan kutipan orang lain, “Seorang yang sukses adalah dia yang bisa meletakkan pondasi kokoh dengan menggunakan batu bata yang dilemparkan orang lain kepadanya, kata David Brinkley.” Dalam sesi tanya-jawab, seseorang mengacungkan tangan dan menerima microphone, lalu bertanya dengan penuh semangat, “Bapak, mengapa Bapak sangat mendorong orang-orang untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan, padahal Albert Einstein pernah bilang, ‘Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.’ Cobalah untuk tidak menjadi orang yang sukses, melainkan orang yang bernilai. Dan kata-kata ini juga senada dengan perkataan Ranchodas SC dalam film 3 Idiots. ‘Jangan bermimpi menjadi orang sukses. Bermimpilah menjadi orang besar, maka sukses akan mengikutimu.’ Bagaimana Bapak menanggapi ini? Terima kasih,” pungkas si penanya. Sebelum pertanyaan itu terjawab, ada sesuatu yang mengganjal dalam isi kepalaku. Aku segera bangkit dari kursi dan tak mempedulikan lipatan-lipatan yang ada di belongsongnya. Aku keluar tanpa tanda tanya dari Kang Arip yang tadi di sebelahku. Setelah melewati ribuan kursi, akhirnya aku sampai di pintu keluar. Aku tak merasakan udara buatan AC lagi. Beberapa resepsionis memandangiku dengan tatapan aneh. Mereka mengira aku mencari toilet, atau minta tambahan snack. Tapi aku lebih memilih beranjak ke bawah pohon yang tumbuh melengkung di depan gedung penyelenggaraan itu. Aku pun tak mengenali pohon apa itu. Setelah pantatku menyentuh rerumputan, aku menemukan apa yang sedari tadi mengganjal di dalam isi kepalaku. Oh, itu sebuah pertanyaan. “Kenapa setiap orang yang ada di gedung itu mengutip kata-kata orang lain?” *** “Kau tahu Winston Chuchill?” tanya Kang Arip pada Mahmudi yang sedang khusyuk menelaah kitab Safinatun Naja. Mahmudi menaikkan kedua alisnya, pertanda ia tak tahu apa yang Kang Arip katakan. Menyebut nama itu pun susahnya bukan main, lebih susah daripada mengucapkan makharijul huruf. Mahmudi menggeleng kepala. “Siapa?” “Winston Chuchill, tokoh terkenal internasional…” Kang Arip mengadahkan dagunya. “Tidak tahu kan? Kalo Albert Einstein? Pasti tidak tahu! Apalagi David Brinkley.” Mahmudi mengalihkan pandangannya dari kitab yang sedang ia baca. “Kalau Imam Bukhori saya tahu, Kang. Namanya Muhammad bin Ismail, lahir di Bukhara tahun 810 Masehi. Tapi kalau nama yang Anda sebutkan tadi saya gak kenal sama sekali.” “Winston Chucill, Albert Einstein, David Brinkley,” Kang Arip mengulangi lagi. “Coba sebutkan!” “Gak bisa, ah!” Kang Arip berseloroh. “Hahaha… makanya ikut seminar kemarin, jangan ngaji kitab gituan terus. Kapan kita bisa maju? Buktinya, kamu ndeso, kan?” Mahmudi kehabisan kalimat. Kami masih melingkar berempat. “Kang Arip, ikut aku yuk,” ajak Kang Qorib, teman sekamarku selain Mahmudi dan Kang Arip. “Kemana?” “Ke tempat di mana kita akan memborong banyak kutipan.” “Di mana itu?” “Warnet.” “Warnet? Haram. Itu pelanggaran,” tolak Kang Arip. “Tidak masalah, cuma sekali-kali, yang penting kita bisa mendapatkan kata-kata dari orang terkenal yang tingkatnya sudah internasional.” Setelah dibujuk berapa lama, akhirnya Kang Arip mengikuti ajakan Kang Qorib. Mereka berdua berangkat dengan pakaian ala santri, mengendap-endap seperti tahanan lapas yang mau melarikan diri. Sedangkan aku dan Mahmudi pergi ke warung Mak Tami dua jam setelah matahari tergelincir. Di warung itu, aku memesan nasi pecel, sedangkan Mahmudi memesan menu yang sama. Kebiasaan kami minum air putih dari teko yang telah disediakan. Di tengah suap nasi pecel, datang seorang ibu membawa anaknya yang baru pulang dari sekolah. Ibu itu berniat membeli lauk yang akan dimakan di rumah. Sehabis ibu itu memesan dan membayar, Mak Tami memasukkan dua mendoan ke dalam plastik bersama dengan pesanan ibu itu secara gratis. “Ini buat adek,” kata Mak Tami dengan senyumnya. “Sekolah yang rajin, ya.” Mak Tami memang terkadang begitu, memberikan gratisan kepada pelanggan. Apalagi kalau azan maghrib sudah terdengar, semua dagangannya akan digratiskan kepada santri yang datang. “Sekarang kecipir susah nyarinya di pasar,” kata Mak Tami tiba-tiba. “Jadi pecelnya ya tidak ada kecipirnya.” Aku baru menyadari kalau nasi pecel yang aku makan memang tidak ada sayuran merambat itu. Tapi aku rasa, kenikmatannya sama saja. Karena inti dari sebuah hidangan nasi pecel adalah sayur-sayuran dan bumbu kacang. Biasanya kangkung, bayam, kacang panjang, tauge, dan kol. Tapi setiap kabupaten memiliki pecelnya sendiri-sendiri. “Tidak apa-apa, Mak,” balasku. “Rasanya sama saja.” Kini yang sedang duduk di warung ini hanya aku, Mahmudi, dan Mak Tami saja. Karena jam ramai telah berlalu tadi. “Kecipir itu aslinya enak, mirip dengan bengkuang. Warnanya hijau, bentuknya panjang, rela dipotong-potong demi untuk dibuat nasi pecel. Bila belimbing memiliki lima sudut, kecipir memiliki empat sudut. Lima atau empat sama saja bagusnya.” “Kalau yang lain, Mak? Apa masih gampang nyarinya?” “Kalau gampang sih gampang! Harganya itu lho, kian hari kian melonjak, walaupun dua ratus rupiah. Jadi nasi pecel itu ibarat seorang anak yang diperjuangkan oleh orang banyak, seperti kalian. Nasi pecel itu tidak cuma dibuat dari satu bahan saja, tapi racikan dari beberapa sayuran dan bumbu. Kalian juga seperti itu, diperjuangkan oleh orangtua kalian, oleh saudara kalian, teman kalian sekamar, dan oleh Mbah Yai.” Aku mengangguk mendengar kata-kata Mak Tami, sekaligus tertegun sadar bahwa diriku kini diperjuangkan. “Kalau nasi campur, Mak?” “Nasi campur juga kumpulan dari beberapa bahan, mie, kering, tahu. Tapi bahan-bahannya tidak alami. Sedangkan nasi pecel alami, tanpa adanya proses sebelumnya selain cuma digodok dan diulek.” “Hubungannya sama kita apa Mak? Ada gak?” “Oh, ada. Itu menjadi sebuah pesan. Kalian harus menjadi alami, jangan sampai kalian dipengaruhi oleh hal-hal asing. Pemikiran kalian harus tetap berpijak pada kitab-kitab para ulama, kitabnya anak pondok. Jangan kagum dengan pemikiran-pemikiran orang Barat yang sesat. Apalagi perilaku mereka yang serba maksiat. Berpakaian saja tidak benar. Hi… aku malah risih.” “O, begitu ya, Mak. Kalau mengikuti seminar boleh apa tidak?” “Seminar? Ya boleh-boleh saja. Itu malah perlu. Tapi ingat, kita harus punya misi. Jangan sampai kita terbawa arus, kitalah yang harus membuat arus.” Tak terasa nasi di piringku sudah habis. Setelah aku meneguk segelas air putih, aku dan Mahmudi langsung membayar. Kami berjalan melewati Masjid Kaujon yang telah menabuh bedug ashar. Aku berkata pada Mahmudi bahwa kebanyakan mengutip kata-kata orang terkenal tidaklah baik. Percapakan dengan Mak Tami tadi hanyalah percakapan singkat. Dan aku yakin, Mak Tami yang kerjanya jualan nasi pecel itu lebih kolot dari kami semua. Tapi dia tetap mempertahankan kekolotan itu, karena kemodernan tidak bisa membuat ia menjadi lebih baik. “Itu tadi cuma percakapan singkat. Sejak perkataannya kepada anak SD tadi ‘sekolah yang rajin ya’ sudah membuat hatiku berubah. Itu adalah sebuah kutipan. Kutipan yang biasa dipakai banyak orangtua, walaupun tidak keluar dari mulut internasional. Kalimat itu sudah menjadi penyemangat disertai dua buah mendoan.” “Kalau begitu, kini saatnya kata-kata kita dikutip,” kata Mahmudi.
*) Penulis adalah Hilmi Abdillah, aktif di Sanggar Kepoedang (Komunitas Penulis Muda Tebuireng) Pesantren Tebuireng Jombang.Cerpen ini pernah dimuat di Radar Mojokerto (Jawa Pos Group) pada minggu (14/05/15)
Nyaris dua tahun sudah aku mengecap ilmu di negeri para nabi, betapa kewibawaan Al-Azhar yang berdiri seribu tahun yang lalu pada Dinasti Fatimiyah masih tetap gagah dengan bangunan yang megah serta ulama yang ikhlas dan sabar tak terhingga dalam menularkan ilmu agama sehingga tersebarlah para penerusnya ke berbagai belahan dunia, maka pantaslah Al- Azhar di sebut sebagai ka’batul ‘ilm (pusatnya ilmu agama).
Hari semakin siang, setelah menghadiri majlis talaqqi di masjid Al-Azhar. Terik matahari yang semakin menyengat mencucurkan keringatku, asap kendaraan bermotor mengerutkan keningku menambah semangatku mempercepat langkahku ke halte busdarrosah(kawasan) perkuliahan mahasiswa.
Hampir tiga puluh menit aku menunggu bis angkutan umum berwarna merah “80/”(delapan puluh coret). Tapi aku putuskan untuk naik tramco untuk menghemat waktu. Setelah tramco penuh, sang sopir pun menjalankan mobil yang membawa kami. Di tengah perjalanan, tepatnya di nadi syurthah masih dekat dengan bu’uts(asrama putra mahasiswa Al-Azhar yang mendapat beasiswa dari Al-Azhar) aku melihat kejadian yang cukup unik dan menggelitik perut, aku pikir ini hanya terjadi disini dan tidak akan pernah aku lihat di Indonesia. Memang di Mesir ini banyak sekali hal-hal unik dan lucu yang belum pernah aku saksikan di negeriku sendiri. Saat itu sang sopir tramco menghentikan mobilnya di tengah jalan. Ia yang ketika itu sedang minum syaai sambil mengemudikan mobilnya, memberikan teh yang sempat ia nikmati kepada rekannya sesama sopir tramco yang juga berhenti tepat di sebelah tramco yang aku naiki. Padahal saat itu di belakang kami dan dibelakang tramco yang dikemudikan oleh kawan sopir tramco tadi terdapat beberapa mobil yang ingin melewati jalan tersebut. Jadilah mereka harus menuggu beberapa saat karena ulah kedua sopir tramco tersebut. Lucu dan menggelikan sekali kejadian tersebut. Masak sempat-sempatnya minum teh berdua di tengah jalan ketika sedang mengendarai mobil. Aku pun hanya bisa tersenyum kecut melihat hal itu. Di satu sisi aku melihat adanya hal positif dari kejadian itu, keinginan untuk saling berbagi dengan sesama. Di sisi lain, aku melihat kurang tepatnya si sopir untuk menempatkan sesuatu yang baik pada tempatnya. Berbagi itu baik dan indah namun kalau berbaginya dengan cara yang seperti itu, tidak bisa dibenarkan secara etika dan logika.
“Ayyuwah ‘ala ganbik ya asytho, niziil gaami’ ”dengan lantang kutirukan lahjah orang mesir memberitahu sopir agar diturunkan digami’ hay ‘asyir, kawasan yang sebagian besar di huni para mahasiswa Asia khususnya Indonesia.
Sekilas kusapu pandangan ke sekeliling kompleks gami’ kutarik napas dalam-dalam membiarkan penat hilang bersama hembusan nafas. Seketika perutku berdendang, tanpa pikir panjang aku langsung tancap ke syabrowi, restoran khas makanan Mesir. Sambil menenteng tha’miyyah bil bet, dinamit , dan tho’miyyah bil baadzinjaan aku teringat perkataan salah seorang seniorku, “Ibarat bendera Mesir, Merah menunjukkan perjuangan yang takkan pernah habisnya, Putih di nisbatkan kepada Nabi Musa yang perilakunya mulia, Hitam melambangkan kegelapan yang dikiblatkan ke Fir’aun, buruk lagi congkak tak terhingga”.
Adzan Dzuhur sudah berkumandang, kulewati jalan swessry. Langkahku tertahan memandang di luar sudut Masjid Jami’ Ar-Rohman, berjejer penjual qibdah(roti isi hati sapi), di samping kanannya duduk nenek berjubah yang di depannya tersedia dua rak ‘isy(roti dari gandum).
Nenek itu tersenyum ramah melihatku menghampirinya, “sepertinya dia sudah sering melihatku mondar mandir di jalan swessry” sangkaku. Memang kontrakanku tepat di belakang Masjid Jami’ Ar-Rohman. Rasa penasaranku semakin menjadi, kurogoh plastik bertuliskan syabrowi, “Ittafadholli ya mamah” sapaku sambil menyodorkan tho’miyyah. Mamahpun menerimanya dengan senang hati.
Agak rikuh untuk langsung bertanya, namun kupaksakan demi rasa penasaranku untuk mengobrol dengan mamah. Ada batu agak besar di samping jualan mamah, ku duduk sembari meletakkan ransel di pahaku. Penjual qibdah nongol dari gerobak qibdahnya “enta min siin?” tegurnya sambil memutar tutup tabung gas berwarna biru di sampingku. “La ah, ana anduniisi” sahutku. Masak kulitku yang berwana sawo matang ini dibilang orang Cina. Mamah hanya tersenyum mendengar kami berdua saling menyahut.
Selama ini jika orang Mesir bertanya masalah asal, tak jarang orang Mesir langsung selonong dengan pertanyaan,”apakah kamu berasal dari Cina atau tidak?”. Semua orang Asia dikira orang Cina. Entahlah, mungkin mereka buta warna dan bentuk wajah untuk membedakan antara orang Cina dan Indonesia.
Kumulai obrolanku menggunakan bahasa ‘ammiyyah , “Nama mamah siapa ?” .
“Nama saya? Panggil saja Ummu Isma’il” sahutnya dengan lirih dan senyum khasnya, mungkin sebab gigi mamah banyak yang tanggal. Terlihat guratan perjuangan kehidupan di wajahnya, rambut yang berselang-seling putih dan hitam, menarik diriku ingin tahu lebih dalam.
“Nama asli mamah siapa? Kenapa di panggil Ummu Isma’il” responku lebih dalam. “Apakah harus ya di sebutkan nama asli saya? Isma’il itu nama anak saya yang pertama sekarang umur enam belas tahun, juga ada dua orang anak perempuan juga di rumah”, jelas si mamah.
Kuberanikan bertanya lebih dalam lagi, “kenapa mamah disini setiap hari menju’al ‘isy disini? Kemana suami mamah?” seketika itu juga mamah memandang lurus kedepan dengan pandangan kosong
“Suami saya juga penjual ‘isy juga”, saat kami ingin melanjutkan obrolan datang pembeli memanggil nama Ummu Isma’il seperti sudah tidak asing lagi dengan nama itu.
“Maaf nak, tadi mamah tinggal sebentar, semenjak enam tahun ditinggal suami, saya meneruskan usaha suami saya. Suami saya dulu terkena penyakit diabetes sehingga kedua kakinya di amputasi di rumah sakit, tapi saya tidak memutuskan semangatnya selalu berjualan ‘isy disini” sambil menunjuk ‘affas(sangkar dari kayu yang ia jadikan tempat duduk). Sontak aku tercenung. Kemudian kusahut dengan do’a “Allahummaghfirlahu Warhamhu Wa ‘aafihi Wa’fu ‘anhu”
“Aamiin Ya Rabb… Aamiin” mamah menjawab dengan penuh khusyu’ dengan mencium perut dan punggung tangan kanannya kemudian menangadahkan tangannya ke atas langit.
‘Isy atau roti yang terbuat dari gandum merupakan makanan pokok orang Mesir, di sebut ‘isy karena kata ‘isy berasal dari kata‘aasya- ya’issyu yang bermakna kehidupan. Begitu juga kata mamah “ni’matul ma’isy bi akli ‘isy”(kenikmatan hidup di rasakan dengan memakan ‘isy). Aku mengangguk mengamini perkataan mama, walaupun dalam hati sebenarnya aku lebih suka nasi di bandingkan‘isy.
Dalam proses pembuatannya, konon sebelum membuat ‘isy, para tukang ‘isy salat dua raka’at terlebih dahulu, dengan harapan ‘isyakan memberikan keberkahan bagi penduduk Mesir.
“Suami saya Abu Isma’il wafat ketika selesai Shalat ‘Asar” dengan bangga dan bercampur haru mamah mencurahkan isi hatinya kepadaku.
“Apakah mamah tidak dapat biaya santunan dari Negara?” tanyaku.
“Demi Allah, bekerja dari keringat sendiri lebih baik dan berkah di bandingkan mendapat santunan, saya melarang diri saya untuk menerimanya” dengan santun mamah mengimbuhkan. Mamah yang berumur lebih dari enam puluh tahun ini tetap baik hati dan ramah melayani pelanggan walaupun kaki kiri mamah mulau ringkih termakan usia. Selalu saja setiap ada kenalan mamah lewat, mamah akan melambaikan tangan dengan senyum khas, dalam hatiku berkata “Ya Allah, masih ada orang seramah dan baik hati seperti mamah. Seandainya semua orang mesir baik hati seperti ini”.
Berkali – kali ku tawarkan air minum ke mamah, tapi ia tidak mau menerima. Justru mamah menawariku air yang mineral yang sudah lusuh berdebu.
Mamah dari tiga anak ini bekerja dari pukul delapan pagi sampai selesai isya’, semua dilakukannya dengan penuh semangat dan keikhlasan. Bahkan jika tiba waktu shalat, ia shalat tepat waktu. Penghasilan perhari yang ia raih mungkin hanya sekitar 20-30 L.E. (sekitar 42.000 rupiah) tapi itu tidak melunturkan semangatnya untuk menyekolahkan anaknya. Setiap hari dari bolak balikduwaia(kawasan sayyidah aisyah) ke ‘asyir dengan gagah dan ramah melayani para pembeli, bahkan kalau macet ia harus berangkat dari pagi buta.
“Misr ummu dunya (mesir intisari alam semesta)” hiburku ke mamah.
“Mamah suka lagu ummu kultsum?” tanyaku. “iya saya suka” jawab mamah. Ku keluarkan handphone dari saku celana kiriku lalu kuputar salah satu lagu ummu kultsum yang berjudul “aruuh li miin”. Seketika itu mamah melihat lurus ke depan dengan pandangan kosong, “Almarhum Abu Isma’il juga suka lagu ummu kultsum” kata mamah.
Setelah selesai satu lagu, aku izin untuk meneruskan perjalanan menuju kontrakan. Sebelum beranjak pergi ku do’akan almarhum dan keluarga mamah agar selalu diberi kesehatan dan keberkahan di dalam hidupnya.
“Subhanallah” kuagungkan nama-Mu Ya Rabb, banyak hal kecil di sekitarku, namun aku kurang peka dalam menanggapinya. Sesungguhnya seseorang tidak mampu mengubah hati orang lain untuk berbaik sangka kepada dirinya, namun seseorang mampu mendidik hati diri sendiri untuk berbaik sangka kepada diri sendiri.
Bagi manusia yang berpikiran biasa, mungkin kebahagiaan itu terletak pada masa depan, pada pikirannya tentang teka-teki yang belum terlihat, mereka senang berpikir soal surga dengan ribuan kolam susu.
Namun, bagi manusia yang tercerahkan, kebahagiaan itu saat ini. Saat ia mampu menyeimbangkan hati, pikiran dan tindakan. Mereka yang tersenyum melihat dunia bekerja dan tidak pernah kecewa karenanya, karena kekecewaan adalah mesin cetak air mata.
Aku bangga padamu wahai Ummu Ismail. “Robbuna yubaarik fiik”.
Oleh : Arif Harmi Hidayatullah
*) Santri angkatan 2011, asal Bima Nusa Tenggara Barat. Sedang menempuh studi di Jami’ah Al-Azhar Kairo Mesir.
Malam jumat yang mencekam, bulan yang seharusnya ceria kini tampak buram. Aku masih berdiri menempel di dinding yang berada di samping pintu. Orang-orang aneh di ruangan kantor BEM tampak pucat, wajah mereka bopeng dan mulutnya lebar. Gigi-gigi besar dan iler meleleh keluar dari mulut berbau busuk. Bibir mereka tidak bisa untuk sekedar menutup. Semua mata melotot seperti hantu yang ingin mengajak pergi ke dunia gaib, akan menyeret tubuhku untuk melompat ke jurang. Satu diantara mereka bergerak mendekat ke arahku, jantungku dilanda ketakutan besar, tubuhku gemetar melihat tubuhnya menjadi meleleh, matanya yang keropos dan mulutnya yang hancur. Jiwaku terguncang dan memberi isyarat untuk segera berlari kencang, menghindar dari hantu mulut besar, tetapi semakin cepat aku berlari semakin dekat dia mengejar.
Kini bulan tinggal separuh, malam ini sinarnya buta. Aku tunggang-langgang melewati gang-gang sempit. Melarikan diri dari kejaran hantu menuju puncak gedung kampus. Melompati satu persatu anak tangga dengan sekarat. Saat ini aku mendapati teror amat besar. Terbayang sebuah kematian akan segera datang dan sadar bahwa pelarian ini adalah sia-sia. Tidak sejengkalpun hantu dower itu menjauh dariku meski aku berlari kencang dan dia hanya melangkah pelan.
Aku berteriak meminta tolong tetapi tidak ada yang mampu menolong. Malam begitu sepi. Semua orang telah tidur di kamar tidur mereka. Hanya berlari dan berlari yang bisa kulakukan. Sehingga kudapati diriku telah sampai di puncak gedung dan kurasakan ajal akan segera tiba. Tidak ada tempat untuk berlari lagi kecuali melompat dari ketinggian 35 Meter. Dalam ketinggian ini aku tahu jika melompat tidak mungkin bisa hidup. Tubuhku akan hancur, tulang-tulangku remuk dan kepalaku menggelinding entah kemana. Namun ketakutan membuatku tidak berpikir kesana. Aku segera mengambil ancang-ancang untuk melompat sambil berteriak minta tolong akan tetapi sia-sia. Aku benar-benar melompat dari puncak gedung kampus. Menantang kematian.
Kutemukan diriku di balik semak-semak bersembunyi dari kejaran hantu mulut besar. Dia masih berada di sisi lain tetapi saat aku mencoba mengintip, tiba-tiba dia sudah berdiri di depanku. Kepalanya berubah menjadi kadal dan tubuhnya membengkak. Aku berteriak sekarat dan berlari sesisa mampuku. Aku tidak tahu kapan akhir dari pelarian ini.
Cahaya itu muncul di depan sana. Aku melihat kakek Pocet duduk di kursi goyang. Kemudian muncullah persepsi kalau harapan hidup masih ada. Aku semakin cepat berlari mendekati Kakek Pocet. Menghindar dari hantu kepala kadal. Tapi yang kutemukan lebih menyakitkan lagi. Kursi goyang kakek, berlari menjauhiku. Aku berteriak “Berhenti!, berhenti!,. tolong aku kek, tolong aku kek!” kakek Pocet tidak menoleh sedikitpun. Kursinya semakin cepat menghindariku. Malam membuatku semakin putus asa, gelapnya adalah bau kuburan. Kakek dan kursinya lenyap di balik pohon Bindeng. Kini aku sekarat dan mampus. Harapan untuk hidup telah punah. Disamping nafasku tersengal aku menangis gila. Tidak ada yang bisa menolongku dari kejaran makhluk berkepala kadal kecuali mata telah terbuka.
Ya! Kini aku selamat. Terperanjat dari tempat tidur dan lolos dari ancaman mimpi buruk yang mengerikan. Tubuhku basah oleh keringat. Mataku masih melotot dan nafasku masih terputus-putus. Jam menunjukkan sekitar pukul dua malam. Aku beranjak dari tempat tidur. Mengambil air dalam kulkas dan meminumnya hingga habis satu botol.
Ternyata malu tadi siang membuatku terbawa kedalam mimpi buruk. Saat semua orang di kantor BEM mencampakkanku di lingkaran rapat karena menganggap mulutku banyak bacot. Memberi sebutan omong kosong atas nama diriku. Tidak seorangpun menilaiku sebagai manusia normal. Wibawa sebagai seorang yang lahir tanpa cacat hancur terbangkalai bahkan lebih hina dari picek mata, budek telinga atau bisu.
“Coba saja Suhai diam dan tidak banyak omong, mungkin saja aku akan segan dengannya!” Nuhat beber gosip di toilet kampus, di suatu hari ketika aku lewat.
“Ah, kau ini. Mana mungkin kebiasaan cerewet yang sudah mendarah daging bisa hilang begitu saja.” Teman di sebelahnya ambil bagian.
“Kenapa dia tidak mikir ya!? Kalau kita eneg mendengar banyolan dan sok ngalawak dia yang tidak jelas itu.” Lanjut Nuhat seolah berkuasa atas pribadiku. Semena-mena membicarakan mulutku yang dia anggap bocor.
Percakapan Nuhat bukan sekali dua kali terdengar dari balik pintu kelas. Dia seolah tidak merasa telah melukai seseorang. Saat cerita tentang mulutku menjadi topik utama, telinga serasa digigit semut merah. Mencabik-cabik perasaanku sebagai teman sekelas dan teman seorganisasi BEM. Menelanjangiku sebagai manusia yang ingin dianggap. Namun apa daya hakku untuk marah kalau yang mereka katakan adalah sebuah kebenaran mutlak. sedang aku secara sejati juga merasa benci pada mulut bocorku. Ucapan yang keluar darinya adalah musuh yang meruntuhkan kerajaan citra manusiaku. Sebuah konspirasi besar terjadi pada tubuhku.
Rapat koordinasi tadi siang menjadi berantakan karena mulutku. Kenapa kok tiba-tiba bibirku membahas gosip retaknya hubungan Asri dan Darto yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembahsan rapat. Tak juga karena Arsi cantik.
“Mereka itu putus karena ada orang ketiga. Tidak mungkin hanya gara-gara Asri tidak mandi dua hari Darto rela melepas kecantikan Asri, Eman-emanlah. Ya, saya pikir memang ada orang ketiga. Selain si Asri cantik tentu ada sebab lain. Lagian Asri centil sih! Reno kamu mau gantiin Darto? Peluangnya besar kawan ha ha ha. Baik kita lupakan itu! Acara seminar budaya akan kita laksanakan minggu depan. Tinggal kita urus berkas-berkasnya!” secara spontan kalimat itu meluncur dari mulutku. Semua anak di ruang rapat diam menatapku. Akupun baru sadar hal jelek telah terjadi melalui mulutku. Membicarakan orang di tengah rapat. Hal buruk itupun terjadi. Sebelum kuralat ucapan. Nuhat telah berdiri menyangga kedua tangannya ke meja, garis mukanya tidak bersahabat. Pantas karena nama Asri yang kubicarakan adalah sepupunya.
“Kamu kalau ngomong jaga ya! saya disini mendengarnya. Perlu Suhai tahu, sepupu saya bukan keganjenan dia anak baik-baik. Kok tiba-tiba kamu ngomong centil, gak mandi dua hari, maksud kamu apa?” Nuhat betul-betul marah, ucapannya membuat semua mata menjatuhkan pandangan ke arahku. Tergegap, ya! Aku pucat pasi. Mendadak semua ruangan berubah menjadi gelap hanya lampu dop bergelantung di atas kepala seperti berada di ruang interogasi.
“Kami tahu kalau kamu pembohong!”
“Kami selama ini tahu kamu terlalu bocor untuk seorang ketua BEM. Biar, biar! Saya sudah lama ingin mengatakan ini. supaya dia mikir. Kita-kita ingin lebih serius. Serius Hai!”
“Ingat! kalau omongan busukmu itu kedengaran Asri kamu mampus!” Nuhat bukan hanya berani mengataiku tapi dia sudah berani mengancamku. Orang yang dalam struktur adalah Ketua.
“Sekarang jawab! Kenapa kamu ngomongin Asri?” aku tergagap menerima pertanyaan sulit dari Nuhat.
“Ya… Biar tidak tegang. Biar kita Refresh” ucapan gagap itu keluar dari mulutku saat masih duduk membeku. Ketika sedang terperosok ke dalam wilayah non-manusia. Setara antara ada dan tiada. Lemah mengecilkanku seolah menjadi tumpuan nista. dan semua itu adalah ulah mulut nyinyirku. Dia bergerak sendiri tanpa kendali otak. Memberontak dari bagian tubuhku yang lain. Dia adalah penghianat diatas penghianat.
“Saya heran! kamu ini adalah Cucu kakek Pocet. Kok bisa punya mulut parah seperti itu?” Nuhat lagi-lagi menamparku dengan ucapan. Dia semakin memperparah keadaan yang sudah parah. Kaki dan tubuhku seperti halnya kursi, ketiganya sama-sama mati.
Nuhat membanding-bandingkan diriku dengan kakek Pocet. Seorang tua yang pendiam dan disegani semua orang. Dia kakekku yang kemampuan bicaranya hanya sepuluh persen. Kakek yang kucurigai menderita bisu ringan. Mulutnya tidak berbicara kecuali ditanya orang. Tapi orang-orang tidak bosan berbicara dengannya. Sosok yang menurutku agak bisu. Dan berbanding terbalik dengan diriku. Buktinya kalau kakek Pocet di segani orang maka aku disepelekan orang. Bila kakek Pocet berbicara sedikit maka aku bicara banyak. Bila ada orang berbincang dengan kakek maka orang itu yang lebih banyak bertanya dan mencari bahasan sehingga kakek tinggal menjawabnya. Tetapi bila ada orang berbincang denganku maka aku yang harus bekerja keras mencari topik pembicaraan, dan sering-sering bertanya agar nyambung. Itupun sering aku tidak dipedulikan. Bila orang-orang merasa enak berbicara dengan kakek Pocet maka lain halnya denganku. Tidak ada sedikitpun kharisma dalam diriku.
Dan akulah bukti bahwa tidak semua buah jatuh di dekat pohonnya. Aku lahir dari kelainan gen yang berimbas pada kelainan nasib. Dan penyebab kelainan itu hanya terletak pada satu titik yaitu mulut.
****
Kamarku masih tampak gelap. Ada seekor kunang-kunang masuk melalui celah jendela mengelilingi seluruh ruangan dan hinggap di dinding. Aku keluar dari kamar. Melangkah menuju kamar Kakek Pocet. Orangnya masih tidur lelap. Kursi goyangnya menghadap keluar jendela. Cahaya bulan menembus genteng kaca membuatku dapat melihat wajah kakek Pocet cukup jelas. Dalam tidurnya terpancar karisma seorang tua. Senyum sosok yang disegani. Senyum manusia yang telah di manusiakan. Mempunyai tempat di mata setiap orang. Tidak ada perkataan nista keluar dari bibir keriputnya.
Kukeluarkan kaca cermin yang kubawa dari kamar. Meski malam tampak gelap tapi sedikit sinar bulan membuatku bisa melihat muka dalam keburaman malam. Memandangi wajahku disana dan membandingkannya dengan wajah kakek Pocet. Ternyata mirip! Mata, pipi, telinga, Bentuk mukanya yang oval. Dan bentuk rahang perseginya, persis!!. Beda karena dia sudah keriput dan aku belum. Tapi kenapa kesamaan ini tidak memberi kesamaan pada nasib. Siapa sebenarnya diriku ini? Kenapa kemanusiaanku begitu berbeda dibanding Kakek Pocet?
Kenyataan ini membuatku pantas menuntut keadilan Tuhan. Menuntut hak keturunan. Meski tidak diberi kesamaan persis tapi beda sedikit tidak apa. Bahkan seumpama Tuhan membuatku bisu seumur hidup atau mengirim petir menempeleng mulutku yang bocor aku rela. Asal aku bisa menjadi manusia.
Ada rembasan air di mataku disebabkan lamunan perjalanan kehidupan masa lalu. Aku bukan tidak mencoba menjadi seorang pendiam. Pernah kucoba beberapa kali tapi selalu gagal bahkan pernah sampai dua bulan tidak berbicara dengan orang-orang sehingga aku merasa menjadi penjara. Mulutku terus memberontak keras menjadikan citra yang dibangun dua bulan hancur hanya dalam lima menit bicara.
Mendengar sergukan ingusku, mata kakek tiba-tiba terbuka. Dia bangun dari tidur. Melihatku yang hampir menangis kemudian kakek menyingkap selimut. Tangan rentanya diletakkan di pundakku.
“Ada apa Hai?”
“Aku tidak sanggup lagi Kek. Aku telah kalah Kek!. Semua orang mengataiku pembohong. Tidak ada lagi yang mempercayaiku. Mulutku terlalu nyinyir Kek!”
“Apa yang kau katakan Hai?”
“Aku kek. Aku. Orang-orang selalu membandingkan aku dengan kakek. Kenapa mulutku banyak omong sedang kakek tidak. Kenapa orang segan pada kakek sedang padaku jijik. Kenapa orang gampang mengolokku sedang pada kakek tunduk. Kenapa kakek dianggap hebat sedang aku ada atau tidak ada sama saja. Kenapa kakek pendiam sedangkan aku banyak bacot, membicarakan orang-orang. Kenapa aku sendiri tidak sanggup menahannya. kenapa kek. Kenapa?” yang kutanyai masih diam “Atau jangan-jangan aku bukan cucumu?” tangan kakek bergetar. Matanya melotot. Setiba-tiba langsung menampar mukaku. Sangat keras!
“Apa? Suhai pikir kakek tidak bisa merasakan apa yang Suhai rasakan? Suhai pikir kakek tidak pernah mengalami apa yang terjadi pada Suhai saat ini? Suhai pikir kakek tidak pernah mengalami hal buruk seumur hidup? Suhai pikir kakek sudah hebat sejak lahir? Oh. Jadi Suhai belum tahu kalau Kakek hampir mati gara-gara minum racun serangga? Jadi Suhai belum tahu kalau nyawa kakek hampir melayang gara-gara habis minum racun kemudian gantung diri di dapur? Heh. Suhai salah besar. Kakek masih ingat, kalau seandainya tidak ada Tarmin yang menolong Kakek dan cepat-cepat mengantar ke rumah sakit mungkin sekarang Suhai tidak bisa melihat kakek disini.” Kakek Pocet meninggikan suaranya, matanya menatap genteng kaca. Melihat bulan dengan menghubungkan tragedi bunuh dirinya. Agak lama kekek diam.
“Dulu. Kakek membuat dua keluarga tetangga di kampung berantakan karena omongan kakek. Membatalkan lamaran keponakan karena calon suaminya kakek anggap tidak cocok. Membuat suasana rapat Kepala Desa hambar karena kakek melawak, dan mengajukan usul tidak serius. Kakek malu Hai! Padahal kakek tidak ingin seperti itu. Kakek benci punya mulut nyinyir, tapi mulut kakek berbicara sendiri, dia seolah tidak bisa dikendalikan sehingga tahu-tahu semua sudah berantakan. Kalau malam datang sering kakek bermimpi mempunyai kehidupan seperti orang biasa. Mempunyai citra kemasyrakatan. Terlepas dari keterplesetan ucapan. Sehingga pada akhirnya oleh sebab mimpi-mimpi itulah kekek menemukan dua pilihan. Pilihan pertama minum racun serangga dan gantung diri di dapur dan kedua terus berusaha diam dan bersabar. Tapi kakek memilih yang pertama karena kakek bodoh.” Kakek menarik napas sebantar wajahnya ditundukkan beberapa saat dan kembali menatapku.
“Tapi Allah berkehendak lain. Kakek masih diberi kesempatan hidup dan membuat keturunan. Dan sekarang seandainya Kakek disuruh memilih kembali antara dua pilihan tadi maka akan Kakek pilih yang kedua. Sebab berjuang melawan kemunafikan adalah jihad Fi Sabilillah.
*Zainuddin AK bin Sugendal, adalah cerpenis Pesantren Tebuireng Jombang asal Sampang MaduraDuduk di kelas 4 Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ri Tebuireng. Ia bergiat di Majalah Tebuireng dan KOPISARENG (Komunitas Sastra Santri Tebuireng