Seperti di pesantren-pesantren lain, di
pondok Cak Jahlun juga diwajibkan shalat berjamaah di masjid. Semua
santri mematuhinya sebab bila melanggar akan terkena sanksi. Suatu saat
menjelang shalat ashar Cak Jahlun sudah siap-siap di masjid. Adzan-pun
dikumandangkan. Setelah adzan, muadzin membaca dzikir sambil menunggu
santri yang masih shalat qabliyah ashar, sekaligus menunggu Kiai Sepuh
yang kebetulan sedang ada tamu. Lama menunggu membuat Cak Jahlun kebelet
pipis. Tiga puluh menit berlalu, para tamu sudah keluar dari ndalem kasepuhan.
Cak Jahlun bermaksud membuang hajatnya, namun ia mengurungkannya sebab
Kiai Sepuh sudah tiba di masjid. Iqamah-pun di kumandangkan. Semua
santri berdiri.
Pada saat shalat berlangsung, kebelet
pipis Cak Jahlun semakin menjadi. Dengan segenap usaha ia menahannya.
Menundukkan muka, mengernyitkan dahi, menggigit bibir ia lakukan agar ia
bisa menahan hajatnya tersebut. Kalau dilihat sepintas mungkin orang
yang melihat Cak Jahlun sedang shalat pasti akan mengira kalau Cak
Jahlun sedang khusyu’. Akhirnya shalatpun sampai pada rakaat terakhir.
Cak Jahlun agak lega sebab sebentar lagi ia bisa menumpahkan hasratnya.
Sampailah shalat mereka pada sujud terakhir, Kiai Sepuh seperti biasa
memperlama sujudnya tersebut. Namun Cak Jahlun yang sudah sejak tadi
menahan kencing sudah tidak kuat. Namun Kiai Sepuh tidak juga menyudahi
sujudnya. Akhirnya pertahanan Cak Jahlun mulai kendor dan “Srrrrrrr”,
air seninya keluar tanpa permisi menjebol pertahanannya. Masjid banjir
jamaahpun kocar-kacir. [F@R]
Cak Jahlun adalah orang yang katrok.
Ia belum pernah tahu mall. Ia ingin sekali melihat isi mall. Diapun
minta bantuan Paijo untuk mengantarnya jalan-jalan ke mall. Paijo
menyanggupinya.
Singkat cerita, Cak Jahlun dan Paijo
jalan-jalan di sebuah mall di Surabaya. Biasanya, orang pergi ke mall
bawa uang banyak. Tapi keduanya tidak bawa uang banyak, karena hanya
berniat jalan-jalan. Ketika memasuki sebuah toko pakaian, mereka
bersamaan dengan ibu yang kelihatan tajir.
Mereka pura-pura pilih pakaian.
Kebetulan ibu muda tersebut punya selera yang sama. Pilih sini ketemu,
pilih sana ketemu, akhirnya ibu itu menghardik mereka, supaya tidak
mengikutinya.
Keduanya lalu menjauh. Ketika di depan
kasir, kebetulan Cak Jahlun dan Paijo pas berada di belakang ibu muda
tadi. Tanpa diduga, ibu muda tersebut kehilangan dompetnya. Tanpa ba bi
bu lagi si ibu menuduh Cak Jahlun dan Paijo yang telah mengambil
dompetnya karena dari tadi mengikutinya terus. Seorang Ibu lain
mengusulkan agar tidak cepat menuduh dan memintanya untuk bertanya
kepada orang yang di rumah, mungkin ketinggalan. Tapi ibu muda itu tetap
ngotot menuduh Cak Jahlun dan Paijo yang telah mengambilnya.
Mendapat tuduhan seperti itu Cak Jahlun
pucat pasi takut bukan kepalang. Seumur-umur baru sekarang jalan-jalan
ke mall dan langsung dapat musibah.
Di dalam mall itu mereka berdua dimaki
habis-habisan. Pak satpam pun ikut membantu. Seorang bapak datang
menghampiri mereka. Ternyata dia suami ibu yang menuduh tadi. Dia
mengatakan kalau dompetnya terbawa olehnya.
Cak Jahlun dan Paijo merasa lega. Ibu
itupun meminta maaf. Karena tahu ibu itu tajir, Paijo mengajukan syarat
padanya. Ia minta ganti rugi sebesar Rp. 3.000.000 karena malu dituduh
dan dimaki di depan umum.
Cak Jahlun kaget dengan permintaan Paijo. Cak Jahlun berbisik kepadanya: “Apa tidak kebanyakan?”
“Santai aja, Cak. Dia orang kaya, harus dikasih pelajaran” jawab Paijo mantap.
Ibu itu menyetujuinya. Dompetnya dibuka,
lalu dihitungnya uang sebanyak 3 juta. Kemudian uang itu diserahkan
kepada Cak Jahlun. Merasa akan menerima uang, Cak Jahlun langsung
menengadahkan tangan hendak menerima. Namun tiba-tiba, tangannya terasa
sakit karena dipukul oleh ustadz Halim. ”Heh, bangun !!! Sudah shubuh!
Ayo sholat !!!” [F@R]
SMA Abdul Wahid Hasyim didirikan pada tahun 1975, Sekolah ini
telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di seluruh tanah air dengan
berbagai profesi mulai birokrat, legislatif, pengusaha, serta ulama. [1] Berbagai prestasi telah diraih sekolah ini, baik tingkat local maupun regional.[1]
Berbagai usaha telah dilakukan untuk terus meningkatkan prestasi siswa
baik akademik maupun non akademik, di antaranya pelatihan metode Quantun untuk para guru, bimbingan intensif untuk siswa serta pembentukan TOS (Tim Olimpiade Sekolah) untuk berbagai lomba.[1]
Beasiswa Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng 2017 – 2018
.
PENDAFTARAN BEASISWA MA’HAD ALY HASYIM ASY’ARI PESANTREN TEBUIRENG 2017-2018
.
A. PENGEMBANGAN INSTITUSIONAL
Ma’had
Aly merupakan perguruan tinggi keagamaan islam yang menyelenggarakan
pendidikan akademik dalam bidang penguasaan ilmu agama islam (Tafaqquh
fiddin) berbasis kitab kuning yang diselenggarakan oleh pondok
pesantren. Ma’had Aly juga merupakan pendidikan lanjutan dari pendidikan
diniyah formal yang setara dengan tingkat sarjana S1. Tujuan dibentuk
pendidikan Ma’had Aly adalah menciptakan lulusan yang ahli dalam bidang
ilmu agama Islam (mutafaqqih fiddin), dan mengembangkan ilmu agama Islam
berbasis kitab kuning. Oleh Karena itu untuk membangun keunggulan
dengan integritas akademik yang tinggi, maka setiap Ma’had Aly hanya
diberikan izin penyelenggaraan untuk satu Program Studi yang mana akan
dikembangkan menjadi pusat kajian keilmuan ke-Islaman dan ke-pesantrenan
secara sekaligus. Dalam hal ini, Kementerian Agama hanya memberikan
kewenangan kepada 13 Ma’had Aly untuk menyelenggarakan pendidikan
tersebut. Salah satu dari 13 Ma’had Aly yang mendapatkan kewenangan
tersebut adalah Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.
Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari didirikan dan diresmikan oleh pengasuh Pesantren Tebuireng, (Almaghfurlah)
KH. Muhammad Yusuf Hasyim dan Dr. Hc. KH. Ir. Salahuddin Wahid pada
tanggal 6 September 2006 yang bertepatan dengan tanggal 12 Sya’ban 1427
H.
Sejak
awal pendirian hingga tahun 2015, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari
menyelenggarakan satu Program Studi Fiqh wa Ushul al-Fiqh yaitu
menitikberatkan pada kajian fiqh dan ushul fiqh. Bertepatan pada tanggal
30 Mei 2016 , Ma’had Aly Hasyim Asy’ari telah menerima SK Izin
Pendirian dan No. Statistik dari Menteri Agama yang diserahkan bersamaan
dengan acara wisuda ke -3 mahasantri. Atas dasar SK tersebut, sejak
tahun akademik 2016 – 2017 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari tidak lagi
menyelenggarakan Program Studi Fiqh wa Ushul al-Fiqh, akan tetapi Ma’had
Aly Hasyim Asy’ari diberikan kewenangan hanya untuk menyelenggarakan
satu program takhasus Hadits dan Ilmu Hadits strata
1(S1). Kehadiran SK tersebut sekaligus memastikan legalitas Ma’had Aly
dalam sistem pendidikan nasional yang setara dengan lembaga pendidikan
tinggi agama dan umum baik dalam pengakuan, status, lulusan maupun
perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan dan pengembangannya.
VISI DAN MISI
1. VISI :
Unggul dalam mengusai tradisi ulama salafus-saleh baik di bidang ilmiah maupun amaliah serta lahirnya generasi penerus Islam yang khairu ummah, tafaqquh fi ad-diin
2. MISI :
a. Menyelenggarakan
studi agama secara mendalam menyeluruh melalui sistem perpaduan
pendidikan pondok pesantren dan perguruan tinggi.
b. Mempersiapkan kaderisasi ahli hadits yang dapat mewarisi dan mengembangkan tradisi ilmiah dan amaliah sesuai tuntutan zaman.
.
B. PROGRAM STUDI
Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng semenjak berdiri hingga sekarang ini menyelenggarakan satu (1) program studi Al -Hadits Wa Ulumuhu (Hadits dan Ilmu Hadits). Program studi ini bertujuan;
1.
Membentuk sarjana Islam yang berkompeten dalam ilmu Agama Islam, ahli
dalam menggali serta mengembangkan nilai-nilai khasanah keislaman,
terampil menerjemahkan dan berkomunikasi dalam bahasa Arab dan Inggris.
2.
Mengkondisikan mahasiswa dalam suasana belajar yang dapat melahirkan
ulama’ yang mampu memecahkan masalah-masalah keagamaan secara tepat
sesuai dengan perkembangan zaman.
3. Menanamkan sikap dan kemampuan mahasiswa agar memiliki sifat saleh (Akhlaq al-Karimah) dan kepakaran (Ulum an-Nafi’ah)
.
C. KURIKULUM
Kurikulum
Ma’had Aly disusun sesuai dengan tujuan pendidikan, yaitu mengkaji
bidang studi Agama Islam dengan program kekhususan ilmu yang terbagi
dalam 3 muatan kurikulum, yaitu:
1. Unsur yang membangun kemampuan dasar keilmuan Islam yang tercermin dalam Mata Kuliah Dasar (MKD)
2.
Unsur yang berfungsi untuk membangun kemampuan metodologis dan
ketajaman analisis problematika keislaman, pengembangan keilmuan islam,
yang tercermin dalam Mata Kuliah Utama (MKU)
3. Unsur
yang berfungsi untuk memperkaya, melengkapai, memperlancar dan
memantapkan potensi yang tercermin dalam Mata Kuliah Pendukung (MKP).
.
D. DESKRIPSI PROGRAM PENDIDIKAN
Untuk mendukung tercapainya kualitas lulusan, mahasiswa dibina secara terpadu oleh musyrif di asrama yang siap membantu mengembangkan bakat, minat serta kreatifitas mahasiswa. Adapun proses belajar mengajar seluruhnya disampaikan dengan mengunakan BahasaArab dan BahasaInggris dengan klasifikasi program belajar sebagai berikut :
1. Dirasah Yaumiyyah disampaikan dengan metode :
a. Ceramah dan dialog interaktif
b Pengajian model bandongan dan sorogan
c. Studi kepustakaan literatur klasik keagamaan
d. Tadris wa at-ta’lim
e. Muhadatsah / Muhawaroh
f. Penugasan penulisan ilmiah
2. Kegiatan extra
a. Mudzakaroh / kajian mendalam terhadap kitab-kitab tertentu untuk penguasaan bidang studi dengan bimbingan dosen bidang studi
b. Masa’il Fiqhiyyah, Maudlu’iyyah dan Waqi’iyyah
c. Bahtsul Masail
d. Resimen Mahasiswa (MENWA)
e. Penerbitan
.
E. DOSEN PENGAMPU
Dosen
Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari PP. Tebuireng adalah lulusan S-2, S-3, dan
Guru Besar. Sebagian adalah lulusan dari perguruan tinggi luar negeri,
seperti: Jami’ah Al-Azhar Kairo Mesir, Umm al-Qurro University Makkah
Al-Mukarromah, Jami’ah Islamiyyah Madinah, Jami’ah Imam bin Saud
al-Islamiyyah, serta Capetown South Africa. Sebagian lagi dari dalam
negeri, seperti, IAIN Sunan Ampel Surabaya, IAIN Sunan Kalijaga
Jogjakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, LIPIA Jakarta dan lain-lain.
No
Nama
Kualifikasi Pendidikan
Universitas
1
Prof. Dr. HM. Djamaluddin Miri, Lc. MA.
S – 3
UIN Syahid Jakarta
2
KH. Nur Hannan, Lc. M.HI.
S – 2
UNHASY Tebuireng
3
KH. A. Syakir Ridwan, Lc. M.HI.
S – 2
UNHASY Tebuireng
4
Drs. KH. M. Mutoharun Afif, Lc. M.HI.
S – 2
UNHASY Tebuireng
5
KH. Lutfi Sahal, Lc.
S – 1
Univ. Islam Madinah
6
Dr. KH. M. Farid Zaini, Lc. M.HI.
S – 3
UIN SAS
7
Dr. H. Ahmad Syakur, Lc. M.Ei.
S – 3
UIN SAS
8
H. Najib Junaidi, Lc.
S – 1
LIPIA Jakarta
9
Zainu Ridlo, S.Pd. M.PdI.
S – 2
UNHASY Tebuireng
10
H. Abdus Salam Masykur, Lc. MA.
S – 2
Univ. Negeri Jogjakarta
11
Dr. Ahmad Sholihuddin, M.Pd. MA.
S – 3
UIN Malang
12
H. M. Makmuri Abd Shomad, M.HI.
S – 2
UNHASY Tebuireng
13
Drs. H. Muhsin Ks., M.Ag.
S – 2
UIN SUKA
14
Agus Mustofa, M.PdI.
S – 2
UNHASY Tebuireng
15
H. Ahmad Kholisudin, Lc. M.HI.
S – 2
UIN SAS
16
Dr. H. Masyhur, Lc. M.PdI.
S – 3
UIN SAS
17
Dr. H. Agus Afandi, M.Pd.
S – 3
UIN SAS
18
H. Ahmad Roziqi, Lc. M.HI.
S – 2
Univ. Darul Ulum
19
Dr. KH. A. Musta’in Syafi’i
S – 3
UIN SAS
20
Dr. H. Jamaluddin A. Kholik, Lc. MA.
S – 3
Univ. Al-Azhar Cairo
21
KH. Habib Ahmad
Kyai Khos
Pesantren Tebuireng
22
Drs. KH. Taufiq Rohman
Kyai Khos
Pesantren Tebuireng
F. SYARAT-SYARAT PENDAFTARAN
1.Syarat Umum dan Akademik
ü Laki-laki dan perempuan, belum menikah
ü Semua lulusan MA / SLTA Negeri atau swasta yang berijazah negara.
ü Memiliki kemampuan dasar Bahasa Arab secara aktif, mampu membaca kitab kuning, dan dapat membaca al-Qur’an dengan lancar.
2.Syarat Administrasi
a. Membayar biaya pendaftaran Rp. 200.000,- (untuk formulir dan ujian seleksi masuk)
b. melampirkan surat rekomendasi dari Pengasuh Pesantren asal
c.
Menyerahkan 2 (dua) lembar fotokopi Ijasah Madrasah Aliyah / SMA/SMK
atau yang sederajat dan transkip nilai yang telah dilegalisir
masing-masing sebanyak 2 lembar
d. Mengisi surat pernyataan tidak akan menikah sebelum menyelesaikan studi.
e.
Mengisi surat pernyataan bersedia mengabdi selama 1 (satu) tahun di
lembaga yang ditentukan oleh Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dan Pesantren
Tebuireng.
f. Menyerahkan Foto copy identitas diri (KTP/KTS) 2 lembar
g. Mengisi formulir pendaftaran di kantor Ma’had ‘Aly.
h. Menyerahkan Pas Foto ukuran 3 x 4 dan 4 x 6 masing-masing sebanya 4 (empat) lembar hitam putih / berwarna
i. Penyerahan berkas pendaftaran dimasukkan kedalam Stop Map:
ü Warna Hijau : Madrasah Aliyah
ü Warna Kuning : SMU / Sekolah Kejuruan
j. Pendaftaran juga bisa dilakukan secara online dengan cara sebagai berikut :
Print dan isi form tersebut dengan tulisan tangan, lalu scan dan kirimkan ke email ma’had aly : mahadaly@yahoo.co.id
simpan dan lampirkan form tersebut bersama berkas persyaratan yang lain, lalu bawa dan serahkan ke kantor ma’had aly sehari sebelum seleksi dilaksanakan.
bagi pendaftar yang tidak menyerahkan semua berkas persyaratan pada hari yang ditentukan, maka dianggap mengundurkan diri.
.
G. WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN
Untuk Tahun Akademik 2017-2018 Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari membuka pendaftaran mahasiswa baru dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Waktu Pendaftaran
Gel
Pendaftaran
Seleksi
Pengumuman
Her Registrasi
I
11 Februari – 20 April 2017
22 – 23 April 2017
Pukul 14.00 sd selesai
26 April 2017
26 – 27 April 2017
II
29 April – 18 Mei 2017
20 – 21 Mei 2017
Pukul 14.00 sd selesai
24 Mei 2017
24 – 25 Mei 2017
Seleksi dilaksanakan di kampus Ma’had Aly Hasyim Asy’ari
Catatan:
Hari Jum’at tutup.
Jadwal diatas dapat berubah sesuai keputusan terbaru
2.Tempat Pendaftaran:
a. KantorMA’HAD ‘ALY HASYIM ASY’ARI TEBUIRENG Jl. Irian Jaya no. 10 PP. Tebuireng Jombang E-mail:info.mahadaly@yahoo.co.id
b. Panitia Penerimaan, No Telp:
H. Nur Hannan, Lc. M.HI. telp 0821 4120 4922 / 0857 3087 5537
M. Hamsa Fauris, SA. S.Pd.I. telp. 0857 5500 0615 / 0812 5229 8506
M. Anang Firdaus, SA. S.PdI. telp. 0856 4555 7060
Bambang Tetuko P. H, SA. S.Sy telp. 0857 8532 9919
c. Informasi Asrama Mahasiswa
H. Lutfi Sahal, Lc. phone 0856 3011 567
3. pendaftaran online
H. PELAKSANAAN TES
1. Materi tes
1. Tes Tulis
a. Pengetahuan Agama Islam (PAI)
b. Bahasa Arab (BA). dengan muatan:
1). Muhadatsah
2). Qiro’ah
3). Nahwu dan shorf
2. Tes Lisan
a. Membaca Kitab Fath al-Qorib (bab Toharoh, sholat, zakat, siyam dan haji)
b. Baca al-Qur’an
2. Tempat Tes
Tes akan dilaksanakan di Kampus Baru Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Lt. 1
3. Kegiatan perkuliahan bagi yang dinyatakan lulus lulus akan dimulai pada hari Ahad tanggal 16 Juli 2017
.
I. BEASISWA BAGI YANG BERPRESTASI
1. Diberikan beasiswa untuk 35 mahasantri putra dan 25 mahasantri putri. Bagi 60 mahasantri tersebut dibebaskan dari biaya kuliah, uang gedung dan asrama.
2. Selama masa studi mahasiswa harus tinggal di asrama Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.
.
J. IJASAH S-1 (STRATA 1)
Bagi lulusan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari akan diberikan ijasah dari Kemenag RI dengan menyandang gelar S.Ag (Sarjana Agama)
.
K. SARANA DAN FASILITAS
Untuk menunjang keberhasilan program studi di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Pondok Pesantren Tebuireng menyediakan :
Kuliah Umum Prof. Dr. Muhammad D. Al Amri , Ilmuwan Muslim Jadi Ispirasi Santri Trensains Tebuireng
Prof. Amri sedang memberikan kuliah umum
Ratusan santri bersama asatidz, mudhir bidang pendidikan, dan
perwakilan pengawas Pesantren Tebuireng kemarin (31/08/2016) mengikuti kuliah
umum yang diberikan oleh Prof. Dr. Muhammad D. Al Amri dari King Abdul Aziz
City for Tecnology and Science Saudi
Arabia.
Dalam acara tersebut turut hadir pula KH.
Agus Purwanto, D.Sc, pendiri Trensains beserta rombongan, salah satu anggota
rombongan yaitu Dr. Bintoro AS. yang sekaligus murid Kyai Agus bertindak sebagai
moderator kuliah umum.
Kuliah umum dengan tema “ Quantum
Cryptography in Islamic Countries” tersebut serentak menjadi perhatian asatidz
dan santri Pesantren Tebuireng 2 (Trensains), pasalnya dalam acara tersebut
sang ilmuwan mengungkapkan bahwa konsep Cryptogarphy
sebetulnya pertama kali digagas oleh ilmuwan muslim bukan ilmuwan barat. Beliau
adalah Abu Yusuf Ya'kub Al-Kindi yang dikenal sebagai
filsuf pertama yang lahir dari kalangan Islam, Nasabnya sampai pada Qahthan berdarah
Arab asli. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia mahir berbahasa
Yunani. Dia juga salah seorang ilmuwan besar muslim dalam bidang kedokteran dan
pemilik salah satu pemikiran terbesar yang dikenal sepanjang peradaban manusia.
Prof. Amri sedang memberikan kuliah umum
Sang ilmuwan juga mengungkap tentang kehebatan para
ilmuwan muslim pada zaman dahulu serta kontribusinya terhadap perkembangan sains dan teknologi
pada zaman sekarang, kontribusi tersebut antara lain dalam bidang kimia,
biologi, astronomi, kedokteran, dan lain sebagainya. Hal ini sangat
menginspirasi para santri SMA Trensains Tebuireng, sebab apa yang disampaikan
sang ilmuwan tersebut senada dengan semangat pendirian Trensains. Menurut
pengakuan Dina Rosalina (santri kelas XII-Sains 4) dan beberapa temannya saat
diwawancarai oleh Trens Onlinebahwa acara tersebut begitu
menginspirasi mereka, bahkan mereka berkeinginan untuk dapat mengikuti jejak
para ilmuwan muslim masa lalu untuk dapat mengembangkan sains, dan tentunya
dibagun dengan al Qur’an sebagai basis epistemologinya.
Walaupun
acara tersebut disampaikan dalam
bahasa arab dan inggris, tidak membuat para santri malas. Mereka banyak
mengajukan pertanyaan seputar perkembangan sains, selain itu sebagian
santri juga
dapat merespon dengan cepat pertanyaan yang diajukan oleh sang ilmuwan.
Karena respon yang sangat cepat tersebut, membuat sang ilmuwan
memberikan hadiah kepada beberapa santri sebagai ungkapan rasa bangga beliau kepada santri Trensains Tebuireng. Program kuliah umum merupakan program
unggulan SMA Trensains Tebuireng yang dirancang empat kali dalam satu tahun
dengan menghadirkan para ilmuwan, akademisi, dan guru besar baik dari dalam
maupun luar negeri dengan tujuan untuk memberikan wawasan, motivasi, dan inspirasi bagi
santri Trensains.(Abd/).
PROFIL SMA TRENSAINS
TEBUIRENG (PESANTREN SAINS) Oleh: Ust. Abdul Ghofur
A.Profil
SMA
Trensains (Pesantren Sains)
Tebuireng merupakan salah satu unit pendidikan di Pesantren Tebuireng
yang didirikan pada tahun 2014 oleh Dr. (HC). Ir. KH.
Salahuddin Wahid (Pengasuh Pesantren
Tebuireng) hasil kerja sama dengan KH. Agus Purwanto, D.Sc penggagas
konsep Pesantren Sains (Trensains) yang sekaligus ilmuwan di bidang
fisika
teoritik dari ITS Surabaya.
Pesantren sains (Trensains) adalah sebuah
konsep pesantren yangdisintesakan dengan Sekolah
Menengah Umum yang bertujuan
untuk mengkaji sains kealaman secara mendalam, baik melalui pembelajaran, penelitihan ilmiah maupun percobaan-percobaan
ilmiah yang mengacu pada ayat-ayat kauniyah.
Trensains (Pesantren Sains) adalah konsep
sekolah yang tidak menggabungkan materi Pesantren dengan ilmu umum sebagaimana
pesantren modern. Trensains mengambil kekhususan pada pemahaman Al Qur'an, Al Hadist , dan Sains
kealaman (natural science) serta interaksinya.
Poin terakhir, interaksi antara agama dan sains merupakan materi khas Trensains
yang tidak ada pada pesantren modern.
SMA
Trensains Tebuireng merupakan lembaga
pendidikan yang mengimplementasikan pemikiran
(gagasan) KH. Agus Purwanto, D.Sc dalam
wacana perkembangan islamisasi ilmu kontemporer dengan menempatkan
ayat-ayat al
Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan (epistemologi ilmu). Sedangkan
pemgembangan kurikulum SMA Trensains diarahkan untuk memfasilitasi
gagasan tersebut pada tataran implementasi, serta diarahkan untuk
mewujudkan
amanat undang-undang sebagimana yang tercantum dalam Undang-undang Nomor
20
tahun 2003.
Tenaga pendidik SMA Trensains Tebuireng
terdiri dari lulusan strata satu (S-1) dan magister
(S-2) yang mayoritas berasal dari PTN (Perguruan Tinggi Negeri), semua tenaga pendidik tersebut mendapatkan bimbingan langsung dari penggagas Trensains yaitu KH. Agus Purwanto, D.Sc Alumni
Universitas Hirosima Jepang yang sekaligus ilmuwan bidang Fisika Teoritik dari Institut Teknologi
Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, sedangkan pada bidang pengembangan pembelajaran, seluruh tenaga pendidik SMA Trensains
Tebuireng mendapatkan bimbingan langsung dari Konsultan Ahli bidang
kurikulum yaitu Prof.
Dr. H. Suyono, M.Pd. dekan Fakultas
MIPA Universitas Negeri Surabaya.
B.Tujuan
Secara
umum bahwa tujuan pelaksananaan pendidikan di SMA Trensains
Tebuireng yaitu meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlaq mulia, serta keterampilan untuk hidup
mandiri, serta para santri diharapkan dapat mengikuti pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan
nasional, namun secara lebih rinci SMA Trensains memiliki tujuan khusus
sebagai
berikut:
Meningkatkan wawasan para santrimelalui pengkajian yang mendalam, penelitian ilmiah, dan percobaan-percobaanilmiah.
Meningkatkan ketrampilan para santri dalam bidang bahasa, pemanfaatan ilmu
fisika, kimia, biologi, astronomi, dan sebagainya, dalam rangka memahami dan
membuka rahasia-rahasia alam semesta.
Meneguhkan sikap akan kemaharajaan Allah SWT yang telah menciptakan alam
semesta beserta seluruh isinya melalui pendekatan fisika, kimia, biologi dan
ilmu pengetahuan lainnya, sehingga para santri paham dengan benar bahwa Allah SWT
menciptakan segala sesuatu tanpa sia-sia, seluruh makluk bermanfaat bagi yang
lain dan merupakan sinergitas yang sangat harmonis dan padu.
C.Kurikulum
Kurikulum SMA Trensains
Tebuireng yang selanjutnya disebut “kurikulum
semesta” merupakan unifikasi dari kurikulum nasional, kurikulum muatan kearifan
pesantren sains (MKPS), dan kurikulum
internasional (Cambridge Curriculum).
Kurikulum Semesta merupakan kurikulum yang dikembangkan oleh tim pengembang
kurikulum SMA Trensains Tebuireng bersama penggagas Trensains dan Tim pengembang
kurikulum dari FMIPA UNESA. Secara umum
bahwa kurikulum semesta merupakan hasil adapt-adop dari ketiga kurikulum
tersebut, dimana kurikulum semesta
menitikberatkan pada pemahaman al Qur’an pada setiap aktivitas pembelajarannya.
Kompisisi mata pelajaran pada
kurikulum semesta yang diterapkan di SMA Trensains terdiri dari dari tiga
kelompok yaitu kelompok mata pelajaran utama, kelompok mata pelajaran tool of trensains, dan kelompok mata
pelajaran additional sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut
ini:
Gambar 1 Komposisis mata pelajaran pada kurikulum
semesta SMA
Trensains Tebuireng
Mata pelajaran utama merupakan mata
pelajaran yang disesuaikan dengan kurikulum nasional yang berlaku (sesuai
peraturan perundang-undangan) yang diadaptasi dan diadopsikan dengan gagasan
besar konsep Trensains, sedangkan
kelompok mata pelajaran tool of trensains yang kemudian disebut mata pelajaran muatan
pesantren sains (MPKPS) antara lain:
a.Al
Qur’an dan Sains (ALS) yang memuat
tauhid asas sains, sains dan problem ketuhanan, agama dan sains, serta
perbandingan sains islam dan sains barat.
b.Filsafat
sains
c.Astrofisika
d.ilmu
falaq
e.Ulumul
Qur’an dan hadist
f.Tafsir
ayat-ayat kauniyah
g.bahasa
arab
h.ushulul
Fiqh
Kelompok mata pelajaran additional merupakan kelompok mata pelajran CIE (Cambridge International Examination) yang
akan distandarisasi melalui standar internasional dengan tujuan untuk menyelenggarakan
pendidikan nasional berwawasan global. Adapun mata pelajaran pada kelompok ini
yaitu:
a.Mathematics
b.Physics
c.Biology
d.Chemistry
e.English
Komposisi mata pelajaran Kurikulum Semesta sebagaimana diatas, dirancang sedemikian rupa sehingga santri
diharapkan mampu menguasai tool ilmu
dasar seperti Bahasa Arab, Ulumul Qur’an, Ulumul Hadist, Filsafat dasar, dan
kedepan dihapakan mampu menjembatani fungsi Trensains yaitu 1) menyiapkan
tenaga peneliti ilmiah profesinal dengan berbagai macam disiplin ilmu
pengetahuan, 2) menyiapkan tenaga
peneliti ilmiah professional sebagai wahana untuk mengungkap rahasia yang ada
dalam ayat-ayat kauniyah, mengembangkan bidang penelitian ilmiah.
D.Profil
Lulusan
Profil lulusan Trensains
tebuireng antara lain:
1.Fasih
membaca Al Qur’an dengan hafalan
beberapa ayat-ayat pilihan (kauniyah),
2.Lancar
berbicara dalam bahasa inggris dan memiliki skor TOEFL,
3.Lancar
berbicara dan membaca Teks Arab,
4.Menguasai
sains dan memahami interaksi antara agam dan sains.
Selain itu SMA
Trensains Tebuireng memproyeksikan para alumnusnya sebagai ilmuwan sains
kealaman, teknolog, dan dokter yang mempunyai basis al Qur’an yang kokoh.
Begini admin, suatu ketika perjalanan
pulang dan saya sempatkan shalat Jum’at di masjid pinggir jalan. Ketika
khutbah Jum’at masih disampaikan terlihat kotak infak dijalankan kepada
para jamaah. Saya pernah dengar menjalankan kotak tersebut saat khutbah
berlangsung hukumnya tidak boleh, apa benar admin? Terimakasih.
Fath al Muhammad (Jombang)
Wa’alaikumsalam Wr. Wb
Terima kasih kepada penanya. Semoga
Allah Swt senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita
semua. Amiin. Adapun ulasan jawaban pertanyaan tersebut sebagai berikut;
Khutbah Jum’at merupakan salah satu
syarat sah penyelenggaraan shalat Jum’at seperti halnya terdapat 40
orang ahli Jum’at. Dalam Khutbah Jum’at sendiri juga terdapat
rukun-rukun khutbah, misalnya membaca hamdalah, membaca shalawat Nabi
Muhammad SAW. dan lain-lain. Lalu, bagaimana ketika khutbah sedang
berlangsung para jama’ah menjalankan kotak infak?
Bagi para jama’ah ketika khutbah sedang
berlangsung dianjurkan menghadap ke arah kiblat, memperhatikan dan
mendengarkan khutbah dengan sungguh-sungguh. Keterangan ini dipaparkan
dalam kitab Shahih Muslim juz 1 halaman 377 sebagai berikut;
“Barangsiapa berwudu, lalu
memperbagus (menyempurnakan) wudunya, kemudian mendatangi shalat Jum’at
dan dilanjutkan mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan
diberikan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan pada hari itu sampai
dengan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya.
Barangsiapa bermain-main krikil, maka sia-sialah Jum’atnya (kesalahan
yang dicela).” (HR. Muslim)
Dalam
syarhnya Imam Nawawi menjelaskan bahwa pencegahan memegang
(bermain-main) krikil dan lainnya merupakan salah satu perbuatan yang sembrono/sia-sia
dalam keadaan khutbah. Selain itu juga terdapat isyarat untuk
menghadapkan hati dan anggota badan saat sedang khutbah Jum’at. (Hadis
ini tergolong hadis hasan shahih)
Dalam pandangan Syaikh Sulaiman bin Umar bin Manshur al Ujaili al Azhari al Jamal di kitab khasyiyat al Jamal ala minhaj juz
2 halaman 36 bahwa melakukan segala sesuatu yang dapat memalingkan dari
dzikir dan mendengar khutbah hukumnya makruh. Dengan demikian, dalam
persoalan menjalankan kotak amal dapat dikategorikan sebagai illat tersebut. Sebagaimana redaksi di bawah ini:
“Dimakruhkan menjalankan di antara
shaf-shaf untuk meminta dan memutarkan teko, mendekatkan teko untuk
menyuguhkan air dan membagikan kertas-kertas serta shadaqah kepadanya,
karena itu semua menyebabkan manusia lalai dari dzikir dan mendengarkan
khutbah.
Karena makruh, maka seyogyanya untuk
dicarikan alternatif lain. Kalau masih bisa dicarikan alternatif dengan
efektifitas dan kondusifitas yang lebih baik, kenapa tidak? Langkah
alternatifnya bisa dengan meletakkan kotak amal di setiap pintu masuk
masjid, sehingga orang yang ingin bersedakah bisa langsung memasukkannya
baik sebelum khutbah dimulai maupun setelahnya. Semoga bermanfaat. Wallahu ‘Alam bis showab.
*Mahasantri Ma’had Aly Tebuireng dan penggerak Bahtsul Masail di Tebuireng
Hakikat bertemu adalah untuk berpisah.
Berpisah tak selamanya menjadi simbol akhir sebuah hubungan. Berpisah
tak selamanya lara. Kadang kala berpisah menjadi satu kepastian yang
dapat mengubah sifat seseorang agar lebih dewasa dalam menyikapi
keadaan. Seperti perpisahan yang dialami oleh seorang anak dengan orang
tuanya. Gadis kecil nan lugu ini gemar bercerita pada buku harian. Tiap
sendu dan peluh, Ia wujudkan dengan tulisan. Keseluruhan tulisannya
penuh dengan perasaan. Namanya Ziyadatul Ilmi, yang biasa dipanggil
Ziya. Sudah tiga hari Ia tinggal di pesantren yang jauh dari kota
kelahirannya.
Di bawah terik matahari yang menjulurkan
cahaya hangatnya masuk ke dalam pesantren, wajah Ziya yang berhias
jilbab kuning kepodang terlihat gelisah. Ia tidak sedang menggerutu,
tidak juga membisu. Bertahun-tahun Ia hidup bersama Ayah dan Ibunya
tanpa kekurangan apapun. Tak ayal jika beberapa hari ini Ia menangis
sendu.
Setelah lulus Sekolah Dasar, orang tua
Ziya memutuskan untuk mengirim putri sulungnya ini ke pesantren salaf di
kota Gresik, sebab sudah saatnya Ziya belajar memaknai hidup secara
mandiri. Selain itu, orang tua Ziya juga ingin agar kelak Ziya terbekali
oleh ilmu-ilmu agama. Dengan demikian Ia tak akan terjerumus dalam
kemaksiatan yang kian merajalela. Ziya tak bisa mengelak keputusan orang
tuanya. Ia sadar bahwa ini demi kebaikannya sendiri. Bersandang ridho, maka berangkatlah Ziya ke pesantren ditemani orang tuanya.
“Nak, cepat keluarkan bajumu dari dalam
tas. Ini lemarimu,” pinta Ibu Ziya. Ziya bergegas melaksanakan perintah
Ibunya sembari memandang sebuah kotak berbentuk persegi yang ukurannya
hanya dapat memuat buku dan empat potong baju. Inilah lemari kecil
seadanya untuk para santri baru seperti Ziya. Beberapa menit kemudian
sang Ibu keluar menghampiri suaminya yang sedari tadi menunggu di ruang
tunggu khusus pengunjung lelaki. Sementara Ziya merapikan barang-barang
keperluannya di kamar.
“Bu, apa Ziya sudah selesai
beres-beresnya? Kalau sudah, ayo pulang, Bu! Kasihan anak-anak yang
menunggu kita di rumah,” pinta Ayah Ziya dengan nada merajuk.
“Iyah, Pak. Sebentar lagi kusuruh Ziya keluar untuk segera menemui kita,” Sahut ibu Ziya.
Dari kejauhan terlihat Ziya berjalan
lambat menghampiri orang tuanya. Hati kecil Ziya tak ingin berpisah,
namun Ia juga tak ingin mengecewakan orang tua yang selama dua belas
tahun ini merawat dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Ziya pun
berusaha membiaskan perasaan sedih di raut wajahnya agar tak terlihat
merah merona. Ziya mencium lembut tangan orang tuanya sebagai petanda
mereka akan segera meninggalkan Ziya. Sebelum itu Ibu Ziya mengeluarkan
selembar uang dari dompet lalu memberikannya pada Ziya. Ziya tertegun
dan terdiam. Ia ingin menangis saja. Hebatnya Ziya, Ia tak sampai hati
meneteskan air mata di depan orang tuanya. Demikian agar mereka tak
merasa iba dan haru pada Ziya. Sesungguhnya, setiap tetes air mata yang
Ziya tahan bukan karena nominal uang yang diperoleh dari Ibunya. Hanya
saja Ziya tak ingin perpisahan yang sudah pasti meninggalkan rindu pada
orang tuanya ini ditukar dengan uang.
***
Langit semakin gelap. Perlahan bintang
yang bersanding dengan rembulan tak kuasa memancarkan cahaya. Awan hitam
menggumpal. Cuaca mendung. Hujan pun turun mengguyur lapangan
pesantren. Meski begitu, derasnya hujan tak dapat menandingi riuh suara
santri bersenandung imrithi. Warna-warni jilbab berbaris rapi memenuhi
mushala pesantren malam itu. Tak disangka, di sudut mushala paling
depan, Ziya nampak khusyu’ dengan imrithi yang dipegangnya. Sebelum
mengawali hafalan, bibirnya selalu berkecamuk lirih membaca Al-Fatihah
yang dikhususkan pada Nabi SAW, Syaikh Syarifuddin Yahya Al-Imrithi yang
merupakan pengarang nadzmul imrithi, guru, dan juga orang tuanya. Meski
Ziya tak pernah unggul di kelas, hanya satu yang Ia harapkan, Ilman nafi’ah.
Semenjak rasa rindu pada orang tuanya
mengalir deras, Ziya mulai berpikir tegas dan bertekad keras untuk
membahagiakan orang tuanya. Sekalipun setelah beberapa bulan tinggal di
pesantren, Ziya merasa belum ada perkembangan signifikan dalam dirinya.
Terbukti bahwa selama ini belum ada satu pun pelajaran pesantren yang
dapat Ia pahami. Terlebih dalam ilmu nahwu yang merupakan salah satu
ilmu tata bahasa arab sebagai dasar membaca kitab kuning bagi santri
pemula. Di pesantren para santri dituntut menghafal dan memahami 254
nadzam imrithi yang di dalamnya terkandung materi dasar membaca kitab
kuning.
Sejak dulu, Ziya jago dalam menghafal.
Ingatannya sangat kuat. Di tengah padatnya kegiatan pesantren, hanya
dengan waktu enam bulan Ia dapat mengkhatamkan hafalan dari seluruh
nadzam tersebut dengan lancar. Sayang, kelebihan itu terlampau kurang di
hadapan asatidz jika Ziya tetap saja tak mampu memahami nadzam yang
telah dihafalkannya. Hingga pernah sekali, seorang teman sengaja
mencelanya.
“Kalaupun hafal seluruh nadzam sampai ke
akar-akarnya tanpa paham apa maksud yang terkandung, seperti halnya
menanam tumbuhan dan memberi pupuk, tapi jika tak pernah menyiramnya
sama saja bohong. Jika begini terus, kukira kau tak akan dapat memetik
bunga ataupun buahnya, Ziya,” sindir Nisak, teman sekelas sekaligus
teman karib Ziya yang berhasil meraih peringkat tertinggi saat itu.
Bagai belati penghujam ulu hati, ucapan
itu nyaris merentas seluruh harapan dan menyisakan kenistaan. Ziya sudah
tak kepalang tanggung sakit hatinya pada Nisak yang sudah dianggap
seperti saudara sendiri. Bukan motivasi yang Ia dapat dari temannya.
Ziya berusaha lapang dada menerima segala apa yang ada dalam dirinya
sebab Ia tak ingin menaruh dendam dan benci terhadap teman karibnya itu.
Ziya hanya melempar senyum pada Nisak. Demi kenyamanan pesantren, Ia
tak ingin beradu mulut membantah ucapan yang kiranya tak patut
disampaikan.
***
Hari demi hari semangat Ziya semakin
membara seiring dengan terpilihnya Ia menjadi kandidat peserta seleksi
membaca kitab se Kabupaten Gresik. Ziya tak menyangka bahwa pihak
asatidz mempercayakan amanah padanya yang tidak semua santri dapat
mengemban.
“Ziya, kemari!” Ustadz Rosyad selaku wali kelas Ziya memanggilnya di ruang guru.
“Ada apa njenengan memanggil saya, Ustadz?” Tanya Ziya setelah mengetuk pintu dan memasuki ruang guru.
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, duduklah!”
“Iya, Ustadz,”
“Begini, akhir-akhir ini kuperhatikan
kemampuanmu memahami nahwu semakin meningkat. Kalau kau tidak keberatan,
apa kau mau membimbing teman-temanmu yang nilainya masih dibawa
standard?”
“Iya, insya Allah saya akan berusaha membimbing mereka semampu saya, Ustadz,”
“Satu hal yang harus kau tahu. Kurang
lebih dua bulan lagi akan ada seleksi membaca kitab se Kabupaten Gresik.
Peserta yang lolos akan dikirim untuk musabaqoh tingkat provinsi nanti.
Berdasarkan hasil rapat dengan kepala madrasah, kau dan Nisak ditunjuk
untuk menjadi peserta mewakili pesantren ini,” Ustadz Rosyad menambahi.
Keresahan yang dulu pernah Ia
khawatirkan merupakan kesempatan Ziya untuk mencari pengalaman setelah
sekian lama Ia berusaha, belajar, dan bersabar. Tanpa berpikir panjang,
Ziya bersedia menerima keputusan ustadz. Ia tak ingin menolak dengan
alasan apapun meski Ia harus bersaing dengan Nisak yang lebih unggul dan
pandai di kelas. Sebab baginya, menolak sama saja mengecewakan.
Mengecewakan guru juga termasuk mengecewakan orang tuanya. Lantas Ziya
berencana untuk tidak memberitahukan hal ini pada orang tuanya. Ia takut
jikalau nanti keberuntungan tak berpihak padanya dan sudah pasti tak
akan membuat bahagia orang tuanya.
***
Di waktu yang berbeda, Ziya memancarkan
wajah berseri di balik kerudung putih sembari menyongsong hari penuh
percaya diri dan mengutarakan segenap isi hati pada Ilahi. Ia duduk di
hadapan para juri setelah master of ceremony menyebut nama
indahnya dengan tegas dan hati-hati. Dengan mudah, Ziya dapat menjawab
seluruh pertanyaan juri. Sama halnya Nisak. Nilai mereka sebanding,
lebih tinggi dari peserta yang lain. Sehingga keduanya terpilih menjadi
peserta yang akan dikirim untuk musabaqoh tingkat provinsi mewakili
Kabupaten Gresik.
Jantung berdetak lebih kencang
mengiringi harapan yang menyeruak dalam pikiran. Ziya berharap usahanya
membuahkan hasil. Sebab ini merupakan salah satu cara membahagiakan
orang tuanya. Meski tak sebanding dengan apa yang telah Ia dapat dari
orang tuanya, setidaknya ada segelintir bahagia memukau di ujung
harapan.
Satu
minggu lagi Ziya dan Nisak diberangkatkan oleh pihak Departemen Agama
Kabupaten Gresik menuju kota Probolinggo, di mana musabaqah tingkat
provinsi diselenggarakan. Berdasarkan informasi dari panitia, seluruh
peserta akan difasilitasi tempat tinggal di asrama Pesantren Nurul
Qodim. Begitu pula dengan ustadz atau ustadzah pendamping.
Satu minggu ini juga Ziya mempersiapkan
diri dengan mengajak Nisak berdiskusi tentang seluruh materi yang akan
dilombakan. Ia juga menghubungi orang tuanya agar tak berkunjung ke
pesantren untuk menjenguk Ziya sementara ini. Sesuai rencana, tetap saja
Ziya tak menceritakan alasan logis pada orang tuanya agar menjadi
kejutan istimewa untuk mereka. Namun satu hal yang tak pernah lupa Ia
sampaikan pada orang tuanya melalui telpon.
“Bu, Ziya baik-baik saja. Doakan Ziya ya, bu. Doa terbaik Ziya harapkan dari ibu dan ayah,”
***
Musabaqah dimulai. Ziya menjawab dan
menjelaskan beberapa pertanyaan juri secara detail dan sistematis. Semua
juri menyimak penjelasan Ziya dengan seksama. Tak ada satu pun jawaban
Ziya yang diragukan oleh juri. Tentunya hal ini menjadi nilai plus yang dapat dipertimbangkan untuk memasuki final.
Lima belas menit setelah menjelaskan,
Ziya menemui Ustadz Rosyad yang sedari tadi berdiri menyaksikan
penampilan Ziya di sudut ruangan.
“Ustadz, maaf jika penampilan saya dalam menjelaskan pertanyaan juri tadi kurang sempurna,”
“Tidak apa-apa. Sudah bagus, kok. Semoga
hasilnya nanti memuaskan. Kita tunggu saja nanti malam saat pengumuman
peserta masuk final dibacakan,” tutur Ustadz Rosyad.
“Iya, Ustadz,”
Malam yang diidamkan oleh seluruh
peserta datang seperti cerahnya surya yang tak tertutup oleh tabir
mendung. Dengan rasa penasaran, Ziya memperhatikan gulungan kertas yang
sedikit demi sedikit dibuka oleh panitia dan mendengarkan pengumuman
yang dibacakan oleh mereka.
Tiba-tiba tangan Ziya bergetar, terlebih
saat panitia menyebut namanya yang tertera dalam daftar peserta masuk
final. Dari enam peserta yang lolos final, Ziya berada di urutan ketiga.
Ia sangat bahagia. Ia tersenyum tipis namun tetap saja ada senja di
pelupuk mata. Tanpa sengaja, air mata bahagia mengalir mengikuti garis
lengkung pipinya. Dari belakang, Nisak menepuk pundak Ziya dan
mengucapkan selamat.
“Selamat dan semoga berhasil, Ziya.
Maafkan aku yang selalu angkuh dan sering meremehkan kemampuanmu. Aku
sadar, roda kehidupan pasti berputar. Tak selamanya unggul adalah juara.
Begitu pun tak selamanya biasa-biasa saja adalah tak bias,”
“Iya, Nisak. Terima kasih banyak. Tak apa, wajar semua manusia pernah mengalami kekhilafan,”
Tiba-tiba mereka berdua dikagetkan oleh kedatangan Ustadz Rosyad.
“Ziya, bersiap-siaplah! Besok pagi final berlangsung,”
Terlepas dari persiapan final, seperti
biasa Ziya menuliskan hari-harinya. Ia merangkai huruf demi huruf hingga
menjadi kata dan untaian kalimat indah. Tidak cukup itu, Ziya juga
membayangkan jika nanti Allah menakdirkannya menjadi juara musabaqah
ini, hal pertama yang akan Ia lakukan saat bersua dengan orang tuanya
adalah memanjakan mereka, meluapkan rindu dalam dada, dan berterima
kasih atas kasih sayang yang telah diberikan sehingga detik ini Ziya
dapat mempersembahkan piala sang juara untuk orang tuanya. Semua yang
dibayangkannya, Ia tulis dalam catatan harian. Kegiatan ini terus
berlangsung setiap hari sesaat menjelang tidur malam.
Tiada hari yang dirasa menjemukan bila
ikhlas bersanding dengan ketulusan. Pada pagi yang tak biasa, Ziya
beranjak menuju gedung musabaqah. Final segera dimulai. Peserta akan
dipanggil satu per satu sesuai urutan abjad nama masing-masing. Yang
pasti Ziya berada di urutan terakhir. Sekali lagi, Ziya menambatkan niat
dalam hati bahwa semua ini untuk sedikit membahagiakan orang tuanya.
Betapapun Ziya sangat bahagia untuk
kesekian kalinya. Usahanya membuahkan hasil. Piala sang juara telah
digenggamnya setelah panitia menyebut satu nama dalam penutupan
musabaqah yang tak lain adalah nama Ziya.
Malam semakin tenteram seiring bulan dan
bintang bersinar terang. Memadu kasih di sekitar langit yang kelam.
Dingin pun mulai mencengkeram. Ziya memutuskan segera berwudu dan
memasuki kamar. Tak seperti malam-malam sebelumnya, tiba-tiba Ziya
merasakan kantuk yang dahsyat setelah menulis semua peristiwa hari ini
dalam catatan hariannya. Ia lalu menarik selimut seraya berdoa.
“Bismikallahumma ahyaa wa bismika amuut,”
Lima belas menit kemudian Nisak menyusul
Ziya, memasuki kamar. Pandangan Nisak tertuju pada catatan harian milik
Ziya yang sedang dalam keadaan terbuka. Dalam hati Nisak, ada rasa
ingin membacanya.
Probolinggo, 29 Juni 2016
Ribuan mimpi kuukir dengan kata.
Bagiku, meski tak begitu indah dibaca, yang terpenting usahaku penuh
makna. Tiada waktu yang kurasa indah bila ku tak bisa membahagiakan
mereka, Ayah dan Ibuku. Aku pernah terjerembab dalam diam. Hingga suatu
ketika diamku berbuah lamunan. Lamunan yang mengantarkanku meraih asa
yang terpendam dalam dada. Sejak saat itu, aku mulai membuka mata,
mengumpulkan kembali semangat yang dulu mereda, dan mantap dalam hati
bahwa aku bisa. Hari ini piala sang juara telah kubawa. Aku sudah tak
sabar menunggu hari esok, di mana aku akan meninggalkan kota ini dan
kembali ke pondok. Besok pagi aku harus menelpon Ibu agar lusa segera
sambang ke pondok. Lalu kan kuceritakan semua peristiwa yang
kurahasiakan dari Ayah dan Ibu. Dan kupersembahkan pula piala dan hadiah
uang ini untuk mereka. Meski nominalnya tak seberapa dibanding dengan
apa yang sudah mereka berikan padaku, setidaknya dengan uang ini aku
bisa sedikit meringankan beban mereka. Dan dengan piala ini, kuharap
akan ada bahagia yang terlintas di raut wajah mereka. Hari ini adalah
hari yang melelahkan. Aku sudah tak kuasa menahan kantuk. Aku harus
istirahat sebab dinginnya malam membuat tubuhku seperti tersayat.
***
Sebelum subuh, Nisak bergegas mengemasi
pakaian dan barang bawaannya. Agaknya Ia keheranan melihat Ziya yang
masih tidur dengan pulas. Padahal, biasanya Ziya bangun lebih dulu
daripada Nisak. Anehnya lagi, Ziya tidur dengan posisi yang sama seperti
pada saat Nisak membaca catatan hariannya malam itu.
“Ziya, ayo bangun! Setelah shalat Subuh,
kita harus berkumpul di halaman. Secepatnya pagi ini kita kembali ke
pondok,” seru Nisak sembari menggoyang-goyangkan kaki Ziya agar segera
bangun.
Berkali-kali Nisak mencoba membangunkan
Ziya, namun tetap tak ada respon dari Ziya. Nisak mulai panik. Ia
khawatir sesuatu terjadi pada Ziya. Sesegera mungkin Nisak menemui
Ustadz Rosyad dan menceritakan keadaan Ziya pagi ini. Tanpa basa-basi,
Ustadz Rosyad meminta Nisak untuk mengantarkannya melihat keadaan Ziya.
Ustadz Rosyad mencoba memeriksa denyut
nadi tangan Ziya. Tiada reaksi. Nisak terkejut dan menangis seketika.
Ustadz Rosyad langsung menghubungi panitia, pihak asatidz yang lain dan
terutama orang tua Ziya.
“Mengapa teman sebaik Ziya begitu cepat
meninggalkanku yang baru saja menyadari akan ketulusannya?” ucap Nisak
dengan nada lirih sambil terisak.
“Sebab Allah sangat menyayanginya, Nisak,” sahut Ustadz Rosyad yang tanpa sengaja mendengar ucapan Nisak.
***
Sehari setelah pemakaman Ziya, Nisak
meminta izin pada pihak keamanan pesantren untuk berkunjung ke rumah
orang tua Ziya. Nisak menjelaskan maksud dan tujuannya. Dan pada
akhirnya pihak keamanan dapat memahami penjelasan Nisak. Ia pun
diizinkan.
Sesampai di rumah orang tua Ziya, Nisak
menceritakan semua peristiwa yang dirahasiakan Ziya pada orang tuanya.
Mulai dari terpilihnya Ziya dalam lomba membaca kitab se Kabupaten
Gresik hingga perjuangan Ziya untuk mendapatkan piala dan uang ini demi
membahagiakan orang tuanya. Tak lupa, Nisak juga menyerahkan sebuah
catatan harian pada orang tua Ziya. Catatan harian yang mengungkap
seluruh mimpi dan asa Ziya yang sekian lama terukir dengan kata dan
terpendam dalam dada.
Penulis adalah Mahasiswa Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya