Tetesan Barokah
Hari itu santri baru sudah datang sebab
besok pondok sudah aktif. Santri baru ditempatkan di lantai satu, di
bawah kamar Cak Jahlun. Kamar mereka terbuat dari kayu, jadi apabila ada
orang berjalan di lantai II akan terdengar langkah kaki dari bawah.
Karena masih baru, banyak dari santri baru tersebut yang masih “mbok-mbok-an”.
Oleh karena itu Kiai Sepuh menugaskan Cak Jahlun untuk menjaga mereka
yang menurutnya paling telaten dan lucu sehingga bisa menghibur mereka.
Karena ta’dzimnya kepada Kiainya tersebut iapun menyanggupinya.
Ia berpikir, siapa tahu dengan menjalankan tugas dari Kiainya ia dapat
barokah tetesan ilmu karena selama ini ia termasuk santri BABLO (Bahlul
bin Blo’on).
Suatu siang ketika ia menemani santri
baru, Cak Jahlun ketiduran. Dalam tidurnya ia bermimpi, melihat Kiai
Sepuh sedang duduk bersila di dalam masjid. Kemudian terdengar beliau
menyebut namanya.
Kiai Sepuh : Cak Jahlun, sini cak
Cak Jahlum : Dalem
Kiai Sepuh : Apakah sampeyan ingin pintar cak?
Cak Jahlum : Enggeh Yai (sambil tanpa berani menatap wajah Kiainya tersebut)
Kiai Sepuh : Saya akan memberikan tetesan barokah kepada sampeyan
Cak Jahlum : Terima kasih Yai
Kiai Sepuh : Buka mulut sampeyan lalu ditelan ya?
Cak Jahlum : Baik Yai” (lantas membuka mulutnya)
Kiai Sepuh lalu memeras sorbannya di
atas mulut Cak Jahlun. Cak Jahlun merasakan cairan hangat tapi agak asin
di mulutnya. Ia agak ragu “Air barokah kok rasanya aneh??,” pikirnya.
Namun karena keinginannya yang kuat untuk mendapatkan tetesan barokah
tanpa berpikir panjang iapun menelannya. Sampai akhirnya ia pun terbagun
dari tidurnya.
Ketika sadar ia melihat rembesan air dari langit-langit kamar yang menetes tepat ke arah mulutnya yang tadi tidur mangap.
Iapun segera bangun dan melihat ke jendela “Tidak hujan, tapi kok ada
rembesan air di dalam kamar, jangan-jangan ini benar-benar air barokah
dari Yai,” guman cak jahlun.
belum hilang rasa bingungnya tiba-tiba dari arah pintu Paijo tergopoh-gopoh sambil membawa ember berisi air.
Cak Jahlun : Ada apa jo??
Paijo : Maaf cak… anu.. anu… saya mau menyucikan kamar cak
Cak Jahlun : Memangnya kenapa??
Paijo : Anu.. anu… tadi saya ngompol di kamar, dan tadi merembes ke bawah.
Cak Jahlun : “!#@##@#$%%^&*)()” [F@R]
No comments:
Post a Comment